Selasa, 11 Oktober 2011

Lockheed Martin F-35 Lightning II Multi-Role Fighter

Deskripsi:

F-35 diumumkan sebagai pemenang kompetisi JSF Departeman Pertahanan AS pada tahun 2001 ketika Lockheed Martin X-35 diputuskan lebih superior dari pada Boeing X-32 (Nyambung dari artikel sebelumnya). Pada 2006, pesawat ini diberi nama dengan Lighning II untuk menghormati pesawat Lockheed P-38 Lightning dan English Electric Lightning yang sukses dan hebat di masa lalu.

Tujuan F-35 adalah untuk menghasilkan tiga varian pesawat tempur multi-peran berbeda yang menggunakan airframe umum sebesar 70% dan 90% untuk mengurangi biaya produksi dan perawatan. JSF adalah program bersama AS dan UK, dan beberapa partner internasional yang berpartisipasi pada usaha pengembangan. Konsumen primer yang meminta spesifikasi desain untuk F-35 adalah US Air Force, US Navy, US Marine Corps, UK Royal Air Force, dan UK Royal Navy. Keseluruhan desain dibuat oleh Lookheed dengan Northrop Grumman dan BAE Systems sebagai partner, menyerupai desai F-22, tetapi setiap varian F-35 "dirancang" (is tailored) spesifik sesuai dengan kebutuhan operator.

Model paling simpel dan murah adalah F-35A versi takeoff dan pendaratan konvensonal (CTOL= conventional takeoff and landing) berdasarkan pada X-35A. Dibuat terutama untuk AU AS, tetapi kemungkinan juga akan diekspor ke beberapa negara. Partner level II adalah Italia dan Belanda dan Level III termasuk Australia, Kanada, Denmark, Norwegia dan Turki. Singapura dan Israel juga merupakan partisipan penjualan produk ini. Varian CTOL F-35 akan dioptimalkan untuk tugas penyerangan dengan kemampuan terbatas udara-ke-udara untuk melengkapi F-15 dan F-22.

AL AS membutuhkan sebagaian besar kemampuan yang sama pada varian F-35C berdasarkan model X-35C. Model ini dibuat untuk mendukung F-18E/F dan memeberikan AL pesawat tempur "stealth" pertama. Bagaimanapun, F-35C dimodifikasi untuk mengatasi kebutuhan jarak takeoff dan pendaratan yang lebih sempit. Modifikasi yang paling nyata dari varian ini adalah sayap yang lebih lebar (35%) yang memungkinkan kapasitas bahan bakar yang lebih besar dan menghasilkan area sayap yang lebih besar untuk meningkatkan daya angkat pada kecepatan rendah. Perubahan lain pada versi F-35C termasuk sirip (fin) dan permukan elevator yang lebih besar, penambahan "aileron" (kemudi guling) ke "flaperon" pada sayap, penambahan permukaan kontrol, sebuah sistem kontrol yang sudah dimodifikasi, roda pendaratan yang sudah diperkuat, palang luncur ketapel pada roda kembar pendaratan, pengait kabel pendaratan dan mekanisme pelipatan sayap.

Mungkin, varian F-35 yang paling kompleks, model short/vertical takeoff and landing (STOVL) F-35B yang berdasarkan X-35B. Model ini digunakan untuk menggantikan AV-8B dan GR.5/7 Harrier II yang menua seperti halnya Harrier dan Harrier Laut yang dioperasikan oleh Marinir AS, AU UK dan AL UK. Varian F-35B mempunyai "ducted lift fan" yang berada pada sebuah "enlarged spine" tepat diburitan kokpit. Kipas ini mengambil tempat sebuah tangki bahan bakar yang dibawa ke dalam model F-35 yang lain dan digunakan untuk menghasilkan keseluruhan daya angkat untuk penerbangan vertikal.

Sialnya, kompleksitas model STOVL F-35 juga disebabkan oleh masalah pengembangan pendting dari Program JSF. Desain awal F-35B terbukti terlalu berat dan program ditunda selama lebih dari setahun, sehingga para teknisi berjuang untuk menghasilkan performa maksimal dan ekonomis. Solusi terakhir diadopsikan dengan cara mengurangi ukuran ruang senjata internal jika dibandingkan dengan model F-35 yang lain. Sementara varian CTOL dan kapal induk (F-35C) dapat membawa 2000 lb senjata secara internal, senjata sterbesar yang dapat dibawa oleh F-35B secara internal adalah 1000lb, GBU-32 JDAM. Ekor vertikal pada F-35B juga diperpendek untuk mengurangi berat.

Desain JSF teah menjadi perhatian terbedar pada konsep dan affordabilitas senjata canggih. Salah satu fitur yang paling canggih pada model Lightning II adalah "core processor" terintegrasi yang menyatukan informasi dari semua sensor pesawat, pandangan terkoordinasi (coordinated view) pada medan perang.

Di antara sensor-sensor ini terdapat radar active electronically scanned array (AESA) dengan mode mapping radar aperture (lobang kamera) sintetik untuk menghasilkan kemampuan pencarian dan targeting yang jauh lebih presisi bagi pilot dari pada teknologi yang ada pada pesawat tempur sekarang. F-35 juga dilengkapi dengan sebuah sistem infrared search and track (IRST) untuk pertempuran udara-ke-udara sementara untuk fitur pertempuran udara-ke-darat canggih termasuk sebuah electro-optical targeting system (EOTS) dengan sebuah imager forward-looking infrared (FLIR), sebuah laser targeting, sebuah laser spot tracker dan sebuah kamera CCD TV. Software canggih yang dimiliki F-35 mampu untuk menganalisis informasi yang dihasilkan sensor menggunakan sistem automatic target recognition and classification (ATRC) untuk mengidentifikasi target spesifik.

Hal canggih lain yang ada pada Lightning II termasuk sebuah sistem pengenalan suara/kata-kata yang mendeteksi perintah yang diucapkan pilot dan dapat mengoperasikan bermacam-macam sistem tanpa harus memencet tombol maupun saklar. Sementara "stealth" juga ditekankan dengan penggunakan ruang senjata internal dan teknik pembentukan observable rendah (low obervable shaping techniques), pengorbanan telah dilakukan untuk mengurangi biaya produksi dan memudahkan perawatan. Hasilnya, F-35 tidak terlalu "stealth" jika dibandingkan dengan F-22 atau B-2.

Selama fase demonstrasi dan pengembangan program saat ini, 14 pesawat F-35 sudah dibuat untuk melakukan ujicoba penerbangan mengawali produksi yang akan dilakukan. Pesawat-pesawat test Lightning II ini termasuk 5 model CTOL, 4 model CV (kapal induk) dan 5 model STOVL. Sebagai tambahan 8 artikel test darat juga akan dibuat untuk test statis, test drop, dan evaluasi jejak radar. Produksi awal kecil akan dimulai pada tahun 2008.

Pesanan F-35 masih dalam perdebatan, tetapi rencana saat ini dari US dan UK adalah membeli sekitar 2.600 pesawat. AU AS sebenarnya berencana untuk membeli 2.036 pesawat F-35A, etapi dikurangi menjadi 1.763 pada 1997. Dan saat ini mungkin akan terjadi pengurangan lagi menjadi sekitar 1.000-1.300 pesawat. Untuk pesanan F-35B sekirar 250 untuk misi pendukung udara jarak dekat. Pengurangan harga dan peningkatan stabilitas program STOVL harus dilakukan, jika tidak pemesanan mungkin akan dibatalkan.

AL dan Marinir AS juga mengurangi pesanan mereka. Marinir pada awalnya memesan 642 buah F-35B, sementara AL 300 buah F-35C. Pada 1997, pesanan ini berkurang menjadi 609 untuk mariner dan 480 untuk AL untuk total 1.089 pesawat F-35. Pada 2004, jumlah totalnya kembali berkurang menjadi 680 pesawat, 350 untuk F-35B dan 330 untuk F-35C. Saat ini belum diputuskan bagaimana pesawat-pesawat tersebut akan dialokasikan, sejak Marinir mungkin akan menerima campuran kedua pesawat itu. Demikian juga, AL UK mungkin akan memisahkan pesanannya antara F-35B dan F-35C, sejak F-35C mempunya potensi untuk digunakan pada kapal induk besar milik UK pada tahun 2010. UK memesan 138, yang tadinya 150 pesawat.

Sebagai tambahan dari pesanan AS dan UK, terdapat potensi penjualan ekspor untuk lebih dari 2.000 F-35. Partner internasional yang sekarang terlibat dalam program mempunyai rencana untuk memesan 600 pesawat. Italia tertarik untuk memesan sampai 131 pesawat, Australia dan Turki masing-masing 100 pesawat, Belanda 85, Kanada 60, dan Denmark & Norwegia mungkin akan memebeli masing-masing 48. Tidak satupun dari negara-negara ini yang telah memesan secara resmi, tetapi program F-35 berusaha agar partner internasionalnya berkomitmen untuk memesan sesegera mungkin. Meyakinkan partner mungkin akan mengalami kesulitan, karena adanya penundaan yang meningkatkan harga dan menunda "service entry" dari 2011 ke 2013. Penundaan ini mungkin membuat partner internasional membeli pesawat pesaing F-35 seperti Gripen dan Eurofighter Typhoon yang sudah dalam fase produksi missal. Norwegia sudah mengancam untuk keluar dari program karana kekhawatiran "workshare" dan keikutsertaan Israel ditunda untuk beberapa bulan dalam rangka pembalasan kemungkinan transfer teknologi ke China. Dengan mengabaikan hal di atas, penjualan ekspor akan menjadi kuat dan produksi F-35 akan berakhir minimal hingga 2030.









SPESIFIKASI: (masih dapat berubah)

HISTORY:
First Flight
-(X-35A) 24 October 2000
-(X-35B) 23 June 2001
-(X-35C) 16 December 2000
-(F-35A) 15 December 2006
-(F-35B) expected 2007
Service Entry
-(F-35A) planned for about 2013
-(F-35B) planned for about 2014
-(F-35C) planned for about 2014

CREW: one: pilot

ESTIMATED COST:
-(F-35A) $45 million [2004$]
-(F-35B) $60 million [2004$]
-(F-35C) $55 million [2004$]

AIRFOIL SECTIONS:
Wing Root unknown
Wing Tip unknown

DIMENSIONS:
Length
-(F-35A) 50.5 ft (15.4 m)
-(F-35B) 50.5 ft (15.4 m)
-(F-35C) 50.8 ft (15.5 m)
Wingspan
-(F-35A) 35.0 ft (10.7 m)
-(F-35B) 35.0 ft (10.7 m)
-(F-35C) 43.0 ft (13.1 m)
-(F-35C) 29.83 ft (9.1 m) terlipat
Height
-(F-35A) 15.0 ft (4.6 m)
-(F-35B) 15.0 ft (4.6 m) (?)
-(F-35C) 15.5 ft (4.7 m)
Wing Area
-(F-35A) 460 ft² (42.7 m²)
-(F-35B) 460 ft² (42.7 m²)
-(F-35C) 620 ft² (57.6 m²)
Canard Area : not applicable

WEIGHTS:
Empty
-(F-35A) about 22,500 lb (9,980 kg)
-(F-35B) about 23,500 lb (10,660 kg)
-(F-35C) about 24,000 lb (10,885 kg)
Normal Takeoff: unknown
Max Takeoff: about 50,000 lb (22,680 kg)
Fuel Capacity
internal:
-(F-35A) 18,500 lb (8,390 kg)
-(F-35B) 13,325 lb (6,045 kg)
-(F-35C) 19,625 lb (8,900 kg)
external: unknown
Max Payload
-(F-35A) 13,000 lb (5,895 kg)
-(F-35B) 11,000 lb (4,990 kg)
-(F-35C) 17,000 lb (7,710 kg)

Mesin:
-Powerplant (F-35A/C) one Pratt & Whitney F135 turbofan; (F-35B) one Pratt & Whitney F135 turbofan and one Rolls-Royce/Allison shaft-driven lift-fan
-Thrust (PW) about 35,000 lb (155 kN); (RR) about 18,000 lb (80 kN)

PERFORMANCE:
Max Level Speed
- at altitude: at least Mach 1.5
- at sea level: unknown
- Initial Climb Rate unknown
- Service Ceiling unknown
- Range: (F-35B) 1,080 nm (2,000 km); (F-35C) 1,620 nm (3,000 km);
Endurance: unknown
g-Limits : unknown

ARMAMENT:
Gun: (F-35A) one 25-mm GAU-12 cannon; (F-35B) one external 25-mm GAU-12 gun pod; (F-35C) one external 25-mm GAU-12 gun pod
Stations: four hardpoints in two internal weapon bays plus six external hardpoints
Air-to-Air Missile : (internal) AIM-120C AMRAAM, AIM-132 ASRAAM; (external) AIM-9X Sidewinder, AIM-120B/C AMRAAM
Air-to-Surface Missile: (internal) AGM-154 JSOW, Brimstone; (external) AGM-65 Maverick, AGM-88 HARM, AGM-158 JASSM, Storm Shadow
Bomb: (internal) up to two GBU-12 Paveway laser-guided, up to two GBU-31/32/38 JDAM, up to two CBU-87/89 cluster, up to two CBU-103/104/105 WCMD; (external) GBU-10/12/16/24 Paveway laser-guided, GBU-31 JDAM, Mk 82/83/84 GP, CBU-99/100 Rockeye II cluster
Other : various transport pods

VARIAN
JSF: Joint Strike Fighter designation originally given to the F-35 program
JCA: Joint Combat Aircraft designation for the F-35 program used by the United Kingdom
X-35: Varian demonstrator Pesawat Tempur yang digunakan untuk test penerbangan dan untuk validasi teknologi yang digunakan pada F-35.
F-35A: Pesawat temput conventional takeoff (CTOL) multi-peran yang didasarkan pada model X-35A, tetapi bodi pesawat sedikit diperpanjang dan lebar permukaan ekor dimodifikasi. Dibuat untuk AU AS dan dilengkapi dengan senapan internal, sensor inframerah, dan sebuah laser designator. USAF berencana untuk membeli 1.763 pesawat, tetapi pada 2004 dikurangi
F-35B: Pesawat tempur short takeoff and vertical landing (STOVL) multi-peran yang berdasarkan pada model X-35B awalnya dibuat untuk Marinir AS, UK Royal Navy, dan UK Royal Air Force. Dilengkapi dengan fan pengangkat yang terletak dalam "enlarged spine" di belakang kokpit, sebuah senapan eksternal, ruang senjata internal yang lebih kecil. Marinir AS berencana membeli 350 pesawat, sementara UK sekitar 138.
F-35C: Pesawat tempur varian kapal induk (CV) multi-peran berdasar pada model X-35C dan mirip dengan F-35A tetepi mempunyai sayap yang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas bahan bakar ditambah dengan ekor horizontal dan permukaan kontrol yang lebih lebar untuk performa pendaratan kecepatan-rendah yang lebih baik, struktur dan roda pendaratan yang diperkuat untuk pendaratan pada kapal induk, dan pembuangan meriam internal dengan tujuan untuk penambahan pod senapan opsional pada "centerline station". AL berencana memesan 330 buah.
F-35D (?): Model yang diajukan ke USAF, mirip dengan F-35B tetepi menekankan operasi short-takeoff and landing (STOL) daripada STOVL. Akan mempunyai sistem propulsi (mesin) yang direvisi berdasarkan pada mesin F136General Electric dan menggunakan sayap F-35C yang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas bahan bakar dan jarak tempuh, juga dilengkapi dengan senapan internal dan sebuah "probe" pengisian bahan bakar a la AU US. USAF pada awalnya berminat memesan 200 buah, tetapi akhirnya dibatalkan karena meningkatnya biaya produksi F-35B.
EA-35 : Proposal Lockheed Martin untuk sebuah varian pesawat tempur elektronik dua tempat duduk. Tetapi dibatalkan.

KNOWN OPERATORS:
-United Kingdom (Royal Air Force)
-United Kingdom (Royal Navy)
-United States (US Air Force)
-United States (US Marine Corps)
-United States (US Navy)
Negara-negara berikut diharapkan membeli F-35:
-Australia (Royal Australian Air Force)
-Canada (Canadian Armed Forces, Air Command)
-Denmark, Kongelige Danske Flyvevåbnet (Royal Danish Air Force)
-Israel, Tsvah Haganah le Israel - Heyl Ha'Avir (Israeli Defence Force - Air Force)
-Italy, Aeronautica Militare Italiana (Italian Air Force)
-Netherlands, Koninklijke Luchmacht (Royal Netherlands Air Force)
-Norway, Kongelige Norske Luftforsvaret (Royal Norwegian Air Force)
-Singapore (Republic of Singapore Air Force)
-Turkey, Türk Hava Kuvvetleri (Turkish Air Force)


Diposting sebelumnya pada 26 Mei 2008 di www.bluefame.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes