Tampilkan postingan dengan label Pesawat Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Militer. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2011

EADS CASA C-295



Role: Pesawat Transport/Pesawat Patroli Maritim 
Manufacturer: EADS CASA dan PT DI (untuk wilayah Asia Pasifik)
Penerbangan Pertama: 28 November 1997 
Dikenalkan: 2001 
Status: Aktif 
Pemakai Primer: AU Spanyol, Brazil, Polandia dan Portugis 
Jumlah: 85 
Dikembangkan dari: CN-235 


EADS CASA C-295 adalah pesawat transport militer taktis bermesin turboprop kembar yang diproduksi oleh Airbus Military di Spanyol. C-295 dikembangkan dari pesawat CN-235 yang sudah teruji. Pesawat ini mempunyai badan pesawat yang lebih besar dan mesin baru (2xturboprop PW127G) yang meningkatkan jarak operasional dan payload dibandingkan dengan pesawat taktis CN-235. Pesawat ini dapat melakukan misi taktis dan transpor pendukung logistik, airdrop, evakuasi medis, patroli maritim dan misi kemanusiaan.

Pesawat C-295 operasional pertama dikirimkan ke AU Spanyol pada 2001. Hingga sekarang, Spanyol, Polandia, Brazil, Swiss, Yordania dan UAE telah memesan pesawat C-295. Pesawat transpor C-295 yang berukuran-kecil akan menjadi pelengkap pesawat transport C-130 berukuran-medium.

Empat pesawat C-295 yang dipesan oleh UAE akan melakukan misi patroli maritim. Pada akhir April 2005, EADS CASA dan pemerintah Brazil menandatangani pesanan pembelian untuk 12 C-295 senilai 238 juta Euro untuk menggantikan armada C-115 Buffalo Brazil dan sebagai back-up armada C-130 Hercules yang dioperasikan oleh AU Brazil. C-295 diproduksi untuk Brazil di bawah program CL-X dengan pengiriman pesawat pertama pada 23 Oktober 2006.

Pada 4 Mei 2006, AU Finlandia mengumumkan keputusan dipilihnya C-295 sebagai pesawat transport taktis generasi barunya. Kebutuhan awal Finlandia adalah dua C-295 ditambah kemungkinan penambahan lima unit lagi untuk menggantikan armada Fokker 27 milik mereka.

Pada 18 Oktober 2007, AL Chili membeli 3 pesawat survey maritim C-295 dengan opsi tambahan 5 unit lagi. Pesawat ini akan digunakan untuk melakukan survey area maritim nasional dan untuk penjaga keselamatan manusia di lautan.

13 Mei 2009, Republik Ceko memesan empat pesawat transport militer C-295 dari Airbus Military. Pengirimannya diharapkan mulai dilakukan pada akhir 2009 dan selesai sebelum akhir 2010.

29 Oktober 2010, AU Mesir memesan 3 pesawat C-295 dengan pengiriman paling lambat pada tahun 2011

Pada 4 Agustus 2011, Ghana memesan 2 pesawat transport taktis C-295 dengan pengiriman paling lambat awal 2012.

Pada 26 Oktober 2011, PT Dirgantara Indonesia (DI) menandatangani kerja sama dengan Airbus Military Industry (AMI) untuk memproduksi pesawat CN-295, di kompleks PTDI, Bandung. Penandatanganan nota kesepahaman yang disaksikan Presiden Yudhoyono adalah kerja sama produksi, operasional, dan pemasaran antara PT DI dan Airbus Military. PT DI menjadi satu-satunya produsen sekaligus agen tunggal pemasaran pesawat CN-295 di kawasan Asia Pasifik. Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan $325 juta untuk pengadaan pesawat transport bagi TNI Angkatan Udara dengan pilihan CN-295. Diharapkan, pada semester I tahun 2014, akan selesai paling sedikit sembilan buah CN-295.


Desain dan Pengembangan

C-295 adalah pengembangan lebih lanjut dari pesawat Spanyol-Indonesia CASA CN-235 yang sukses secara komersial dengan badan pesawat yang lebih le bar, payload dengan kapasitas 50% lebih banyak dan mesin turboprop baru PW127G. C-295 melakukan penerbangan pertama pada 1998. Pesanan pertama datang dari AU Spanyol.

Pesawat diproduksi dan dirakit di fasilitas Airbus Military, di Bandara Udara San Pablo, Sevilla, Spanyol. Khusu untuk wilayah Asia Pasifik, PT DI akan memproduksi dan merakitnya di kompleks PT DI, Bandung, Indonesia

Sebagai pesawat transport taktis, C-295 menawarkan manuverabilitas tinggi dan kualitas tinggi untuk penerbangan altitude rendah. Sebagai tambahan, pesawat ini telah teruji dalam berbagai macam deployment seperti peluncuran rakit SAR, peralatan darurat dan parasut.

C-295 melepas Flare (foto: www.airbusmilitary.com)

C-295 dilengkapi dengan peralatan proteksi diri seperti kokpit berlapis baja, radar warning receiver (RWR), missile approach warning system (MAWS), laser warning receiver (LWR) and chaff/flares dispensers.

Underwing station milik C-295 (foto: www.airbusmilitary.com)

C-295 memiliki hingga enam underwing store stations untuk pemasangan torpedo, misil anti-permukaan, ranjau, depth charges, pod pengintaian/jamming dan search lights.

Pesawat Patroli Maritim C-295 termasuk Fully Integrated Tactical System (FITS) milik Airbus Military untuk kontrol misi yang mengintegrasi berbagai macam sensor dan menenyediakan interface dengan sistem navigasi dan komunikasi taktis.

Versi ASW dari FITS telah menyelesaikan evaluasi operasional ekstensif, termasuk berpatisipasi dalam misi anti-submarine dan anti-surface (ASW/ASuW) pada latihan NATO, membuktikan maturitas dan kapasitas sistem misi MPA/ASW milik C-295.

Dengan selesainya sistem misi (mission system), C-295 dapat melakukan berbagai variasi misi survey:
- Anti-submarine Warfare (ASW)
- Anti-surface Warfare (ASuW)
- Signals intelligence (SIGINT)
- Imagery intelligence (IMINT)
- Survey di ZEE, lalu lintas maritim dan imigrasi ilegal.
- Penegakan hukum di lautan
- Search and rescue (SAR)

Meningkatnya permintaan para operator akan common platform (commonalitas) yang dapat dipakai untuk berbagai versi, disebabkan pentingnya keuntungan dan penghematan. Keuntungannya adalah spare part dan peralatan support darat (ground support equipment (GSE) yang sama, awak dan personel perawatan dapat dipakai bersama, pelatihan yang sama dll.

AU Portugal memilih C-295 sebagai common platform untuk memperbarui pesawat transport dan surveynya. Total 12 C-295 dioperasikan untuk melakukan misi transport militer, survey maritim, SAR, kontrol polusi maritim, dan fotografi udara. Hal ini membuktikan kemampuan dan versatilitas C-295.

Ramp belakang milik C-295 dapat mengangkut palet 2,24 x 2,74m, dan juga beban lain tanpa harus melepas konsol-konsol operator. Hal ini memfasilitasi support untuk unit lain, dan pengangkutan spare part dan peralatan darat untuk deployment C-295.

Palletised Mission System (foto: www.airbusmilitary.com)


Alternatif lain adalah dengan penggunaan palletised mission systems, seperti pada pesawat C-235 milik penjaga pantai AS dan C-295 milik AU Portugal. Solusi ini meningkatkan fleksibilitas operasional armada pesawat C-295.


Sejarah Operasional

C-295 saat ini sudah beroperasi dengan Angkatan Bersenjata dari 11 Negara. Pada 4 Agustus 2011, 85 C-295 sudah dikontrak, 75 diantaranya aktif, dan 1 unit hilang dalam kecelakaan.

C-295 menjadi kandidat untuk Joint Cargo Aircraft (JCA) AB AS/AU AS yang akhirnya dimenangkan oleh L-3 Communications/Alenia team pada 13 Juni 2007. C-295 dianggap mempunyai resiko yang lebih tinggi oleh AB AS, karena pemakaian mode operasional baru yang harus memenuhi kebutuhan altitude dan jarak jangkau.

C-295 juga merupakan kandidat untuk mengantikan armada DHC-5 Buffalo milik AB Kanada dan Antonov An-32 milik AU Peru.

Bersama C-27J Spartan, pesawat ini menjadi kandidat untuk menggantikan armada Fokker F27 milik TNI AU. Yang akhirnya pada 26 Oktober 2011 perjanjian pembelian sebanyak 9 pesawat ditandatangani oleh kedua belah pihak. Untuk produksinya sendiri akan dilaksanakan oleh PT DI di Bandung.


Kecelakaan

Mirosławiec air accident: pada 23 Januari 2008, sebuah pesawat C-295 milik AU Polandia terbang dari Warsawa melalui Powidz dan Krzesiny ke Miroslawiec, mengalami kecelakaan selama mendekati 12th Air Base di dekat Miroslawiec. Seluruh awak dan penumpang sebanyak 20 orang dinyatakan tewas. Setelah kecelakaan seluruh pesawat C-295 milik AU Polandia dilarang terbang (grounded). Menteri Pertahanan Polandia, Bogdan Klich, memecat lima personel AU setelah investigasi kecelakaan, yang menyimpulkan adanya beberapa kesalahan yang menyebabkan kecelakaan tersebut.

Setelah investigasi, penyebab utama kecelakaan adalah hilangnya kewaspadaan spatial dan situasional awak pesawat secara tidak sengaja selama proses pendaratan dengan kondisi cuaca buruk, dengan awan rendah dan visibilitas rendah. Beberapa penyebab sekunder juga ditemukan selama investigasi, termasuk kurangnya skil kontroler lalu lintas udara dan kesalahan dalam mengarahkan dan mengatur pendaratan.


Varian

AEW&C (foto: www.aviationnews.eu)

C-295M – Versi transport militer. Kapasitas 73 pasukan, 48 paratroop, 27 strechers, lima palet 2,24 x 2,74m atau tiga kendaraan ringan.

C-295MPA/Persuader – versi patroli maritim dan anti-submarine warfare. Memiliki hingga 6 hardpoint.

AEW&C – Prototype versi airborne early warning and control dengan radar dome 360 derajat. Radar AESA dikembangkan oleh IAI dan memiliki sistem IFF terintergasi.


Operator

Algeria – memiliki enam C-295 untuk transport dan patroli militer
Brazil – memiliki 12 pesawat, dan diberi nama sebagai C-105A Amazonas, untuk menggantikan DHC-5/C-115 Buffalo.
Chili – membeli 3 C-295 MPA untuk menggantikan P-3ACH Orion. Chili memiliki opsi untuk menambah 5 pesawat lagi untuk menggantikan armada yang berisi 8 EMB-111 Bandeirante dan 3 C-212A.
Kolombia – memesan 4 C-295, pengiriman terakhir telah dilakukan pada April 2009
Republik Ceko – memesan 4 C-295M untuk menggantikan Antonov An-26. Pengiriman terakhir dilakukan pada akhir 2010.
Mesir – memesan 3 pesawat untuk transport taktis dan logistik, pengirimannya dimulai pada 2011.
Finlandia mengoperasikan 2 C-295M dan telah memesan tambahan satu pesawat (pesawat ini akan dilengkai dengan sistem ESM/ELINT yang didesain oleh Lockheed Martin, pengirimannya dilakukan pada 2013. Finlandia memiliki opsi untuk penambahan 4 pesawat lagi.
Ghana – memesan 2 C-295 dengan pengiriman yang akan dimulai pada 2012 untuk menggantikan Fokker F-27.
Indonesia – telah memesain 9 pesawat untuk transport taktis dan logistik. Produksi dan perakitannya akan dilakukan di PT Dirgantara Indonesia, perusahaan yang sama yang telah membuat CN-235
Yordania – memiliki 2 pesawat
Meksiko – AL Meksiko mengoperasikan 2 C-295. Dua selanjutnya dikirim pada akhir 2010. AU Meksiko telah membeli 5 pesawat. Dua pesawat pertama dikirim pada musim panas 2010.
Polandia – memiliki 12 pesawat untuk menggantikan Antonov An-26. Satu di antaranya mengalami kecelakaan pada 23 januari 2008. 11 di antaranya masih beroperasi di Kraków-Balice Air Base.
Portugal – memiliki 12 C-295, termasuk 5 C-295MPA Persuader untuk menggantikan C-212 Aviocar.
Spanyol – memiliki 13 pesawat (diberi nama T.21)



Spesifikasi (C-295M)

Karakteristik Umum
Awak: dua
Kapasitas: 71 pasukan
Payload: 9.250 kg
Panjang: 24,5 m
Bentang Sayap: 25,81m
Tinggi: 8,60m
Wing area: 59 m²
Berat Maksimal Lepas Landas: 23.200 kg
Mesin: 2 mesin Pratt & Whitney Canada PW127G Hamilton Standard 586-F (berbilah enam), masing-masing menghasilkan 1.927 kW (2,645 tenaga kuda)
Biaya Program: US $1,2 Miliar
Harga per-unit: US $22 juta

Performa
Kecepatan Maksimum: 576 km/jam (311 knot)
Kecepatan Jelajah (Cruise Speed): 480 km/jam (260 knot)
Jarak Operasional: 4.300 km
Jarak dengan payload Penuh: 1.333 km
Jarak Ferry: 5.220 km
Ketinggian Maksimal: 7.620 m
Jarak Lepas Landas (take-off run): 670 m
Jarak Pendaratan (landing run): 320 m



Sumber:
en.wikipedia.org
www.airbusmilitary.com
www.deagel.com
www.antaranews.com
nasional.kontan.co.id
www.fajar.co.id

Senin, 24 Oktober 2011

Sukhoi Su-7 (II), 1955




Selama reorganisasi industri pesawat Soviet pada November 1949, Pavel O Sukhoi's OKB dibubarkan, tetapi dibentuk kembali setelah tiga setengah tahin pada Mei 1953, untuk mengerjakan proyek pengembangan dua pesawat tempur. Proyek ini kemudian diberi nama sebagai S-1 dan T-3, huruf awal pada nama merupakan singkatan dari strelovidnyi (arrowhead) dan treugolnyi (triangular) yang merupakan konfigurasi sayap (sebagai contoh: sayap tertekuk ke belakang dan delta). Kedua pesawat tersebut diddesain untuk memakai mesin turbojet Lyulka AL-7 (TRD-31), tetapi dengan komonalitas desain yang terbatas.

S-1 disebut sebagai pesawat tempur “frontal”, sebuah pesawat perang superioritas udara taktis yang ditujukan untuk beroperasi di sekitar garis depan. Pesawat ini merupakan pesawat Soviet pertama yang memiliki fitur ekor tipe-slab dan sebuah translating nose cone. Pesawat ini terbang pada 8 September 1955, dan awalnya dipasangi mesin AL-7 dengan tenaga 6500 kg. Mesin ini diganti dengan AL-7F yang bertenaga 9500 kg, yang pada akhirnya pesawat ini membuat rekor kecepatan nasional dengan kecepatan 2170 km/jam atau 2.04 Mach pada April 1956.

S1 memiliki sayap tertekuk ke belakang 60°. Persenjataannya terdiri dari tiga kanon 30 mm dan memiliki retractable ventral tray untuk 32 roket spin-stabilised 57mm

Pesawat ini melakukan demo terbang di atas Tushino pada 24 Juni 1956, tetapi purwarupa ini mengalami kecelakaan pada 21 November di tahun yang sama.

Purwarupa kedua, S-2, memasukkan beberapa perbaikan aerodinamis. Purwarupa ini ikut dalam program uji hingga beberapa waktu dan walaupun tidak berhasil dalam uji Negara hingga musim Gugur 1957, pengerjaan untuk pre-seri tetap berjalan serentak. Dibuat dalam jumlah yang cukup untuk melengkapi resimen dalam keperluan evaluasi, pesawat ini mulai beroperasi pada awal 1959 di Timur-jauh Soviet.

Pesawat yang memiliki peran utama udara-ke-udara ini akhirnya diberi nama sebagai Su-7. Penyebutan ini sudah pernah dipakai pada pesawat tempur eksperimental di tahun 1944. Perubahan kebutuhan menyebabkan pengembangan selanjutnya didedikasikan untuk pesawat serang-darat (ground attack) di bawah nama Su-7B (S-22).


Specification

MODEL: Su-7 (pre-series)
BERAT:
    Berat lepas-landas: 9423 kg

DIMENSI
    Bentang Sayap: 9.15 m
    Panjang: 16.72 m

PERFORMA
    Kecepatan Maks:1827 km/jam


Jumat, 21 Oktober 2011

Sukhoi Su-15 (I), 1949



Gambar dari Aviastar.org


Sukhoi Su-15 atau Samolet P diluncurkan di Novosibirsk pada 25 Oktober 1948. Pesawat ini terbang pertama kali pada Januari 1949. Pesawat ini merupakan interseptor semua-cuaca kursi-tunggal.

Su-15 bermesin dua turbojet RD-45F 2.270 kg yang dipasang secara tandem. Mesin depan mempunyai pengeluaran di bawah bagian tengah badan pesawat, sementara mesin belakang mempunyai pengeluaran pada lubang di ekor ekstrim pesawat.

Kokpit bertekanan milik pilot berada di sisi kiri untuk keseimbangan. Sementara di bagian kanan terdapat lubang untuk intake udara ke mesin belakang. Intake udara tersebut berada di bawah radome yang digunakan untuk mengakomodasi radar AI Izumrud (Emerald).

Pesawat ini mempunyai sayap spar-tunggal yang tertekuk kebelakang 35°. Pesawat ini dipersenjatai dengan dua kanon 37mm.

Pada saat penerbangannya yang ke 39, 3 Juni 1949, Su-15 mengalami masalah dan tidak dapat dikontrol sehingga pilot keluar dari pesawat (ejecting). Pada saat itu, purwarupa kedua belum selesai dibuat dan kemudian pengembangan pesawat ini dihentikan.



3-View dari Aviastar.org


SPESIFIKASI:

BERAT
Berat Lepas Landas: 10437 kg
Berat Kosong: 7409 kg

DIMENSI
Bentang Sayap: 12.87 m
Panjang: 15.44 m
Luas Sayap: 36 m2

PERFORMA
Kecepatan Maksimal: 1032 km/jam
Jarak Jangkau: 1600km



Foto dari Aviastar.org



Diterjemahkan secara bebas dari: www.aviastar.org

Senin, 17 Oktober 2011

Sukhoi Su-11, 1961


Foto Su-11, dari www.airwar.ru


Su-11 dianggap sebagai pesawat tempur yang sangat potensial. Pesawat ini didesain berdasarkan pengembangan lebih lanjut pesawat Su-9 yang terbatas dan inferior, yang dilakukan secara paralel dengan pengembangan pesawat tempur-bomber Su-7. Su-11 atau yang dikenal dengan nama lain Samolet LK diharapkan menjadi pesawat Soviet pertama yang memakai mesin turbojet desain dalam negeri. Sukhoi mulai mengembangkan Su-11 dengan purwarupa yang disebut T-74 dan pertama kali terbang pada 1961. Pesawat ini memakai mesin yang lebih bertenaga dari Su-9, sistem radar baru dan persenjataan yang lebih baik.

Badan pesawat ini pada dasarnya mirip dengan Su-9 yang berbentuk seperti cerutu, dengan beberapa revisi struktural untuk mengakomodasi mesin yang lebih besar, mesin turbojet Lyulka Al-7F-1 yang menghasilkan tenaga 9,8 kN (2.210 lbf) dengan afterburning sistem untuk meningkatkan kecepatan naik dan performa pada ketinggian (dan untuk mengantisipasi bertambahnya berat pesawat). Sayap Su-11 sama dengan Su-9 yang berbentuk delta, ekor pesawat yang tertekuk kebelakang dan intake hidung sirkular. Hidung pesawat Su-11 lebih besar untuk menampung set radar “Oryol” yang lebih kuat. Su-11 dapat dibedakan dari Su-9 dengan adanya pipa bahan bakar eksternal yang berada di bagian atas badan pesawat, di belakang kokpit.

Su-11 dipersenjatai dengan misil udara-ke-udara baru, “Anab”, yang merupakan pengganti dari misil “beam-riding” K-5. Su-11 akan dilengkapi dengan dua misil Anab, satu bertipe misil kendali infra merah dan jejak termal, sedang satunya bertipe misil kendali radar. Seperti tipe interseptor pada masanya, pesawat ini tidak dilengkapi dengan senapan (kanon). Tangki bahan bakar tambahan menjadi standar untuk dipasang karena disadari jarak jelajah pesawat ini terbatas tanpanya.

Versi Latih pesawat ini, Su-11U “Maiden” juga dikembangkan. Mirip seperti Su-9U, pesawat ini juga dilengkapi dengan persenjataan dan sistem radar penuh untuk keperluan latihan. Karena penambahan kursi untuk pelatih, kapasitas tangki bahan bakar dikurangi, sehingga pesawat ini tidak layak untuk keperluan tempur.

Produksi Su-11-8M definitif dimulai pada 1962 hingga 1965, setelah sekitar 108 pesawat diproduksi, walaupun dipercaya setidaknya beberapa Su-9 diupgrade ke Su-11. Masalah pengembangan dan kecelakaan mengakibatkan produksi terhambat, hingga 1964, hanya sedikit yang berhasil diproduksi.

Walaupun memiliki radar yang superior, tetapi pesawat ini tetap sangat tergantung pada Ground Control Interception (GCI) untuk mengarahkan pilot ke sasaran. Pesawat ini juga tidak mempunyai kemampuan menghadapi pesawat yang terbang-rendah, dan OKB Sukhoi menganggap Su-11 gagal dan sangat inferior dari Su-15 ‘Flagon”. Akan tetapi beberapa pesawat ini tetap beroperasi hingga 1980an. Su-11 terakhir beroperasi hingga 1983. Tidak ada Su-11 yang beroperasi di luar Uni Soviet. Dan ketika pesawat baru muncul menggantikannya, pesawat ini dijadikan target untuk latihan pertahanan.


Gambar 3-view Su-11, dari www.aviastar.org

Spesifikasi (Su-11-8M)

Karakteristik Umum
 Awak: Satu
 Panjang: 18.29 m
 Bentang Sayap: 8.43 m
 Tinggi: 4.88 m
 Area Sayap: 34 m²
 Berat Kosong: 9,000 kg
 Berat Isi: 13,600 kg
 Mesin: 1 × Lyulka AL-7F-1 turbojet, 96 kN

Performa
 Kecepatan Maksimum: Mach 2.2, 2340 km/h pada ketinggian 11,000 m
 Jarak: Tempur: 500 km, Jelajah: 1.125 km
 Ketinggian Operasional Maksimum: 17,000 m
 Kecepatan Naik: 136.7 m/s
 Wing Loading: 400 kg/m²
 Daya Dorong/Berat: 0.71

Persenjataan
 2 misil udara ke udara R-98 (AA-3 'Anab')


Sumber: 

Minggu, 16 Oktober 2011

Sukhoi S-37 Berkut



S-37 Berkut [Golden Eagle] (Sukhoi) adalah sebuah tes awal (testbed) untuk pengembangan teknologi untuk pesawat generasi mendatang. Dimensi dan berat dasar dari S-37 "Berkut" adalah sama dengan Su-37, walaupun mereka adalah pesawat yang berbeda, sedangkan untuk ekor, hidung dan canopy (langit-langit) sama dengan Su-35. Dua opurwarupa (prototype) pertama sangat jelas mengikuti S-32, dan desain S-37 sebelumnya pernah diaplikasikan ke projek pesawat tempur yang tidak berhubungan untuk pesawat tunggal sayap delta yang lebih kecil yang dibatalkan karena kekurangan dana.

S-37 mempunyai sayap tertekuk ke depan, yang menjanjikan keunggulan di bidang aerodinamis pada kecepatan subsonic dan pada sudut tinggi (high angles of) serangan. Sayap yang tertekuk ke depan ini memungkinkan bertambahnya jarak dan manuverabilitas pada altitude yang tinggi. Pesawat ini mempunyai canard besar yang terpasang di samping saluran udara, dekat dengan ujung depan sayap. Penstabil vertikal dipasang di sebelah luar (sedikit di luar, bukan di dalam seperti dugaan sebelumnya), dan dua buah pintu saluran udara tambahan besar yang terlihat di bagian tengah badan pesawat. Sampa saat ini, belum jelas jenis mesin apa yang dipakai dalam pesawat ini. Dugaan saat ini ada dua mesin yang mungkin dipakai, pertama adalah turbojet D-30F6 yang pada umumnya dipakai pada MiG-31M, sedang yang ke dua (yang digunakan pada prototype kedua) adalah turbojet Ljulka AL-37FU dengan "thrust vectoring". S-m7 adalah sebuah program eksperimental untuk mengembangkan teknologi pesawat generasi kelima, dan semua keputusan pada produksi serial untuk pesawat ini berada di tangan Menteri Pertahanan di masa yang akan datang.




Spesifikasi
Negara: Rusia
Pembuat: Sukhoi
Lebar Sayap: 15,16m – 16,7m
Panjang keseluruhan: 22,2 m – 6,4 m
Tinggi keseluruhan: 6,36m – 6,4m
Berat Kosong: 24.000kg-26.000kg
Berat Max: 34.000kg
Kecepatan max: 2.500 km/jam (1.350 knots)
Kecepatan Max saat "S/L": 1.400 km/jam
Tinggi Max. yang dapat dijangkau: 18.000m
Jarak tempuh max: 1.782 nm (3.300 km)
Jumlah persenjataan/misil: 14; 2 di ujung sayap, 6-8 di bawah sayap, 6-4di bawah badan pesawat.
Misil udara-ke-udara: R-77, R-77PD, R-73, K-74
Misil udara-ke-permukaan: X-29T, X-29L, X-59M, X-31P, X-31A, KAB-500, KAB-150
Kru: satu


Sebelumnya diposting pada 23 Mei 2008 di www.bluefame.com

Kamis, 13 Oktober 2011

HESA Saeqeh (Thunderbolt)




Iranian Aircraft Industries (IACI) telah bergabung dengan Malek Ashtar's Aeronautical Research Center untuk mengembangkan pesawat domestik Iran. Pesawat Saeqeh diharapkan mampu lebih hebat dari pada generasi sebelumnya Azarakhsh. Pesawat tempur ringan Saeqeh diharapkan dapat berperan sebagai pesawat tempur generasi baru dan jet trainer. Pesawat kursi-tunggal dengan mesin kembar ini akan cocok untuk berbagai macam peran udara-ke-udara dan kebutuhan support.

IACI menyebutkan bahwa proyek ini sudah dimulai beberapa tahun yang lalu, tetapi karena biaya besar yang mencapai $400 juta, maka mereka menghadapi banyak kendala. Saeqeh mampu terbang dengan kecepatan 1.7 Mach atau setara 2.083 km/jam dengan berat sekitar 4.700 kg. Kokpit dan sistem avionik pesawat ini kompatibel dengan display dan sistem lain pada pesawat tempur canggih lain termasuk F-15, F-16, MiG-29, Rafale dan Eurofighter. Sistemnya termasuk simulasi skenario tempur, simulasi operasional senjata dan sistem pertahanan diri, sistem perencanaan misi dan kemampuan debriefing. IACI mengharapkan pesawat ini dapat dipasarkan di negara Asia lain.




Specifications for the HESA Saeqeh (Thunderbolt)

Dimensions:
Length: 52.13ft (15.89m)
Width: 26.67ft (8.13m)
Height: 13.12ft (4.00m)
Performance: (About MACH)
Maximum Speed: 1,056mph (1,700kmh; 918kts)
Maximum Range: 1,864miles (3,000km)
Rate-of-Climb: 34,400ft/min (10,485m/min)
Service Ceiling: 52,493ft (16,000m; 9.9miles)

Armament Suite:
ESTIMATED:
1 OR 2 x 20mm internal cannons
At least five external hardpoints (perhaps to include wingtip missile mounts) for various air-to-air, air-to-surface guided or drop munitions including missiles, bombs, rocket pods and possibly fuel droptanks.

Structure:
Accommodation: 1
Hardpoints: 5
Empty Weight:9,700lbs (4,400kg)
Maximum Take-Off Weight:19,842lbs (9,000kg)

Powerplant:
Engine(s): ESTIMATED: 2 x Afterburning turbojet engines.


Sebelumnya diposting pada 13 Agustus 2008 di www.bluefame.com

HESA Azarakhsh (Lightning)




Iran tidak pernah diketahui untuk mengembangkan teknologi untuk pembuatan pesawat tempur maupun tank. Akan tetapi pada April 1997 Brigadir Jenderal Iran Arasteh, kepala deputi Staf Jenderal Angkatan Bersenjata (di bawah Mayor Jenderal Ali Shahbazi) mengklaim bahwa Iran telah berhasil mendisain, membuat dan mengetes pesawat tempur pertamanya, Azaeakhsh (Kilat). Berdasarkan sebuah teori, karena Pesawat tempur F-4 atau F-5 milik Iran mengalami kerusakan dan kurangnya suku cadang, maka Iran mulai mencoba mempelajari berbagai macam pesawt miliknya untuk kemudian mulai membuat pesawat sendiri. Brigadir Jenderal Iran Arasteh menyatakan bahwa produksi masal akan dimulai segera. Secara resmi pemerintah Iran mengumumkan bahwa pada September 1997 Iran sudah mulai melakukan produksi masal pesawat bomber domestik.

Terdapat juga laporan bahwa Iran juga mengembangkan pesawat domestik lain yang disebut dengan Owj (Zenith=Puncak). Organisasi Industri Pertahanan Iran juga mengumumkan rencana produksi pesawat baling-baling Parastu (Burung Layang-Layang) dan pesawat jet trainer Dorna (Lark=Burung Penyanyi), serta pengembangan sebuah helikopter. Pada April 1997, Komandan Angkatan Darat Iran, Letnan Jenderal Mohammad Reza Ashtiani mengklaim sebanyaj 14.000 jenis suku cadang pesawat telah diproduksi. Dia menyatakan bahwa dengan produksi itu Iran dapat menghemat sebanyak 30 miliar Real.




Sebelumnya diposting pada 13 Agustus 2008 di www.bluefame.com

AVIOANE J-22 Orao (Eagle)



Orao adalah pesawat tempur mesin kembar, turbojet yang digunakan untuk misi serang baik di depan maupun belakang musuh. Pesawat ini dibuat dalam beberapa versi yaitu satu-kursi (J-22), dua-kursi (NJ-22), pesawat intai satu-kursi (IJ-22) dan pesawat intai dua-kursi (INJ-22), tetapi untuk versi pesawat intai tidak dilengkapi dengan afterburning. Bentuk sayap trapezoid, menekuk ke belakang, rasio ketebalan rendah dengan "pronounced strakes" (sayap hibrid). Sistem propulsinya terdiri dari dua mesin Rolls-Royce tangkai-tunggal, keluarga Viper. Mesinnya terletak berdampingan di bagian belakang bodi pesawat.

Mengikuti kesuksesan industri pesawat Yugoslavia pada 1970an dengan pesawat G-2 Galeb (Camar) dan J-1 Jastreb (Elang), perhatian beralih untuk mendisain pesawat yang lebih up to date untuk menggantikan F-84 Thunderjet untuk mensuport pesawat tempur kecil Jastreb. Romania yang berniat untuk mengganti pesawatnya yang sudah tua MiG-17 akhirnya bergabung dengan Yugoslavia pada 1970 untuk membuat program bernama YUROM (YUgoslavia-ROMania).

Program ini bertujuan untuk membuat pesawat mesin-kembar transonik, yang bertujuan untuk mensuport unit di garis depan dan untuk operasi penyerangan, yang akan mudah dioperasikan dan dirawat. Peran lain yang diharapkan untuk pesawat ini adalah sebagai interseptor untuk menyerang helikopter, pesawat angkut dan bomber. Mesin Vper seri 600 dari Rolls-Royce dipilih untuk pesawat ini.

Purwarupa pesawat ini pertama kali terbang pada 31 Oktober 1974, satu di Yugoslavia dan lainnya di Romania. Pesawat Yugoslavia diberi nama Orao, sedangkan Romania diberi kode IAR-93. Seri produksi pesawat ini diberi kode J-22 dan NJ-22 untuk versi dua-kursi.

Untuk pertahanan diri, pesawat ini dilengkapi dengan misil udara-ke-udara dengan pelacak inframerah yang dipasang pada ujung-ujung sayapnya, yang masing-masing berkapasitas 100kg. Pesawat ii juga dilengkapi dengan laser, antiradar, misil anti-kapal, dan proyektil udara-ke-udara jarak dekat. Persenjataannya termasuk dua barrel-kembar meriam GS-23L 23mm dengan 200 round peluru disetiapnya. Daya angkut maksimum persenjataan pesawat ini adalah 2.800kg.




Specifications

Length: 42 ft 8 in / 13.02 m
Wingspan: 30 ft 6 in / 9.3 m
Height: 14 ft 10 in / 4.52 m
Weight - Empty: 12,676 lb / 5,750 kg
Weight Max T/O: 24,030 lb / 10,900 kg
Max Speed: 702 mph
Range: 712 nm
Powerplant: two Viper Mk 632-47 w/ afterburner
Thrust:
• 8,000 lb
• 10,000 lb w/ afterburner
Armament
• five hardpoints-6,173 lb
• two 23mm twin GSh-23L cannon
• bombs
• rockets


Sebelumnya diposting pada 13 Agustus 2008 di www.bluefame.com

Mitsubishi F-2




Pesawat Mitsubishi F-2 direncanakan sebagai pengganti Mitsubishi F-1 yang menua. Pesawat tempur mesin-tunggal F-2 (FS-X) mempunyai performa yang dapat setara dengan F-16 tetapi biayanya lebih tiga kali lebih mahal dari pada F-16 atau sama dengan F-15.

Pada oktober 1985, Agen Pertahanan mulai mempertimbangkan tiga opsi pengembangan untuk FSX yaitu pengembangan domestik, adopsi dari model domestik yang sudah ada, atau adopsi dari model asing. Akan tetapi agen ini sebenarnya lebih tertarik untuk melakukan pengembangan domestik. Riset dan pengembangan Agen Pertahanan dan Technical Research and Development Institute Jepang mengumumkan bahwa selain mesin, Jepang akan mengembangkan pesawat tempur sendiri dengan biaya sekitar $1 miliar. Akan tetapi pada akhir 1986, setelah konsultasi dan besarnya tekanan dari AS, Jepang mempertimbangkan untuk melakukan perjanjian ko-produksi dengan AS. Dan pada Oktober 1987, Dewan Pertahanan Jepang dan AS melakukan pertemuan resmi di Washington untuk membahas rencana kerjasama proyek re-model F-15 atau F-16.

Pada November 1988, AS dan JEpang setuju untuk melakukan pengembangan bersama pesawat tempur FS-X berdasarkan pesawat F-16 Block 40.

Setelah perjanjian kerjasama terjadi, banyak kritik hebat dari anggota kongres AS yang mengkhawatirkan tentang hilangnya kunci teknologi dan kepemimpinan teknologi AS, resiko komersialisasi Jepang dan kurangnya share proyek untuk AS. Hasilnya, pada 1989 AS meminta pengkajian ulang terhadap perjanjian yang sudah disepakati, melarang transfer teknologi dan AS akan menerima 40% share keuntungan dari pengembangan pesawat ini.

Kontroversi ini meninggalkan ketidakpuasan pada kedua belah pihak dan pelaku industri Jepang, karena pesawat yang didesain secara domestik oleh Jepang (FSX) ini akan jauh lebih superior dari F-16 yang akan dire-desain secara bersama oleh Jepang dan AS, sehingga mempersulit AS untuk melakukan negosiasi ulang. Para pelaku industri mengingatkan AS bahwa perjanjian yang ada sudah menguntungkan bagi AS.

Berbeda dengan perkiraan AS pada awal program bahwa FS-X merupakan modifikasi kecil dari F-16 Block 40, FS-X ternyata menjadi pesawat yang merupakan modifikasi besar dari F-16. Walaupun terlihat sama, FS-X mempunyai ukuran dan berat yang lebih besar dari F-16. FS-X mempunyai sayap yang 25% lebih lebar, bodi pesawat yang lebih panjang, dan ekor vertikal-horizontal lepih panjang. FS-X akan mempunyai mesin yang sama (F110) dengan versi terakhir pesawat F-16. FS-X juga akan dilengkapi dengan lima teknologi yang didefinisikan dalam perjanjian yaitu radar active phased array fire control, sistem tempur elektronik terintegrasi, sistem navigasi/referensi inersial, perangkat komputer misi dan material penyerap gelombang radar. Jepang juga mengembangkan komposit untuk bagian sayap FS-X.Program pengembangan FS-X mencapai produksi purwarupa pada April 1993.




Program FS-X ternyata sangat membantu perkembangan industri aerospace Jepang. Para karyawan proyek ini mendapat pengalaman berharga yang nantinya dapat diaplikasikan pada program pengembangan lain. Dengan membuat perubahan besar dari model F-16, Jepang telah memaksimalkan konsep dan teknologi domestik yang dimiliki, sehingga industri Aerospace mendapatkan peran penting dalam proyek ini. Hasilnya, Jepang akan mengurangi ketergantungannya terhadap suplay dari AS untuk militer Jepang di masa yang akan datang.

Pada 1995, AS dan Pemerintah Jepang percaya bahwa Jepang dapat memproduksi sekitar 50-130 pesawat. Setelah adanya perdebatan untuk mengurangi produksi menjadi 70-80 pesawat, akhirnya kabinet pemerintah menyetujui 130 pesawat F-2 pada Desember 1995. Tetapi akhirnya sekitar akan 200 F-2 diproduksi dan akan dikirim mulai 2000 sampai 2010.

Penerbangan pertama F-2 dilakukan pada 7 Oktober 1995. Kemudian pada tahun yang sama, Pemerintah Jepang menyetujui pemesanan 141 pesawat, tetapi tidak lama kemudian dikurangi menjadi 130, dengan perkiraan waktu mulai beroperasi pada 1999. Akan tetapi karena masalah sruktur pesawat, waktu awal operasionalnya ditunda hingga 2000. Dan karena wacana efisiensi biaya, pesanan dikurangi lagi menjadi 98 pesawat pada 2004.

Pada Oktober 2007, sebuah pesawat F-2B mengalami kecelakaan saat lepas landas dan kemudian terbakar di Landasan Udara Nagoy, ketika sedang dulakukan uji terbang sebelum diserahkan ke JSDF. Kedua pilot uji selamat dari kecelakaan dengan hanya sedikit luka. Kemudian diketahui penyebab kecelakaan itu adalah kesalahan pada sistem kabel.


Foto: F-2 tersapu Tsunami

Pada 12 Maret 2011, 18 pesawat F2 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Matsushima, Prefektur Miyagi, tersapu gelombang tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 9 SR. 18 dari pesawat tersebut tidak diperbaiki dan kemungkinan akan musnahkan/dibuang. Selebihnya, 6 pesawat akan diperbaiki dengan estimasi biaya 80M Yen.

94 pesawat terakhir selesai dibuat dan dikirimkan ke Kementrian Pertahanan Jepang pada 27 September 2011. Selain dikirim ke Pangkalan Udara Matsushima, pesawat juga dikirim ke Lapangan Udara Tsuiki. Pada saat itu, Mitsubishi Heavy Industries (MHI) mengumumkan bahwa produksi F-2 berakhir dan tidak ada lagi F-2 yang akan dibuat oleh mereka.




General characteristics
Crew: 1 (or 2 for the F-2B)
Length: 15.52 m (50 ft 11 in)
Wingspan: 11.13 m (36 ft 6 in)
Height: 4.69 m (15 ft 5 in)
Wing area: 34.84 m² (375 ft²)
Empty weight: 9,527 kg (21,000 lb)
Loaded weight: 15,000 kg (33,000 lb)
Max takeoff weight: 22,100 kg (48,700 lb)
Powerplant: 1 × General Electric F110-GE-129 turbofan
Dry thrust: 76 kN (17,000 lbf)
Thrust with afterburner: 120-125 kN (29,500 lbf)

Performance
Maximum speed: Mach 2.0
Range: 834 km on anti-ship mission (520 miles)
Service ceiling: 18,000 m (59,000 ft)
Wing loading: 430 kg/m² at weight of 15,000 kg (88 lb/ft²)
Thrust/weight: 0.89

Armament
20 mm JM61A1 cannon, plus maximum weapon load of 8,085 kg:
AAMs: AIM-9 Sidewinder, AIM-7 Sparrow, Mitsubishi AAM-3, Mitsubishi AAM-4 (from FY2010)
air-to-ground weapons include: ASM-1 and ASM-2 anti-ship missiles, various free-fall bombs with GCS-1 IIR seeker heads, JDAM
others: J/AAQ-2 FLIR

Avionics
Mitsubishi Active Electronically Scanned Array radar system including J/APG-1


Sebelumnya diposting pada 13 Agustus 2008 di www.bluefame.com

Mitsubishi F1




Pesawat tempur Mitsubishi F1, yang similar dengan pesawat Jaguar, adalah versi tempur dari pesawat T-2 trainer. Kokpit belakang T-2 diubah menjadi tempat bahan bakar. Modifikasi lain termasuk penambahan dua tiang sayap dan tiang bodi pesawat dan penambahan meriam Vulcan 20mm beserta sistem avionik baru. F-1 dapat menyerang pesawat lain dengan jarak yang relatif dekat dan dapat digunakan dalam misi intersepsi dengan membawa misil AIM-9. Total sebanyak 77 pesawat telah dibuat.





Specifications
Type: F-1
Function: attack
Year: 1977
Crew: 1
Engines: 2 * 3300kg Ishikawajima-Harime TF40-801A
Wing Span: 7.88m
Length: 17.66m
Height: 4.39m
Wing Area: 21.18m2
Empty Weight: 6358kg
Max.Weight: 13674kg
Speed: 1700km/h
Ceiling: 15250m
Range: 1130km
Internal Fuel: 3054 kg
Drop Tanks: 833 L drop tank with 659kg of fuel for 126nm range
In-Flight Refueling: No
Payload: 2722kg
Sensors: J/AWG-12 radar, RWR, basic bombsite
Armament:
• Cannon: 1 20mm Vulcan
• Type 80 ASM
• Mk82 500lb bombs
• M117 750lb bombs
• LAU-69 rocket pods
• AAM-1
• AIM-9L


Diposting sebelumnya pada 12 Agustus 2008 di www.bluefame.com

Ching-kuo Indigenous Defense Fighter





Setelah memburuknya hubungan diplomatik antara Washington dan Taipei pada Januari 1979, suplay militer masa depan Taiwan menjadi tanda tanya. Tetapi karena aksi Taiwan Relations Act (TRA) pada awal 1979, Taiwan berhasil membeli peralatan militer dan senjata canggih dari AS.

Taiwan membuat hampir 300 Northrop F-5 di bawah lisensi dari 1974-1986. Dari awal 1980an Taiwan tertarik untuk membeli pesawat tempu AS baru untuk menggantikan Northrop F-5 dan Lockheed F-104 yang menua. AS yang sedang meningkatkan hubungan diplomatis dengan China, menolak permintaan Taiwan untuk membeli F-16, dan memblok pembelian senilai $1miliar untuk 100 F-20 Tigersharks pada Juli 1982. Akhirnya Taiwan memutuskan untuk membuat pesawat domestik sendiri (Indigenous Defense Fighter (IDF)).

Taiwan memproduksi IDF Ching-kuo dengan bantuan dari perusahaan Amerika, yang dipimpin General Dynamics. Proyek ini terdiri dari empat subproyek. Proyek Ying-Yang (bekerjasama dengan General Dynamics) yang membuat airframe, Proyek Yun-han (bekerjasama dengan Hughes Co.) yang mendesain mesin, Proyek Tian-lei (bekerjasama dengan Westinghouse Co.), yang yang bertanggungjawab pada sistem avionik dan Proyek Tian-Chien yang mengembangkan sistem persenjataan.

Mesin kembar IDF similar dengan F-16 tetapi sedikit lebih kecil dan mempunyai jarak tempuh lebih pendek. IDF adalah pesawat hibrid dari tampilan luarnya. Hidung pesawat ini merupakan replika dari F-20A Tigershark, sementara bodi, sayap dan permukaan ekor vertikalnya meniru F-16, serta kokpit, sayap ekor vertikal dan lilitan dekat inlet mesin mirip pesawat Perancis.


IDF lebih hebat dari F-5E pada performa udaranya. IDF dapat berakselerasi lebih baik dari F-104 dan mampu berputar dalam radius yang lebih kecil dari F-5. Pesawat ini dilengkapi dengan empat misil Sidewinder tetapi tanpa tangki bahan bakar eksternal. Mempunyai ketahanan tempur selama tiga menit pada "afterburner" dengan radius tempur 70-90 mil laut. Pesawat ini terutama digunakan untuk pertempuran kontrol udara dan dapat digunakan untuk menembakkan misil "Hsiung Feng"-II ke target di lautan. Sebagian besar pesawat IDF diharapkan dapat dipersenjatai dengan BVR Tien Chien-II (Sky Sword-II) ARAAM.

Pesawat dilengkapi dengan sebuah radar GD-53, yang dikembangkan dari APG-67 yang secara esensial performanya similar. Radar APG-67 menggunakan teknologi Dopler pada band-X dan mempunyai 15 mode operasional, delapan untuk udara-ke-udara dan tuju untuk udara-ke-darat. Radar ini juga dapat beroperasi pada tiga frekuensi repetisi pulsa (pulse repetition frequencies [PRF]) berbeda -- tinggi, medium dan rendah – tergantung pada arah pesawat ke atas, ke bawah atau pada saat sebuah "dogfight" di udara, secara bersamaan.


APG-67



Pada saat pesawat mengarah ke bawah, radius efektif radar adalah 39km, jika mengarah ke atas 57 km. Delapan mode udara-ke-udara adalah sebagai berikut: pencarian dan deteksi jarak pada saat pesawat mengarah ke atas, pencarian dan deteksi jarak pada saat pesawat mengarah ke bawah, deteksi kecepatan, pendeteksian (10 target) dan scanning secara bersamaan, "dogfight", tracking target tunggal, suvey situasi dan continuous-wave indicator interfacing. Tujuh mode udara-ke darat adalah sebagai berikut: topografi velositas gelombang riil, penajam velositas gelombang Doppler, deteksi jarak udara-ke-daratan, indikator target darat bergerak, indikator target darat diam, dan pencari target pada permukaan laut. Pada April 1997, divisi Teknologi Tepat Guna Litton berhasil memperoleh kontrak produksi sebesar $116,2 juta dari Aerospace Industrial Development Corporation Taiwan, ROC, untuk Improved Radar Warning Receivers (IRWR) agar dapat digunakan di pesawat ini.

Walaupun bentuknya yang relatif kecil, ternyata pesawat ini dilengkapi dengan dua mesin besar dengan daya propulsi pendek. Kelemahan fatal pesawat ini adalah kurangnya tenaga mesin dan beratnya body pesawat menyebabkan rentan kecelakaan.


Mesin TFE1042-70


Versi awal IDF mempunyai kecepatan maksimal 1.2 Mach dengan menggunakan mesin yang diproduksi bersama oleh Taiwan dan Allied Signal Garret Engine Division. Mesin TFE1042-70 didesain untuk pesawat tempur ringan untuk menghasilkan performa bagus bagi pesawat dan mengurangi biaya perawatan. Produksi pertama mesin TFE1042-70 dikirim ke Taiwan pada 1992, dan kemudian ITEC mengirim lebih dari 300 mesin untuk IDF. International Turbine Engine Corporation (ITEC) beroperasi bersama dengan Allied Signal Engines dan Aero Industrial Development Corp China. Rencana untuk mengganti mesin lama dengan mesin yang lebih bertenaga dilakukan sejak peresmian pesawat F-16 dan Mirage 2000.

Proyek IDF telah menghadapi banyak masalah sejak dimulainya program ini pada 1980. Akan tetapi, kecanggihan teknis dengan adanya sistem kontrol fly-by-wire dan desain bodi-sayap tergabung dipercaya menjadikan IDF sebagai pesawat tercanggih yang diproduksi oleh China hingga saat ini. Pada 1997 sekitar 60 pesawat sudah dibuat dan sekitar 130 pesawat pada awal 2000an.

Skuadron pertama IDF mulai bergabung dengan AU ROC pada Desember 1994.





General characteristics

Crew: 1-2
Length: 14.21 m (46 ft 7 in)
Wingspan: 9.46 m (31 ft 0 in)
Height: 4.42 m (14 ft 6 in)
Wing area: 24.2 m² (260 ft²)
Empty weight: 6,500 kg (14,300 lb)
Loaded weight: 9,072 kg (20,000 lb)
Max takeoff weight: 12,000 kg (27,000 lb)
Powerplant: 2 × Honeywell F125-70
Dry thrust: 27 kN (6,000 lbf) each
Thrust with afterburner: 42 kN (9,500 lbf) each

PerformanceMaximum speed: Mach 1.8
Range: 1,100 km (600 nmi, 680 mi)
Service ceiling: 16,800 m (55,000 ft)
Rate of climb: m/s (ft/min)

Armament
Guns: 1× 20 mm (0.787 in) M61A1 6-barreled gatling cannon
Missiles:
4× Sky Sword I
4× Sky Sword II
Bombs:
Wan Chien GPS-guided cluster bomb
Avionics
Radar: 1× GD-53 X-band pulse doppler
Effective scanning range:
Look up: 57 kilometres (35 mi)
Look down: 39 km (24 mi)


Diposting sebelumnya pada 12 Agustus 2008 di www.bluefame.com

HF-24 Marut




Pesawat tempur-bomber Hindustan Aeronautics Limited (HAL) HF-24 Marut dibuat di India, berdasarkan sebuah desain dari Kurt Tank, desainer pesawat Focke-Wulf yang dibuat Jerman pada PD II. Marut mempunyai sayap tertekuk kecil dan manuverabilitas hebat. Pesawat ini mempunyai potensial tempur terbatas karena tenaga mesin yang kurang, dan dapat mencapai kecepatan supersonic pada "level flight". Purwarupa-nya terbang pertama kali pada 17 Juni 1961 dan total 147 pesawat dibuat, termasuk 18 pesawat HF-24 Mk 1T dengan dua tempat duduk.




Specifications
Year: 1961
Crew: 1
Engines: 2 * 2200kg HAL/R.R. Orpheus Mk.703
Wing Span: 9.00m
Length: 15.87m
Height: 3.60m
Wing Area: 28m2
Empty Weight: 6195kg
Max. Weight: 10908kg
Speed: 1128km/h
Ceiling: 13750m
Range: 800km
Armament:
- Guns: 4× 30 mm (1.18 in) ADEN cannon
- Hardpoints: 4 with a capacity of 1,800 kg (4,000 lb) (total)
- Rockets: 50× 2.68 in (68 mm) rockets

Sebelumnya diposting pada 8 Agustus 2008 di www.bluefame.com

Hindustan (HAL) Tejas / Light Combat Aircraft (LCA) Light Multi-Role Fighter




DESKRIPSI:

India memulai proyek Light Combat Aircraft (LCA) pada 1983. Secara resmi diberi nama Tejas (Bahasa Sansekerta dari cahaya) pada 2003. Pesawat ini dikembangkan sebagai pesawat ringan dan ekonomis pengganti pesawat MiG-21 milik Au India yang menua. Di bawah petunjuk Aeronautical Development Agency (ADA) India, kontraktor utama Hindustan diberi kewenangan penuh untuk mendisain dan pembuatan LCA. HAL juga bertanggung jawab untuk mengkoordinasi beberapa laboratorium pemerintah, institusi pendidikan, sub-kontraktor.

Hasil dari pengembangan ini adalah desain sayap delta yang mempunyai teknologi modern tingkat lanjut termasuk sistem kontrol fly-by-wire, sistem avionic terintegrasi, penggunaan bahan komposit, dan display "glass cockpit". Fitur canggih lainnya termasuk radar multi-mode, pod pelacakan laser dan sistem FLIR, sistem navigasi "ring laser gyro inertial", deretan alat tempur elektronik komprehensif, dan sistem komunikasi yang resistan jamming.

Sayangnya, program Tejas mengalami banyak penundaan yang menyebabkan lamanya pengembangan sedikitnya satu dekade. Masalah pertama adalah ketika desain telah diselesaikan pada 1990, komisi pemerintah menemukan banyak kekurangan pada area teknologi kritis. Sehingga pemerintah memutuskan untuk membuat dua demonstrator teknologi untuk meyakinkan terselesaikannya masalah teknologi. Pesawat pertama dari demonstrator teknologi ini diselesaikan pada 1995, tetapi kesulitan pada sistem kontrol penerbangan dan pembuatan komponen komposit structural menyebabkan pesawat ini belum dapat terbang.

Masalah besar lainnya adalah pada 1998 ketika tes nuklir India menyebabkan AS memberi sanksi pelarangan penjualan mesin turbofan General Electric F404 kepada India. Sanksi ini juga menyebabkan berhentinya bantuan dari Lockheed Martin dalam pengembangan sistem kontrol penerbangan. India memutuskan untuk melanjutkan program ini kendati banyaknya masalah yang dihadapi dan memutuskan untuk membuat mesin jet sendiri untuk menggantikan F404. Keputusan ini menyebabkan timbulnya masalah lain karena penundaan produksi dan bertambahnya biaya untuk mengembangkan mesin Kaveri baru. Masalah ini semakin diperparah dengan keputusan pembelian kembali mesin F404 tambahan untuk produksi awal Tejas, setelah AS membatalkan sanksinya. Diharapkan mesin Kaveri dapat mulai dipakai pada 2010.

Demonstrator teknologi pertama (TD-1) akhirnya dapat terbang pada 2001. Selanjutnya diikuti dengan TD-2 dan dua pesawat purwarupa (PV-1 and PV-2). Pesawat-pesawat ini digunakan untuk melakukan ujicoba dan menguji teknologi canggih yang akan digunakan pada Tejas. Fase tes kedua telah dimulai pada akhir 2006 dengan ditandai penerbangan pertama pesawat purwarupa produksi PV-3. Tes lain yang telah dilakukan termasuk model angkatan laut (naval) PV-4 dan model trainer PV-5. Tes penerbangan untuk integrasi senjata dilakukan pada awal 2007. Pada 3 Oktober 2011 dilaporkan bahwa Final Operation Clearance (FOC) Tejas ditunda hingga Desember 2013.




HISTORY:
First Flight: (TD-1) 4 January 2001
Service Entry: planned for 2010

CREW: one: pilot

ESTIMATED COST: $21 million

AIRFOIL SECTIONS:
Wing Root: unknown
Wing Tip: unknown

DIMENSIONS:
Length: 43.27 ft (13.20 m)
Wingspan: 26.88 ft (8.20 m)
Height: 14.42 ft (4.40 m)
Wing Area: 412.6 ft² (38.4 m²)
Canard Area: not applicable

WEIGHTS:
Empty: 12,125 lb (5,500 kg)
Normal Takeoff: 18,740 lb (8,500 kg) [clean]
Max Takeoff: 27,560 lb (12,500 kg)
Fuel Capacity: internal: 795 gal (3,000 L); external: 1,055 gal (4,000 L)
Max Payload: 8,820 lb (4,000 kg)

PROPULSION:
Powerplant: (prototypes) one General Electric F404-F2J3 or F404-IN20 turbofan; (production) one GTRE GTX-35VS Kaveri turbofan
Thrust: (F404-F2J3) 18,100 lb (80.50 kN); (F404-IN20) 18,700 lb (83.18 kN); (GTX) 20,200 lb (89.86 kN)

PERFORMANCE:
Max Level Speed: at altitude: 1,195 mph (1,920 km/h) at 36,000 ft (11,000 m), Mach 1.8; at sea level: unknown
Initial Climb Rate: unknown
Service Ceiling: 50,000 ft (15,250 m)
Range: 460 nm (850 km)
g-Limits: +9 / -3.5

ARMAMENT:
Gun: one 23-mm GSh-23 twin-barrel cannon (220 rds)
Stations: eight external hardpoints
Air-to-Air Missile: R-77/AA-12 Adder, R-73/AA-11 Archer, BVRAAM
Air-to-Surface Missile: up to two conventional cruise missiles, anti-ship missiles
Bomb: laser-guided bombs, conventional bombs, cluster bombs
Other: rocket pods

KNOWN VARIANTS:
LCA-TD-1: First technology demonstrator equipped with a General Electric F404-F2J3 turbofan
LCA-TD-2: Second technology demonstrator
LCA-PV-1 and PV-2: Single-seat prototype vehicles
LCA-PV-3: Single-seat prototype vehicle that should be at or very close to production form, equipped with in-flight refueling capability
LCA-PV-4: Single-seat prototype vehicle for a naval variant
LCA-PV-5: Two-seat trainer prototype vehicle
Tejas: Production model for the Indian Air Force
Trainer: Two-seat trainer model
Navy model: A navalized version with strengthened landing gear and a redesigned forward fuselage to be used aboard a future Indian aircraft carrier
MCA: Planned Medium Combat Aircraft derived from the LCA, supposed to possess greater stealth characteristics and thrust-vectoring capability

KNOWN COMBAT RECORD: not yet in service

KNOWN OPERATORS:
India, Bharatiya Vayu Sena (Indian Air Force)
India (Indian Naval Air Squadron)


Sebelumnya diposting pada 8 Agustus 2008 di www.bluefame.com

AERO L-29 Delfin dan


Foto: Kiri L-29 Delfin; Kanan L-39 Albatros


Pada awal 1960an USSR mengusahakan sebuah jet trainer dasar. Desain telah disampaikan dari beberapa negara satelit. Ceko memenangkannya dengan desain L-29, dan produksi pertama pesawat ini dikirim pada April 1963. Sebagai tambahan untuk model standar, dua model lain telah diproduksi dalam jumlah kecil, yaitu L-29R yang mempunyai kamera pada hidung dan tempat penyimpanan/senjata di bawah sayap, serta L-29A yang merupakan versi aerobic kursi tunggal.

Secara keseluruhan, sekitar 3.600 pesawat telah dibuat oleh Aero's Vodochody di dekat Praha, dan dihentikan pada 1974. Sekitar 3.000 pesawat dikirimkan untuk Uni Soviet; selebihnya untuk konsumen lainnya termasuk AU Ceko, Republik Demokratik Jerman, Romania, Suriah, Bulgaria, Hungaria, Mesir, Indonesia, Nigeria, Uganda, Irak.

Pesawat ini merupakan desain baru secara total, posisi tempat duduk tandem dengan sayap lurus yang merupakan desain terbaik untuk pesawat berkecepatan sub-sonik. Sayap pesawat mampu membawa dua drop-tanks 150 kg, 100 kg bom, pod-pod yang masing-masing berisi empat roket 67mm atau dua pod senapan mesin 7,62mm. Kecepatan maksimal dengan persenjataan di bawah sayap sekitar 0,7 Mach dan 0,75 Mach jika tanpa persenjataan bawah sayap. Sementara G-Limit sekitar +8 dengan berat pesawat 3.500 kg. Bodi pesawat ini memiliki mesin tunggal dengan air-intake pada masing-masing pangkal sayap. Mesinnya adalah turbojet Motorlet M-701c-500 dengan tenaga dorong 1.960 lbs. M-701 adalah generasi awal mesin jet yang mempunyai kompresor sentrifugal fase tunggal yang dimotori oleh flow turbin axial fase tunggal. RPM maksimum mesin ini adalah 15.300 yang menghasilkan suara seperti peluit. Mesin ini mempunyai 7 ruang pembakaran yang di pasang diantara mesin.

L-39 Albatross adalah proyek kelanjutan dari L-29 Delfin/Maya yang merupakan jet trainer dasar dan tingkat lanjut, pertama kali terbang pada 4 November 1968, kemudian diikuti dengan sepuluj pesawat pre-produksi. Pesawat ini menjadi pesawat trainer standar untuk Uni Soviet dan Cekoslovakia dari 1971 sampai 1973. Lebih dari 1650 pesawat diproduksi dan menjadi standar anggota Pakta Warsawa. Pemakai pesawat ini antara lain Afghanistan, Algeria, Bulgaria, Cuba, Ethiopia, Iraq, Libya, Nigeria, Romania, Syria, and Vietnam.

Selama beberapa taun, beberapa versi lain juga dibuat, yaitu:
• L 39C: Standard aircraft for basic and advanced training
• L 39V: Single-seat aircraft for target towing. Used by Czech and East German Air Forces. Only eight built.
• L 39ZO: Training and multipurpose light attack aircraft with underfuselage gun pod and four hardpoints und reinforced wing. first flown on 25. August 1975.
• L 39ZA: Trainer and light attack aircraft with impoved avionics. First flown in September 1976. This version remains on offer.
• L 39ZA/ART: Version for Thailand with avionics supplied by Elbit of Israel.


L-29 Three View


L-39 Three View


Specifications

Span: 31 ft, .5 in
Length: 39 ft, 9 in
Height: 15 ft, 7 in
Weight: 7617 lbs
Armament: 23 mm GSh-23 two barrelled cannon and various combination of bombs
Engines: One 16.87 kN Ivenko AI-25 TL turbofan
Crew: 2
Maximum Speed: 466 mph.
Cruising Speed: 379 mph
Range: 1087 miles
Service Ceiling: 36,100 ft


Sebelumnya dipoeting pada 7 Agustus 2008 di www.bluefame.com

FMA IA 58 Pucará




Diberi nama berdasarkan jajaran tebing batu di Amerika Selatan, awal pesawat Pucara diketahui pada pertengahan 1960-an ketika Argentina's Fabrica Militar de Aviones (Military Aircraft Factory) telah meminta untuk mengembangkan sebuah pesawat tempur baru yang dapat melakukan misi COIN, CAS dan pengintaian. Penerbangan pertama purwarupa AX-2 Delfin yang bertenaga sepasang turbo props Garrett TPE331-U-303 dilakukan pada 20 Agustus 1969. Purwarupa selanjutnya bermesin turboprop French Turbom Eca Astazou XVIG.

Pucara didesain untuk beroperasi pada medan berat dan landasan yang belum dipersiapkan dengan support darat minimal, sebuah desain umpan balik dari Perang Falklands 1982. Operasi dapat dilakukan pada malam hari, tetapi tidak pada kondisi cuaca buruk, dan penargetan senjata ke musuh dilakukan secara visual oleh pilot dengan penggunaan visibilitas arah depan yang sangat bagus karena bentuk hidung Pucara yang mengarah ke bawah.

IA 58A standar produksi pertama kali terbang pada 8 November 1974, dan dikirim ke AU Argentina setahun sesudahnya.

Pengembangan pesawat ini menghasilkan model IA 58B, upgrade utama pada sistem avionic dan penambahan dua meriam 30mm untuk melengkapi meriam 20mm-nya.

Akan tetapi, produksi total tidaklah terlalu banyak walau diekspor ke Uruguay, Sri Lanka dan Colombia. Total produksi tidak sampai 20 Pesawat.



Specifications
Country of Origin: Argentina
Builder: Fabrica Militar de Aviones
Role: -
Similar Aircraft: -
Wing Span: 14.5m ( 47 ft 7 in )
Length: 15.25 m ( 46ft 9in)
Height: 5.36m ( 17ft 7 in )
Weight: empty, equipped 4,037 kg ( 8,900 lb ); MTOW 6,800 kg ( 14,991 lb )
Engine: two 988 shp Turbomeca Astazou XVIG turboprops
Maximum speed: 500 km/h ( 311 mph ) at 3,000 m ( 9,840 ft )
Cruising speed: 430 km/h ( 267 mph )
Range: -
Service Ceiling: 9,700 m ( 31, 825 ft )
Armament: two Hispano HS804 20mm cannon each with 270 rpg; four FN Browning 7.62 mm cannon with 900 rpg; up to 1500 kg ( 3,307lb ) of free fall bombs, napalm tanks, 70 mm ( 2.75 in ) rockets, cannon pods, two auxiliary fuel tanks.
Crew: -
Cost: -
User Countries: Argentina, Uruguay, Colombia, Sri Lanka.

Sumber:
www.aerospaceweb.org
www.fas.org


Sebelumnya diposting pada 7 Agustus 2008 di www.bluefame.com

Yak-141 Freestyle




Yak-141 (sebekumnya dikenal sebagai Yak-41) pada awalnya dibuat untuk menggantikian peran Yak-38 untuk pertahanan udara dari kapal induk kelas Kiev, dengan kemampuan penyerangan sekunder. Didesain untuk operasi kapal induk sebagai interseptor, pertempuran jarak dekat, pesawat tempur maritime dan permukaan, Yak-141 mempunyai radar multi-mode seperti MiG-29, tetapi dengan antena yang lebih kecil di dalam radome hidung. Pesawat ini sebuah sistem "fly by wire otoritas penuh triplex".

Yak-141 melanjutkan prisip-prinsip V/STOL Soviet pendahulunya, mengkombinasikan sebuah jet pengangkat dan propulsi dengan dua badan pesawat yang di dalamnya tedapat jet pengangkat (in tandem) di belakang kokpit, dengan tenaga jelajah dihasilkan oleh sebuah mesin jet Tumansky R-79. R-79 mempunyai "nozzle" jelajah/pengangkat yang mengarah ke bawah untuk take-off sementara dua mesin pengangkatnya mengarah ke belakang untuk memastikan stabilitas pesawat. "Airframe" pesawat ini menggunakan material komposit secara luas dengan sekitar 28% dari total material adalah karbon fiber, terutama pada ekor, sedangkan selebihnya menggunakan alloy aluminium-litium.

Proyek Yak-141 dimulai pada 1975, tetapi tertunda karena kesulitan financial dan kesulitan pengembangan mesin, sehingga purwarupanya belum dapat terbang hingga 1989.

Program pengembangan ini dibatalkan karena penghentian pendanaan dari Kementrian Pertahanan. Yakolev OKB melanjutkan pengembangan dengan kemampuan yang ditingkatkan untuk peran basis darat dan kapal induk. Empat purwarupa dibuat, dua di antaranya tetap terbang untuk test hingga 1995, dan dua lainnya digunakan untuk pengujian struktur pesawat dan mesin. Untuk memfasilitasi penjualan Yak-141, Yeltsin mengeluarkan pernyataan yang membolehkan adanya perjanjian dengan negara lain kepada beberapa negara Amerika Latin dan Asia.




HISTORY:
First Flight: March 1989 [STOL]; 29 December 1989 [VTOL]
Service Entry: did not enter service yet

CREW: one: pilot

ESTIMATED COST: unknown

AIRFOIL SECTIONS:
Wing Root: unknown
Wing Tip: unknown

DIMENSIONS:
Length: 60.00 ft (18.30 m)
Wingspan: 33.15 ft (10.10 m)
Height: 16.42 ft (5.00 m)
Wing Area: 341 ft2 (31.7 m2)
Canard Area: not applicable

WEIGHTS:
Empty: 25,685 lb (11,650 kg)
Normal Takeoff: unknown
Max Takeoff: 42,990 lb (19,500 kg) [short takeoff]; 34,835 lb (15,800 kg) [vertical takeoff]
Fuel Capacity: internal: 9,700 lb (4,400 kg); external: 3,860 lb (1,750 kg)
Max Payload: 5,840 lb (2,650 kg) [short takeoff]; 2,205 lb (1,000 kg) [vertical takeoff]

PROPULSION:
Powerplant: one MNPK Soyuz R-79V-300 and two RKBM RD-41 turbofans
Thrust: R-79V: 24,206 lb (107.67 kN); 34,171 lb (152.00 kN) with afterburner; RD-41: 9,392 lb (41.78 kN) ea.

PERFORMANCE:
Max Level Speed: at altitude: 1,120 mph (1,800 km/h) at 36,090 ft (11,000 m), Mach 1.7; at sea level: 775 mph (1,240 km/h), Mach 1.02
Initial Climb Rate: unknown
Service Ceiling: 49,215 ft (15,000 m)
Range: typical: 755 nm (1,400 km) with max payload
ferry: 1,133 nm (2,100 km)
g-Limits: +7

ARMAMENT:
Gun: one 30-mm GSh-301 cannon (120 rds)
Stations: six external hardpoints
Air-to-Air Missile: R-27/AA-10 Alamo, R-73/AA-11 Archer, R-77
Air-to-Surface Missile: Kh-31/AS-17 Krypton, Kh-25/AS-12 Kegler
Bomb: 500 kg bombs, free-fall, cluster bombs
Other: 23 mm gun pods, rocket pods, ECM pods

KNOWN VARIANTS:
Yak-41 or Yak-141: Single-seat V/STOL fighter for shipborne use
Yak-141M: Single-seat land-based V/STOL fighter with structural improvements for increased performance

KNOWN COMBAT RECORD: none

KNOWN OPERATORS: Russian Navy


Diposting sebelumnya pada 4 Agustus 2008 di www.bluefame.com

Sukhoi Su-35 Multi-Role Fighter



DEKRIPSI:

Su-35 sebenarnya diderivasikan dari Su27 dan merupakan varian "ground-baed" dari Su-33. Ketika Au Rusia tetap memakai nama Su-27M, Sukhoi merubah nama pesawat ini menjadi Su-35 dengan harapan dapat menarik perhatian konsumen asing.

Desain Su-35 sangat identik dengan Su-27 tetapi memakai canard seperti Su-33 dan dengan mesin yang lebih bertenaga ditambah sistem fly-by-wire digital baru. Su-35 juga dilengkapi dengan sebuah radar multi-mode baru, detektor inframerah dan senjata yang telah diupgrade.

Pengembangan Su-35 mengalami banyak penundaan karena terpuruknya perekonomian Soviet, dan pihak militer Rusia memilih untuk tidak membeli satupun. Sukhoi selanjutnya memakai 11 pesawat demonstrator untuk menarik konsumen asing dalam rangka mencari dana untuk produksi massal.

Konsumen asing yang sangat tertarik adalah Brazil yang menginginkan ko-produksi pesawat ini untuk menggantikan Mirage III dan Su-35 dianggap lebih unggul dari Mirage 2000, Gripen dan F16. Persetujuan hampir saja terjadi pada November 2004, tetapi Brazil akhirnya menolaknya karena tingginya biaya. Rusia kemudian menawarkan pesawat Su-27 bekas kepada Brazil sebagai alternatif yang lebih murah, tetapi Brazil malah membeli 12 Mirage 2000 (bekas) dari Perancis.

Keputusan Brazil membuat program Su-35 berakhir dan setelahnya Sukhoi hanya mendapatkan sukseskecil dalam memperoleh konsumen lain. Harapan kembali muncul ketika Venezuela menyatakan ketertarikannya pada Su-35, tetapi akhirnya negara itu memilih varian Su-30. Gerakan Venezuela ini didasari kepentingan politik karena AS melarang support atas F-16 milik Venezuela.

Akan tetapi, pada 2007, sukhoi mengumumkan bahwa Su-35 mulai diproduksi masal untuk AU Russia. Versi produksi ini kemudian lebih dikenal dengan Su-35BM dengan mesin yang lebih bertenaga, "2d thrust vectoring nozzle" yang telah dikembangkan dan air intake yang lebih besar. Su-35BM tidak memakai canard seperti purwarupanya, tetapi canard ini dapat dipasang sesuai keinginan konsumen. Upgrade lain termasuk radar yang lebih canggih, kokpit, kompabilitas dengan senjata tambahan dan pemakaian alat elektronik terbaru.




HISTORY:
First Flight: (T-10-24) May 1985; (T-10S-70) 28 June 1988; (Su-35BM) 18 February 2008
Service Ent0ry: (Su-35BM) planned for 2010

CREW: one: pilot

ESTIMATED COST: unknown

DIMENSIONS:
Length: 72.83 ft (22.22 m)
Wingspan: 48.17 ft (14.70 m)
Height: 21.08 ft (6.43 m)
Wing Area: 666 ft² (62.0 m²)
Canard Area: unknown

WEIGHTS:
Empty: 40,565 lb (18,400 kg)
Normal Takeoff: 56,660 lb (25,700 kg)
Max Takeoff: 74,955 lb (34,000 kg)
Fuel Capacity: 29,540 lb (13,400 kg)
Max Payload: 17,640 lb (8,000 kg)

PROPULSION:
Powerplant: (Su-35) two Saturn/ Lyul'ka AL-31F afterburning turbofans; (Su-35BM) two Saturn/ Lyul'ka AL-41FA afterburning turbofans with 2D thrust vector control
Thrust: (Su-35) 61,730 lb (274.6 kN); (Su-35BM) 66,090 lb (294 kN)

PERFORMANCE:
Max Level Speed: at altitude: 1,555 mph (2,500 km/h) at 32,780 ft (10,000 m), Mach 2.3; at sea level: 895 mph (1,435 km/h), Mach 1.18
cruise speed: 870 mph (1,400 km/h) at 32,780 ft (10,000 m)
Initial Climb Rate: 45,235 ft (13,800 m) / min
Service Ceiling: 59,055 ft (18,000 m)
Range typical: 1,730 nm (3,200 km)
ferry: 3,505 nm (6,500 km)
g-Limits: +10

ARMAMENT:
Gun: one 30-mm GSh-301 cannon (149 rds)
Stations: twelve external hardpoints and two wingtip rails
Air-to-Air Missile: R-40/AA-6 Acrid, R-60/AA-8 Aphid, R-27/AA-10 Alamo, R-73/AA-11 Archer, R-77/AA-12
Air-to-Surface Missile: Kh-25ML/AS-10 Karen, Kh-25MP/AS-12 Kegler, Kh-59/AS-13 Kingbolt, Kh-29/AS-14 Kedge, Kh-55/AS-15 Kent, Kh-15P/AS-16 Kickback, Kh-31/AS-17 Krypton
Bomb: FAB-100/250/500/750/1000, KAB-250, KAB-500L, KAB-1500
Other: rocket pods, ECM pods

KNOWN VARIANTS:
T-10-24: Experimental Su-27 prototype with canards
T-10S-70: Prototype
Su-27M 'Flanker-E': Official Russian Air Force designation for the Su-35
Su-35 'Flanker-E': Production model with a new radar, improved fire-control system, glass cockpit featuring multi-function displays, and redesigned fly-by-wire system; 11 prototypes built
Su-35BM: Production model with improved engines and thrust vectoring nozzles, larger air intakes, larger flaperons, a more powerful radar, an improved electronic warfare system, upgraded fly-by-wire control system, and better glass cockpit displays
Su-27SM2: Official designation for the Su-35BM in the Russian Air Force

KNOWN COMBAT RECORD: none

KNOWN OPERATORS: Russia, Voyenno Vozdushniye Sili (Russian Air Force)


Sebelumnya diposting pada 2 Juli 2008 di www.bluefame.com

Rafale



Program pesawat Rafale terdiri dari tiga versi pesawat tempur mesin-kembar multi-peran, versi satu-tempat duduk Rafale C, versi dua-tempat duduk Rafale B dan versi AL (kapal induk) adalah Rafale M. Tiga versi pesawat tempur ini dilengkapi dengan mesin, sistem tempur dan navigasi, sistem managemen pesawat dan sistem kontrol penerbangan yang sama. Mereka semua dapat melakukan semua tipe misi dari penyerangan daratan sampai superioritas udara.

Pesawat produksi pertama Rafale B1 terbang untuk pertama kalinya pada 4 Desember 1998 dan telah dikirim ke AU Perancis. Pesanan Pemerintah Perancis yang sekarang mencapai 61 pesawat dikirim dari 1998 sampai 2005. Total pesanan untuk Perancis, AU dan AL Perancis adalah 294 pesawat.

Dibuat mengikuti Demonstrator Rafale A secara langsung, ketiga versi Rafale mempertahankan kualitasnya yang dibuktikan dalam penerbangan: 70knot, 9g/-3.6g, sudut penyerangan maksimum 32 derajat, serta jarak take-off dan pendaratan kurang dari 400 meter. Kualitas ini diperoleh dari konsep aerodinamis "delta-canard" yang dikombinasikan dengan sayap delta dan sebuah "foreplane" aktif yang diletakkan secara tepat di hubungan sayap untuk mengoptimalkan efisiensi dan kontrol stabilitas aerodinamis tanpa menghalangi pandangan pilot. Lebih dari itu, bentuk dan material pesawat diseleksi secara berlanjut untuk meminimalisasi deteksi sensor elektromagnetis dan inframerah.

Rafale C adalah pesawat tempur multi-peran dengan sebuah sistem nafigasi dan persenjataan terintegrasi secara penuh, memakai teknologi termutakhir dam mampu melakukan performa luar biasa pada target misi udara-ke-udara dan udara-ke-tanah/permukaan jauh di belakang garis musuh.

Pesawat dua-tempat duduk Rafale B mempertahankan hampir seluruh kemampuan dan fitur Rafale C. Rafale B mampu melakukan misi apapun dengan satu pilot ataupun dua awak yang terdiri dua pilot atau satu pilot dan satu operator sistem senjata.

Rafale M adalah versi kapal induk dengan kemampuan dan fitur yang sama dengan kedua versi lainnya. Perbedaannya hanya pada airframe yang disesuaikan dengan kebutuhan operasi di kapal induk.



Specifications
Country: France
Type: Interceptor
Crew: Single or twin seater
engine: 2 x 16550 lb.
BME: 20950 lb.
Max ramp weight: 49560 lb.
Ceilin: unknown
Take-off landing: < 1300 ft
Cruise range: 1000 nm
In-Flight Refueling: Yes
Internal Fuel: 4250 kg
External stores: 13215 lb. to 17620 lb.
Air version: 14 hard points
Navy version: 13 hard points
Sensors: RDX LD/SD radar, FLIR, LRMTS, RWR, Advanced bombsight
Drop Tanks: 2000 L Drop tank with 1598 kg for 188nm of range
Armament: Cannon: 1 30mm DEFA 554; Mica, R.550 Magic 2, BGL 400


Sebelumnya diposting pada 2 Juli 2008 di www.bluefame.com

SUPER ETENDARD


Super Etendard adalah pesawat tempur tempat duduk-tunggal untuk kapal induk yang pertama kali dikenalkan pada 1978. Pesawat ini merupakan pengembangan dari Etendard IVM. Berdasarkan pengalaman selama Perang Korea (1950-1953), Perancis membuat desain pesawat interseptor ringan. Definisi ini dengan cepat terasimilasi menjadi program untuk pembuatan bomber ringan yang cuga dapat berfungsi untuk superioritas udara. Pada saat yang sama NASA mengumumkan kebutuhan akan LWTSF (Light Weight Tactical Strike Fighter). Sebagai tanggapannya, Perusahaan Dassault memperkenalkan pesawat Mirage dan Etendard-nya.

Untuk memenuhi kebutuhan program nasional dan NATO, Dassault membuat desain aerodinamis dari "Super- Mystère" dan menggunakannya pada pesawat yang lebih kecil dengan mesin yang dapat mencapai kecepatan transonik tanpa "afterburner". Hal ini memicu perkembangan desain Mystère XXII (Etendard II), Mystère XXIV (Etendard IV) dan Mystère XXVI (Etendard VI), pengembangan yang luar biasa sehingga take-off dan pendaratan menjadi mungkin pada kecepatan yang lebih rendah.

Entendar IV M adalah pesawat versi kapal induk pertama yang dikembangkan oleh Dassault, sedangkan Dassault Super Etendard adalah versi yang dimodernisasi dari Etendard IV M. Modifikasi utama dari pesawat ini adalah pengembangkan sistem senjata dengan pemasangan sistem manajemen tempur dan navigasi modern. Purwarupa pesawat nin melakukan penerbangan pertama pada Oktober 1974 di Istres.

AL Perancis meresmikan pesawat ini pada 1977 dan sebanyak 71 pesawat sekarang telah beroperasi di kapal induk Foch dan Clemenceau. Pesawat ini dipersenjatai dengan Misil Exocet dan diterbangkan oleh pilot-pilot Argentina (14 pesawat) selama perang Malvinas dengan Inggris pada 1982 dan menunjukkan efektifitas tempurnya. Super Etendard akan digantikan oleh pesawat tempur multi-peran Rafale pada awal abad ke-21.



Specifications

Country of Origin: France
Builder: DASSAULT-BREGUET
First fligh: May 1958 Etendard IV; October 1990 (Upgraded Super Etendard)
In-service in the French Navy: 1964 Etendard IV; June 1993 (Upgraded Super Etendard)
Similar Aircraft:
• Fantan A
• Mitsubishi F-1
• Mirage F1
• Yak-38 Forger
Crew: One
Role:
• strike
• fighter
Span: 31 ft, 6 in / 9.60 meters
Length: 47 ft / 14.31 meters
Height: 3.85 meters
Range: 750-1080 nautical miles
Endurance: 1h45 to 2h15 with réservoir supplémentaire
Speed:
• Mach 1,3 (@ 11 000 m)
• Mach 0,97 (@ low altitude)
Ceiling: 45,000 feet / 13700 meters
Weight: 11.90 tonnes (6.25 à vide).
In-Flight Refueling: Yes
Internal Fuel: 2612 kg
Payload: 2100 kg w/full int fuel
Power plant / Thrust: SNECMA 8 K50 jet engine / 5 t
Armament:
• two 30-mm guns
• Air-to-ground middle range missile (ASMP)
• Exocet air-to-surface Aerospatiale missile
• Matra Magic 2 air-to-air missile
• AS30 air-to-surface laser-guided missile
• rockets
• free fall and parachute drag bombs
• laser-guided bombs
Systems:
• radar Anémone
• nacelle Atlis
• détecteur Sherloc
• brouilleur Barracuda
• Drax radar detector
• Barracuda and Phimat jamming pods
• leurres Alkan 5081
• rear flare dispenser
Special equipment :6 Oméra 31 cameras (100, 150, 200 and 600 mm)
Drop Tanks:
• 600 L drop tank with 479kg of fuel for 99nm of range
• 625 L drop tank with 499kg of fuel for 103nm of range
• 1100 L drop tank with 879kg of fuel for 182nm of range
Sensors
: Agave radar, RWR, ballistic bombsight
User Country
• Argentina
• France
Number of units produced: 85 (all types of Super Etendard included)
French Navy inventory: 52 Super Etendard in two squadrons; 5 Etendard IV P


Sebelumnya diposting pada 2 Juli 2008 di www.bluefame.com

Rabu, 12 Oktober 2011

Sukhoi Su-33 ASCC codename: Flanker Carrier-borne Multi-Role Fighter



DESKRIPSI:

Sukhoi Su-33 adalah versi kapal induk dari Su-27 yang semula didesain untuk beroperasi pada kapal induk utama Uni Soviet. Untuk memenuhi kebutuhan operasi di kapal induk, su-33 mempunyai airframe yang lebih kuat, anti korosi, roda penangkap, mesin yang lebih bertenaga dan sayap yang dapat ditekuk untuk kemudahan penyimpanan di atas kapal induk. Su-33 juga merupakan varian Su-27 pertama yang memakai canard untuk meningkatkan manuberabilitas serta mengurangi jarak take-off dan kecepatan saat mendarat.

Su-27K, desain awal dari Su-33, pada awalnya dikembangkan untuk AL Soviet bersama dengan MiG-29K. Diharapkan kedua pesawat ini digunakan untuk operasi kapal induk. Akan tetapi, ehancuran Uni Soviet meninggalkan hanya satu Kapal induk kelas Kuznetsov , sehingga hanya satu pesawat yang diputuskan untuk dikembangkan. Walaupun lebih mahal dan ukurannya lebih besar (sehingga sedikit pesawat yang akan muat dalam kapal induk), AL Soviet memilih Su-27K. Sekitar 24 pesawat yang sekarang dikenal sebagai Su-33 oleh Sukhoi. Sayangnya, karena kekurangan dana menyebabkan Soviet tidak lagi memakai kapal induk dan pesawat ini sekarang beroperasi dari pangkalan dekat pantai.

Pengembangan selanjutnya adalah pesawat latih dua tempat duduk Su-27KUB atau Su-33UB yang memiliki susunan tempat duduk berdampingan seperti Su-34.




HISTORY:
First Flight: (Su-27K) May 1985; (Su-27KUB) 29 April 1999
Service Entry: 1994

CREW: one: pilot

DIMENSIONS:
Length: 71.92 ft (21.94 m)
Wingspan: 48.17 ft (14.70 m)
Height: 19.42 ft (5.92 m)
Wing Area: 666 ft2 (62.0 m2)
Canard Area: unknown




WEIGHTS:
Empty: 35,275 lb (16,000 kg)
Normal Takeoff: 49,605 lb (22,500 kg)
Max Takeoff: 70,545 lb (32,000 kg)
Fuel Capacity: internal: 20,725 lb (9,400 kg); external: unknown
Max Payload: 14,330 lb (6,500 kg)

PROPULSION:
Powerplant: two Saturn/ Lyul'ka AL-31F afterburning turbofans
Thrust: 61,730 lb (274.6 kN)

PERFORMANCE:
Max Level Speed: at altitude: 1,430 mph (2,300 km/h) at 32,780 ft (10,000 m), Mach 2.17; at sea level: 870 mph (1,400 km/h), Mach 1.1
cruise speed: 870 mph (1,400 km/h) at 32,780 ft (10,000 m)
Initial Climb Rate: 45,235 ft (13,800 m) / min
Service Ceiling: 55,720 ft (17,000 m)
Range typical: 1,620 nm (3,000 km)
ferry: unknown
g-Limits: +9

ARMAMENT:
Gun: one 30-mm GSh-301 cannon (149 rds)
Stations: ten external hardpoints and two wingtip rails
Air-to-Air Missile: R-27/AA-10 Alamo, R-73/AA-11 Archer, R-77/AA-12
Air-to-Surface Missile: Kh-25MP/AS-12 Kegler, Kh-31/AS-17 Krypton, Kh-41
Bomb: various
Other: rocket pods, ECM pods

KNOWN VARIANTS:
T-10K: Prototype of the Su-27K
Su-27K 'Flanker-D': Official designation of the Su-33 used by the Russian Navy
Su-33 'Flanker-D': Production model with canards, strenthened structure, folding wings and tailplanes, arrester hook, uprated engine, corrosion protection, an in-flight refueling probe, and other modifications to make the aircraft suitable for carrier operations; approximately 24 built
Su-33UB or Su-27KUB: Side-by-side two-seat combat-capable trainer similar to the Su-32 or Su-34 but retaining the more rounded nose of the Su-33

KNOWN COMBAT RECORD: none

KNOWN OPERATORS: Russia, Aviatsiya Voyenno-Morskoyo Flota (Russian Naval Aviation)


Sebelumnya diposting pada 2 Juli 2008 di www.bluefame.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes