Tampilkan postingan dengan label Radar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Radar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

Radar Pantai Puskodal Mako Armatim

SURABAYA - Sejumlah anggota TNI-AL mengoperasikan peralatan pendukung sistem pengawasan atau radar laut yang terintegrasi ("Integrated Maritime Surveillance System"/IMSS) usai serah terima di Pusat Komando Pengendalian AL (Puskodal) Markas Komando Armada RI Kawasan Timur Surabaya, Jatim, Selasa (25/10). IMSS tersebut merupakan salah satu bantuan dari dari 18 pos pengawasan pantai, 11 radar kapal dan empat pusat komando masing-masing di Batam, Manado, Jakarta, dan Surabaya.

IMSS merupakan suatu sistem yang terdiri dari tatanan hardware dan personel yang mengintegrasikan sistem komando dan pengendalian (Kodal) dengan memanfaatkan sarana radar dan long range camera pengamatan maritim yang dipasang di pantai/darat, kapal maupun pesawat udara.FOTO ANTARA/M Risyal Hidayat/ed/11

Senin, 24 Oktober 2011

TNI AL Terima Bantuan Radar Pantai dari AS

SURABAYA - TNI AL menerima bantuan peralatan sistem radar pengawasan laut dan pantai terintegrasi (Integrated Maritime Surveillance System/IMSS) dari pemerintah Amerika Serikat.

Bantuan tersebut diserahkan Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia Ted Osius kepada Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto di Markas Komando Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, Selasa (25/10). Usai serah terima, undangan menyaksikan demontrasi penggunaan IMSS di Pusat Komando Pengendalian AL (Kodal) Koarmatim.

Proyek pengadaan senilai 57 juta dolar AS itu, terdiri dari 18 pos pengawasan pantai, 11 radar kapal dan empat pusat komando di Batam, Manado, Jakarta dan Surabaya. Bambang mengatakan, sistem ini telah dibangun dan dikembangkan di wilayah timur, tepatnya di Perairan Laut Sulawesi.

"Program ini merupakan kelanjutan dari kerja sama bilateral kedua negara sejak 2006," katanya. Ted Osius juga menjelaskan, proyek pengadaan IMSS ini mampu menjangkau 1.205 km garis pantai di Selat Malaka dan 1.285 km garis pantai di Sulawesi, sehingga menjadikan sistem ini sebagai jaringan pengawasan maritim terintegrasi terbesar di dunia.

"Sistem ini membantu Indonesia untuk mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi, melacak dan memonitor kapal-kapal yang melintasi perairan teritorialnya dan internasional," paparnya.

Menurut ia, kemampuan sistem tersebut sangat penting dalam memerangi pembajakan, pencurian ikan, penyelundupan, dan terorisme di wilayah perairan Indonesia dan kawasan perbatasan dengan negara tetangga.

Sumber : ANTARA

Kamis, 02 Juni 2011

Radar Hibah Dari AS Telah Terpasang di 18 Titik di Indonesia



JAKARTA - Indonesia dengan wilayah laut luas sudah seharusnya memiliki kekuatan tangguh untuk mengamankan wilayah perairannya. Selain itu, perlu pengamanan untuk kapal-kapal yang melakukan perjalanan ke wilayah berbahaya. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tri Prasodjo di Jakarta, Rabu (1/6).

Pengamanan laut butuh perhatian serius karena menyangkut berbagai kepentingan masyarakat dan negara. Dia menambahkan, keamanan laut tidak hanya menyangkut penegakan hukum di laut. "Tujuan lebih luas adalah tercapainya situasi dan kondisi laut yang bebas dari ancaman kekerasan, navigasi, sumberdaya laut, dan ancaman pelanggaran hukum,"katanya. shoot me!!

"Dan untuk penanganan dini pengamanan wilayah laut Indonesia penguatan sistem radar sangat diperlukan. Salah satunya adalah hibah radar Integrated Multi Sensor System (IMSS) dari amerika yang kini dibangun di beberapa titik di Indonesia," tambahnya.

Tri mengatakan, IMSS yang terpasang kini berjumlah 18 buah. Selain radar, kata Tri, pengamanan dilakukan dengan melakukan patroli secara rutin. "Perairan penting seperti Selat Malaka kami lakukan patroli bersama dengan Malaysia dan Singapura,"katanya.

Selain radar, kata Tri, pengamanan dilakukan dengan melakukan patroli secara rutin. "Perairan penting seperti Selat Malaka kami lakukan patroli bersama dengan Malaysia dan Singapura,"katanya.

Sumber : JURNAS

Rabu, 27 April 2011

Teknologi Hankam : INDRA dan ISRA Sang Pengintai

JAKARTA - Indonesia mestinya memiliki sistem pemantauan radar yang menjangkau seluruh wilayah mengingat sebagian besar berupa laut. Namun, sarana pengintai kapal penyusup itu hanya ada beberapa sehingga kita sering kecolongan. Membangun kemandirian dalam penyediaan fasilitas strategis itu dimulai Indonesia dengan menciptakan Indera dan Isra.

Wilayah Nusantara membujur sepanjang 6.000 kilometer lebih di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luasnya 5,18 juta km persegi dan 60 persen berupa laut. Sebagai negara maritim terluas di dunia, Indonesia tentu memerlukan radar pengawas pesisir dan kapal patroli dilengkapi radar navigasi dan penjejak.

Data dari Direktorat Jenderal Perhubungan menyebutkan, hanya ada 11 sistem vessel traffic service (VTS). Bila melihat lokasi VTS, sebagian besar berada di kawasan barat Indonesia, sedangkan kawasan tengah dan timur belum termonitor. Untuk menutup daerah kosong itu, Kementerian Perhubungan akan menambah 47 radar VTS dalam beberapa tahun mendatang.

Penambahan itu belum mencukupi. Idealnya, menurut Hari Purwanto, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi bidang Pertahanan dan Keamanan (Hankam), diperlukan ratusan radar pantai untuk tujuan hankam.

Kurangnya sarana pemantau membuat Indonesia rawan dari praktik ilegal, seperti pencurian ikan, penyelundupan, dan pelanggaran batas wilayah perairan oleh kapal asing.

Ruang udara kita juga rawan pelanggaran oleh pesawat asing, baik sipil maupun militer. ”Setengah ruang udara di atas Indonesia belum terpantau radar,” kata Timbul Siahaan, Staf Ahli Menteri Pertahanan bidang Teknologi dan Industri.

”Perlu upaya sungguh-sungguh mengatasi dan mandiri dalam penguasaan teknologi radar hingga penerapan,” kata Hari.

Prioritas

Sebagai teknologi yang berbasis pada teknologi telekomunikasi dan elektronika, radio detection and ranging (radar) telah lama digunakan sebagai pendeteksi dan pengukuran jarak suatu obyek dengan menggunakan gelombang elektromagnet, khususnya gelombang radio.

Antena pemancar radar akan memancarkan gelombang radio, lalu pantulannya pada suatu obyek ditangkap antena penerima radar. Dengan demikian, jarak obyek dapat diketahui.

Teknologi radar terus dikembangkan kapasitas jangkauan dan aplikasinya. Semula untuk keperluan militer, kemudian masuk ke sektor sipil, yaitu memantau lalu lintas kapal dan penerbangan. Selain itu, juga untuk mengamati kondisi cuaca dan pemetaan.

Penelitian dan pengembangan hingga penerapan teknologi radar di Indonesia ditetapkan sebagai program prioritas bidang industri hankam. Hal ini diungkapkan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata dalam Seminar Radar Nasional V 2011 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, pekan lalu.

Untuk itu akan dibentuk konsorsium yang menghimpun semua pihak, termasuk berkontribusi dalam pembiayaan. Kementerian Riset dan Teknologi tahun lalu mengalokasikan anggaran Rp 20 miliar, di antaranya penelitian dan pengembangan radar yang dilakukan LIPI.

Isra dan Indera

Tahun lalu LIPI menghasilkan prototipe radar Isra (Indonesian Surveilance Radar) yang terpasang di Anyer, Banten, untuk memantau lalu lintas kapal di Selat Sunda. Prototipe yang dibuat PT Inti itu merupakan karya bersama LIPI dengan ITB dan International Research Centre for Telecomunication and Radar, Technological University Delft, Belanda.

Selain itu, ada radar untuk navigasi kapal yang dibuat oleh swasta nasional, yaitu RCS (Radar & Communication System) Solusi 247. Radar yang disebut Indera (Indonesian Radar) ini diuji coba, Kamis (21/4), oleh TNI AL di dua KRI.



Menurut Andaya Lestari, Kepala Divisi RCS, dibandingkan radar maritim yang umumnya menggunakan teknologi pulsa berdaya hingga 15 kilowatt, Indera menggunakan sistem FMCW (frequency modulation-continuos wave) berkapasitas 2 watt. Karena itu, keberadaan kapal sulit terdeteksi sehingga menunjang operasi pengintaian.

Bila uji coba berhasil, radar itu dapat diproduksi untuk memenuhi kebutuhan hankam dalam negeri. Paling tidak 60 kapal perang di Indonesia dapat dilengkapi dengan Indera.

Menurut Ketua Asosiasi Radar Indonesia Mashuri yang juga Kepala Bidang Telekomunikasi Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI, radar yang umum digunakan di Indonesia adalah radar yang menggunakan sinyal pulsa seperti sinyal digital. Sistem radar pulsa menggunakan satu antena untuk memancarkan dan menerima sinyal secara bergantian.

Selain itu, dikembangkan pula radar gelombang kontinu (continuous wave/CW). Radar ini menggunakan dua antena untuk radar pemancar dan penerima. Ada pula radar Doppler untuk menjejak atau melacak kecepatan pergerakan obyek.

Program Radar Nasional tahap pertama akan berlangsung hingga tahun 2014 untuk menghasilkan satu prototipe generasi baru, antara lain model PSR (Primary Surveillance Radar) untuk mendeteksi dini sasaran, prototipe material, dan komponen peralatan radar. Teknologi radar terus dikembangkan, antara lain untuk membuat radar senjata (radar penjejak optoelektronika) serta pemantauan lalu lintas laut dan udara.

Sumber : KOMPAS

Selasa, 12 April 2011

BMG Bangun Radar di Perbatasan Malaysia-Pilipina-Indonesia

Radar Bisa dimanfaatkan Untuk keperluan operasi militer TNI

BALIKPAPAN - Badan Meteorologi dan Geofisika Balikpapan, Kalimantan Timur akan membangun radar cuaca di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Peralatan seharga Rp 15 miliar ini mampu mencakup seluruh wilayah perbatasan di Kalimantan dalam radius 200 – 250 kilometer. "Lokasinya di Tarakan, di Bandara Juata," kata Kepala BMG Balikpapan, Sugiman, Selasa (12/4).

Sugiman mengatakan, pihaknya sudah membangun peralatan radar cuaca serupa di Bandara Sepinggan Balikpapan. Radar berfungsi untuk meramalkan kondisi cuaca, dunia penerbangan, dan keperluan operasi militer TNI. "Fungsi utamanya untuk menunjang dunia penerbangan dan pertahanan keamanan Indonesia," kata dia.

Pemilihan lokasi Tarakan, kata Sugiman disengaja mengingat letaknya yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Pilipina. Sepanjang wilayah perbatasan Indonesia belum termonitor peralatan radar dengan jangkauan jauh. Kantor BMG sudah berencana membangun 51 stasiun radar cuaca di sejumlah titik lokasi di Indonesia. Pembangunan stasiun radar cuaca di Tarakan diharapkan terealisasi pada 2013 mendatang.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

Selasa, 15 Maret 2011

KSAU Resmikan Penggunaan Radar Master T di Marauke

MERAUKE - Satuan Radar 244 Merauke yang memperkuat pengamanan wilayah udara nasional di Timur Indonesia diresmikan penggunaannya lewat upacara militer oleh KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat di Merauke, Rabu (16/3).

Radar yang digunakan Satuan ini merupakan jenis radar terbaru "Master T" buatan Thales-Prancis yang memiliki jangkauan 240 mil laut. Selama ini keamanan wilayah udara Timur Indonesia dipantau oleh tiga satuan radar yakni Satuan Radar 241 di Buraen, Kupang (NTT), dan Satuan Radar 242 Tanjung Warari (Biak).

Dari tiga satuan radar yang sudah terealisasi nantinya bakal ada lima Satuan Radar dari lima yang direncanakan. Kedepannya TNI AU akan menambah dua satuan radar di Timika (Papua) pada Agustus 2011 dan Saumlaki (Maluku Tenggara Barat) pada awal 2012.

Lima satuan radar wilayah Indonesia Timur berada di bawah Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosek Hanudnas) IV yang bermarkas di Biak.

KSAU mengatakan, relatif tingginya tingkat pelanggaran wilayah udara nasional di wilayah Timur Indonesia akan menjadikan satuan radar di wilayah itu sangat penting.

"Dengan satuan radar yang akan dikembangkan di wilayah Timur Indonesia akan mampu menjadi mata dan telinga baik sebagai sarana dan bagian sistem pertahanan udara nasional, maupun sebagai media untuk melakukan deteksi dini dan intersep setiap pelanggaran wilayah udara nasional yang terjadi," katanya.

Imam menambahkan, pendirian satuan radar di wilayah Timur Indonesia sangat penting mengingat adanya beberapa obyek vital nasional dan sebagai bagian dari jalur penerbangan internasional.

Satuan Radar 244 Merauke dibangun sejak 2008 dan berdiri diatas lahan seluas 17,5 hektare.

Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional Marsekal Pertama TNI M Syaugi mengatakan, penambahan radar di wilayah Timur Indonesia juga dilandasi pertimbangan sebagian wilayah berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini dan Australia.

"Jadi radar ini penting untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya di wilayah di Timur," katanya.

Sumber : ANTARA

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes