Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2011

Hibah Jet Tempur F-16 Tiba Februari 2012

JAKARTA - TNI AU bakal terima apapun keputusan politik pemerintah dan parlemen terkait hibah 24 pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat.

"Kami akan terima apapun yang diputuskan," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Azman Yunus ketika dikonfirmasi ANTARA usai menghadiri pembukaan latihan gabungan penanggulangan terorisme TNI-Polri di Markas Komando Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Selasa (25/10).

Yang penting, ungkapnya, alutsista tersebut mampu mendukung tugas pokok TNI AU menjaga wilayah udara nasional dari beragam ancaman.

Kemarin, Pemerintah yang diwakili oleh Kementrian Pertahanan dan Komisi 1 DPR kembali menggelar pertemuan tertutup untuk membahas lebih lanjut proses hibah dua skuadron pesawat F-16. Dan keputusannya Komisi 1 menyetujui hibah 24 pesawat tempur ini.

Mekanisme Proses Hibah

Sebelumnya, Pemerintah RI dan AS juga telah membicarakan mekanisme hibah ke-24 unit pesawat tersebut, dalam pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Menhan AS Leon Panetta di Bali.

Sebelumnya, pihak Kementerian Pertahanan melalui Sekretaris Jenderalnya Marsekal Madya TNI Eris Heryanto menjelaskan hibah F-16 itu menggunakan skema "Foreign Millitary Sale" (FMS). Melalui skema tersebut, tanggung jawab ditanggung oleh pihak AS, dan Indonesia tidak perlu membayar pajak atau jasa. "Standar pesawat yang dihibahkan juga standar pesawat militer AS," ujar Eris.

Ia menambahkan sekarang sedang dalam tahap penandatanganan "Letter Of Accetance" (LoA) antara pemerintah RI dengan AS yang akan ditandatangani pada Februari 2012.

"Jadi pada Maret 2012 diharapkan bisa pesawat sudah bisa datang, dan pada 2014 sudah sampai 16-20 pesawat yang datang," imbuh Eris mengenai hibah pesawat tempur itu.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat sebelumnya juga menyatakan pesawat F-16 tersebut merupakan pesawat F-16 Block-25 yang akan di-"upgrade" menjadi Block-32. "Jadi akan di-'upgrade' di AS dan kita akan mengirimkan tim ke sana untuk memantau." jelas KSAU.

Sumber : ANTARA

Komisi I Setujui Hibah Jet Tempur F-16 Dari AS

JAKARTA - Komisi I DPR RI menyetujui hibah 24 jet tempur bekas jenis F-16 dari Amerika Serikat untuk memperkuat jajaran TNI AU.

Komisi I dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meyetujui hal tersebut dalam rapat tertutup di ruang komisi I DPR RI, Selasa (25/10) di Jakarta.

"Dalam rapat tadi, Komisi I DPR telah setuju untuk menerima hibah F-16 bekas dari AS sebanyak 24 unit," ujar Purnomo usai rapat di gedung DPR, Jakarta.

Menurut Purnomo, Komisi I menyetujui hibah tersebut dengan catatan yakni pesawat tersebut di-up grade (retrotif) terlebih dahulu dari blok (seri) aslinya 15 menjadi blok 52.

Dengan demikian konsekuensi dari peningkatan ke blok 52 itu memang memerlukan anggaran tambahan. "Namun soal anggaran tambahan untuk kepentingan retrofit F-16 bekas AS ke blok 52 itu akan dibahas tersendiri dalam raker berikutnya," terangnya.

Dalam rapat, ujar anggota Komisi I dari Fraksi PKB Effendi Choire, dirinya mempertanyakan alasan Menhan menerima hibah pesawat rongsokan. Dirinya lebih memilih membeli satu atau dua pesawat baru.

Sumber : MEDIAINDONESSIA.COM

Minggu, 25 September 2011

Polemik Hibah F-16 Amerika

JAKARTA - Kesepahaman antara DPR dan pemerintah dalam pengadaan F-16 masih terus mencari titik temu dari segi teknologi dan pembiayaan. Komisi I DPR, sebagai mitra pemerintah dalam bidang pertahanan dan keamanan nasional, memberikan beberapa persyaratan dan skema pembiayaan. Seperti apa? Berikut saya paparkan polemik sekitar ini.

DPR dan pemerintah telah sepakat bahwa pengadaan F-16 penting bagi TNI untuk meningkatkan performa dan kewibawaan TNI di lingkungan regional. Tertuang dalam rencana pembelian di tahun 2011, telah disepakati alokasi dana untuk pembelian 6 unit F16 baru untuk block 52+, senilai lebih kurang us$ 430juta. Alokasi pembelian armament (senjata) dipersiapkan secara terpisah.

Dalam perkembangannya timbul opsi lain. Hasil komunikasi antara TNI AU dan pemerintah Amerika, secara Goverment to Goverment, pemerintah Amerika menawarkan program hibah F-16 kepada pihak Indonesia. Program hibah ini disampaikan juga oleh Presiden Barrack Obama dalam kunjungan singkatnya ke Indonesia pada 9 November 2010 yang lalu. Hibah F-16 ini telah mendapat persetujuan dari Kongres Amerika, dengan komposisi sbb : maksimal 28 unit F-16 block 25, 2 unit F-16 block 15, dan 28 engine utk F-16 block 25, dengan kondisi “as is where is” (seperti itu, di lokasi itu) alias apa adanya untuk pesawat F-16 yang diparkir di Arizona.

Di Arizona, terdapat sebuah padang luas, tempat dimana Amerika memarkir pesawat-pesawat tempur, baik yang masih digunakan maupun yang tidak digunakan lagi oleh militer Amerika. Padang Arizona memiliki kelembaban yang rendah, sehingga pesawat yang diparkir di sana tidak mengalami korosi/kerusakan akibat humiditas. Kongres Amerika telah memberikan izin 28 unit F-16 untuk Indonesia, sementara Indonesia hanya butuh 24, jadi sudah terdapat titik terang. F-16 yang dimaksud kondisi nya terpakai 4000jam sd 6000jam, sehingga harus dilakukan program Falcon Star agar dapat digunakan hingga 8000jam terbang. Menurut KSAU, rata-rata pesawat akan digunakan 10-20jam/bulan, sehingga pesawat bekas tersebut dapat digunakan selama 12 – 15 tahun.

Karena “as is where is”, berarti delegasi Indonesia harus berangkat ke Arizona akan memilih 24 unit pesawat yang terbaik dari ratusan F-16 yang terdapat di sana.

Baca selanjutnya...

Sabtu, 24 September 2011

Komisi I DPR Setujui Pembelian F-16 Block 52

JAKARTA – Komisi I Bidang Pertahanan DPR RI menyetujui pembelian 6 unit pesawat tempur baru jenis F-16 Block 52 senilai Rp3,8 triliun. Wakil Ketua Komisi I, Tubagus Hasanuddin, menyatakan bahwa pesawat tempur RI perlu direvitalisasi.

“Meski kita memiliki beberapa skuadron pesawat tempur, tapi pesawat tempur kita memang sudah tua. Harus ada penggantinya. Pesawat kan harus mengikuti perkembangan zaman,” kata Hasanuddin dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Minggu (25/9).

Menurutnya, beberapa jenis pesawat tempur RI sudah harus diperbarui, seperti F-5E Tiger dan Hawk 100/200. Untuk itu, ujar Hasanuddin, DPR dan pemerintah sudah sepakat untuk menganggarkan sejumlah dana.

“Anggaran sudah disiapkan. Kami sudah memprogram pembelian F-16 Block 52. Pesawat sekelas itu sudah cukup canggih,” tutur politisi PDIP itu. Sebelumnya, anggota Komisi I Tjahjo Kumolo menjelaskan, F-16 Block 52 dipilih karena kemampuannya yang memadai. “Kehadirannya memiliki efek getar dan daya tangkal yang cukup,” kata Tjahjo.

Namun, terang Hasanuddin, RI belum langsung memutuskan untuk mendatangkan F-16 Block 52, karena mendadak ada tawaran lain dari Amerika Serikat. “AS tiba-tiba menawarkan hibah pesawat F-16 grounded. Jadi pemerintah dan DPR masih membahas, apakah tetap akan membeli pesawat tempur baru, atau menerima tawaran hibah dari AS itu,” papar Hasanuddin.

Ia sendiri menilai, pembelian pesawat tempur baru lebih banyak manfaat dan keuntungannya bagi RI. Pasalnya, pesawat baru memiliki daya tahan lebih lama ketimbang pesawat grounded. “Pesawat baru bisa 30 tahun umurnya. Tapi pesawat grounded cuma 12 tahun,” kata Hasanuddin.

“Lagipula, pesawat hibah yang ditawarkan AS itu secara terbuka justru disimpan dan ditongkrongkan AS begitu saja seperti rongsokan di Gurun Arizona. Apa kita mau yang seperti itu?” ujar Hasanuddin. Lebih lanjut, ia menyatakan, biaya upgrade pesawat grounded bisa lebih mahal daripada membeli pesawat baru.

Hasanuddin menjelaskan, bila Indonesia menerima tawaran hibah dari AS, maka Indonesia akan mendapatkan 24 unit pesawat grounded. Sementara bila membeli yang baru, Indonesia hanya akan memperoleh 6 pesawat baru. “Tapi pesawat hibah yang mesti diupgrade ini lebih rendah kemampuannya dari Block 52 yang sudah canggih,” kata dia.

Sumber : VIVANEWS.COM

Jumat, 02 September 2011

TNI AU Percepat Pengadaan Alutsista Sebelum Masa Jabatan SBY Berakhir





KULON PROGO - TNI-AU akan mempercepat program pengadaan berbagai alutsista dan sistem pendukungnya untuk periode tahun 2010-2014.



Demikian disampaikan Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI Imam Sufaat, di Wates, Kamis (1/9), "Presiden SBY berharap sebelum masa jabatannya berakhir (tahun 2014) program pengadaan alutsista sudah selesai. Sehingga saat masa jabatan beliau berakhir, TNI dalam hal ini TNI-AU sudah kuat."



Saat ini program pengadaan alutsista baru TNI AU sudah berjalan. Mulai dari pengadaan pesawat EMB-314 Super Tucano dari Brazil, jet latih T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan dan enam Sukhoi Su-27/30 Flanker beserta persenjataannya.



Menyoal mengenai hibah jet tempur F-16, Sufaat berkata, Konggres Amerika pada 16 Agustus lalu baru saja menyetujui permohonan kita. Dan telah disetujui sebanyak 30 unit jet tempur.



Begitupula halnya dengan program kerjasama pembuatan jet tempur generasi 4.5 terbaru, KF-X/IF-X. "Diharapkan hingga tahun 2024 nanti, Indonesia akan memiliki tambahan 50 unit pesawat tersebut," katanya.



Dikatakan KSAU hubungan baik dengan negara-negara cukup menjadi obat mujarab. Sufaat menyatakan, TNI-AU kini juga sedang menunggu pengadaan hibah pesawat angkut C-130 Hercules dari AU Australia.



"Kami masih menunggu dari Australia seperti pengadaan pesawat Hercules untuk pengananan bencana. Sehingga jika terjadi bencana, dapat digunakan untuk membantu menangani seperti penyaluran bahan makanan atau untuk menyelamatkan korban bencana," katanya.



Menurut dia, banyak pesawat yang sudah ada perlu segara diganti karena usianya rata-rata mencapai 30 tahun. "kalau tidak diganti biaya perawatannya sangat tinggi. Selain itu, ada beberapa suku cadangan pesawat sudah tidak dibuat lagi karena pabrik yang membuat pesawat sudah tidak beroperasi," katanya.



Walau demikian, kata dia, meski beberapa pesawat sudah tidak dapat berfungsi secara maksimal, TNI-AU akan memaksimalkan operasionalisasi pesawat tempur untuk mengamankan wilayah kedaulatan Indonesia dari ancaman negara-negara lain.



Sumber : ANTARA

Sabtu, 27 Agustus 2011

16 Agustus, Hibah F-16 Mendapat Persetujuan Kongres AS

JAKARTA - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan Indonesia tetap menerima hibah pesawat tempur F-16 dari pemerintah Amerika Serikat.



"Kita tetap dapat hibah," katanya, usai menyaksikan penyerahan enam unit helikopter Mi-17 V5 dari pemerintah Rusia ke Indonesia melalui Kementerian Pertahanan di Skuadron 2 Puspenerbad Pondok Cabe, Tangerang, Banten, Jumat (26/8).



Ia menambahkan dengan penambahan ini dipastikan Indonesia bakal memiliku dua Skuadron F-16. Pesawat yang dihibahkan merupakan tipe Block 25 yang akan di-"up grade" menjadi F-16 Block 32.



Sekjen Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Erris Heriyanto menambahkan, dari 30 unit F-16 yang dihibahkan nanti, 24 unitnya akan dihidupkan dengan mesin baru.



"Hibah F-16 itu telah mendapat persetujuan dari kongres AS. `Congress Notification` sudah keluar pada 16 Agustus 2011 lalu dan kita tetap mendapatkan hak atas hibah itu," katanya. Sebelumnya dikabarkan Kongres AS membatalkan rencana hibah F-16 kepada Indonesia dan menawarkannya ke Taiwan. "Itu tidak benar," katanya.



Sumber : ANTARA

Jumat, 19 Agustus 2011

Empat Pesawat Tanpa Awak Tiba Akhir 2011

SUNGAI RAYA - KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, empat pesawat tanpa awak segera ditempatkan di Pangkalan TNI AU Lanud Supadio pada akhir 2011. "Pesawat tanpa awak ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan pemantauan termasuk daerah perbatasan di Kalimantan Barat, bahkan juga dioperasikan untuk pengawasan di pulau Kalimantan," katanya saat berkunjung ke Lanud Supadio Pontianak, Jumat (19/8) sore.



Saat ini proses pembangunan hanggar untuk empat pesawat tersebut sudah delapan puluh persen dikerjakan dan ditargetkan dalam waktu dekat pengerjaannya sudah selesai.



"Karena pengadaan pesawat tanpa awak ini dilakukan oleh Kementerian Pertahanan, kita belum tahu pasti kapan pesawat itu bisa ditempatkan di Lanud Supadio. Namun, kita harapkan akhir 2011 pesawat tersebut sudah ada di sini (Supadio)," tuturnya.



Imam mengatakan, pesawat tanpa awak mempunyai fungsi yang sangat strategis untuk mempertahankan kedaulatan NKRI karena dapat dikendalikan dari jarak jauh.



Pesawat tersebut telah dilengkapi dengan peralatan pendeteksi untuk kondisi malam dan siang hari. Dia menyatakan, keberadaan pesawat tanpa awak selain digunakan untuk memperkuat pertahanan NKRI di matra udara juga bisa berfungsi sebagai alat untuk mendeteksi berbagai kegiatan ilegal dalam patroli perbatasan, baik laut mupun udara.



Selain itu juga bisa berfungsi untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya kebakaran hutan yang marak terjadi di wilayah Kalimantan dan pulau lainnya.



Hibah 30 Pesawat F-16



"Berdasarkan hasil pertemuan terahir dengan pihak Amerika beberapa waktu lalu, telah disepakati Indonesia akan menerima 24 pesawat tempur F16 bekas dari Amerika Serikat plus enam pesawat cadangan, sehingga totalnya menjadi 30 unit," tuturnya.



Nantinya ke 30 pesawat tempur hibah itu akan di upgrade ke blok 32 lengkap dengan persenjataannya melengkapi jumlah yang ada saat ini 10 unit sehingga menjadi 2 skuadron (40 unit).



Dia menambahkan, pada Desember 2010 juga telah dilakukan penandatanganan kontrak pembelian 16 Super Tucano buatan Brazil, lalu April 2011 sudah ada kepastian pengadaan pesawat latih/tempur jenis T-50 buatan Korea Selatan. Kedua Skuadron itu secara bertahap akan mengisi arsenal TNI AU mulai awal tahun depan.



"Pada 2011 juga sudah dipersiapkan tambahan 6 unit Sukhoi lengkap dengan http://www.blogger.com/img/blank.gif/bmi_orig_img/blank.gifpersenjataannya untuk melengkapi jumlah yang ada sekarang sebanyak 10 unit," tuturnya.



Opsi tentang perkuatan pesawat tempur jenis Sukhoi tetap mengental. Setelah lengkap berjumlah satu skuadron (16 unit), akan terus ditambah minmal sampai berjumlah 32 unit dari jenis Su27/30.



"Bahkan petinggi TNI AU sangat berminat dengan Sukhoi SU35 BM minimal 1 skuadron. Untuk memenuhi kriteria minimum essential force (MEF) sampai dengan 2014 TNI AU membutuhkan minimal 10 skuadron tempur," kata Imam.



Sumber : KOMPAS

Rabu, 22 Juni 2011

Indonesia Dipastikan Terima Hibah 24 Pesawat F-16 Dari AS


F-16C Block 30/32 menggunakan mesin Turbofan F100-PW-200 dari Pratt & Whitney

JAKARTA - Kementerian Pertahanan memastikan tidak ada lagi masalah soal tawaran hibah 24 pesawat F16-A bekas dari Amerika Serikat (AS). "Sudah tidak ada masalah. DPR-RI sudah ke Kongres Amerika dan mereka sudah menyetujui," ujar Menteri Pertahanan Poernomo Yusgiantoro usai rapat tertutup dengan Komisi I DPR, Rabu (22/6).

Ia menegaskan anggaran yang sebelumnya disiapkan untuk membeli pesawat baru kini dialihkan untuk meng-upgrade 24 pesawat F-16 block 25 ke block 32. Termasuk 10 pesawat yang kini dimiliki Indonesia. "DPR hanya menyarankan untuk kehati-hatian."

Poernomo mengatakan belum tentu pesawat hibah tersebut sudah bisa datang ke Indonesia awal tahun ini. Karena paling tidak dalam satu tahun, upgrading dari pabrikan hanya mampu tiga sampai lima unit. "Bertahap nantinya, setahun paling lima pesawat. Jadi, butuh empat tahunan." ujarnya. "Pembayarannya pun tergantung dari penyelesaian pesawat yang diupgrade," katanya.

Sebelumnya, pengamat militer Jaleswari Pramodhawardani mengatakan ada beberapa hal yang harus dikritisi dalam hibah tersebut. Pertama, pemerintah mesti terlebih dulu memastikan apakah penyediaan suku cadang dan perawatannya satu paket dengan hibah ke-24 F16 bekas. Pemerintah juga diminta untuk memastikan ke-24 armada itu dalam kondisi bagus.

Yang juga harus diperhatikan pemerintah, kata Jaleswari, adalah varian alutsista. Keberagaman alutsista itu tidak menguntungkan Indonesia. Meski banyak hal harus dipertimbangkan sebelum menerima hibah Amerika, Jaleswari tetap menganggap tawaran 24 F16 bekas jauh lebih tepat dibanding pemerintah membeli pesawat tempur baru.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

Sabtu, 11 Juni 2011

KSAU: Hibah F-16 Masih Menunggu Parlemen AS

JAKARTA - KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan hibah dua skuadron pesawat F-16 Fighting Falcon dari Amerika Serikat masih menunggu persetujuan parlemen negara tersebut.

Kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu (11/6) ia menambahkan, "Semoga pada Agustus mendatang, seluruh proses sudah selesai termasuk persetujuan dari parlemen AS, sehingga pada tahun ini sudah dapat tandatangan kontrak,".

Kasau melanjutkan,"jika tahun ini sudah dapat ditandatangani kontraknya, maka tahun depan delapan unit pesawat tersebut diharapkan sudah masuk memperkuat TNI Angkatan Udara,`.

Imam menuturkan pihaknya sudah melakukan pemaparan baik kepada Mabes TNI, Kementerian Pertahanan dan DPR tentang rencana hibah dua skuadron pesawat F-16 tersebut.

"Bahkan kami juga sudah menyampaikan secara rinci mengapa TNI AU lebih memilih menerima hibah tersebut dibandingkan dengan membeli pesawat serupa dari jenis terbaru namun tentunya harganya jauh lebih mahal. Kita paparkan segala kekurangan dan kelebihannya," ungkapnya.

Indonesia saat ini memiliki 12 unit F-16 blok 15OCU, terdiri atas delapan F-16A dan empat F-16B. Namun, anggota Komisi I Fayakhun Andriadi, mengatakan kini TNI AU hanya memiliki 10 unit F-16 model A/B. Tadinya TNI AU hendak mengembangkannya menjadi satu skuadron penuh dengan berencana membeli enam unit F-16C/D terbaru block 52.

Namun kemudian muncul tawaran dari AS untuk menghibahkan 24 unit F-16 kepada Indonesia. AS juga menawarkan meretrofit F-16 hibah varian A/B menjadi C/D. Retrofit 24 unit pesawat itu nantinya termasuk 10 unit F-16 A/B lama milik Indonesia.

Belakangan tawaran AS ini diterima, kelak setelah "retrofit" dan "upgrade" jumlah pesawat F-16 Indonesia menjadi 32 unit atau dua skuadron.

Sumber : ANTARA

Selasa, 07 Juni 2011

FFA, Nama Jet Tempur Kolaborasi RI-Korsel

JAKARTA - Setelah kerjasama pembuatan pesawat jet tempur KFX antara RI dan Korea Selatan dimulai, Pemerintah Indonesia akan mengajukan usulan perubahan nama pesawat jet tempur hasil kolaborasi dua negara itu.

"Soal nama masih akan dibahas, kita inginkan ada nama Indonesia di dalamnya," kata Direktur Teknik Industri Pertahanan, Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Agus Suyarso kepada Tempo, kemarin, Senin 14 Maret 2011. hit me!!

Awalnya, pihak Indonesia mengajukan nama pesawat tempur KFX (Korea Fighter Xperiment) itu diubah menjadi KIFX atau Korea-Indonesia Fighter Xperiment. Namun pihak Korea Selatan kurang setuju. "Akhirnya kita sepakat nama akan diubah, dan Indonesia mengusulkan pesawat tempur FFA atau Future Fighter Aircraft."

Penggabungan nama dua pihak yang berkolaborasi ini, menurut Agus, pernah diterapkan saat Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Spanyol membuat pesawat angkut jenis CN 235 di era Presiden Soeharto.

Nama kode 'CN' dibelakang seri pesawat itu adalah inisial dua perusahaan yang berkolaborasi, yakni Casa, perusahaan pesawat terbang Spanyol dan Nurtanio atau Industri Pesawat terbang Nusantara (IPTN) yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia. "Saat itu Casa menyumbang 50 persen dan Nurtanio 50 persennya," kata Agus, yang juga menjabat Kepala Sekretariat Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) ini. .

Kerjasama pembuatan pesawat tempur dengan Korsel kali ini juga akan melibatkan industri pesawat terbang masing-masing negara. Pemerintah Indonesia kembali akan melibatkan PT Dirgantara Indonesia.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

Rabu, 18 Mei 2011

Indonesia Akan Dapat 1 Prototype Pesawat KF-X

JAKARTA - Kerjasama Indonesia-Korea Selatan dalam pengembangan industri pembuatan jet tempur terus berlanjut. Proyek yang pembagian pembiayaannya 80 persen Korea Selatan dan 20 persen Indonesia ini rencananya akan membuat lima prototipe jet tempur KF-X/IF-X, pesawat tempur multimission generasi 4,5.

"Empat prototipe untuk Korea dan satu untuk kita (Indonesia)," kata Direktur Teknologi Industri Pertahanan, Ditjen Pothan, Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Agus Suyarso, dalam Seminar Industri Pertahanan di Gedung Antara, Jakarta, Rabu (18/5).

Dengan komposisi pembiayaan total 80:20 ini, artinya pemerintah hanya menyumbang US$ 1,01 miliar atau sekitar 10,1 triliun dari total biaya sebesar US$ 5,05 miliar. Proyek ini akan berlangsung selama 10 tahun, tepatnya hingga tahun 2020. "Nanti rencananya kalau untuk trading-nya 250 pesawat, 200 untuk mereka, 50 untuk kita," kata dia.

Kerjasama pembuatan pesawat tempur ini menjadi salah satu cara Indonesia dalam rangka pengembangan alutsista untuk kebutuhan sekarang dan masa depan. Selain itu juga untuk meningkatkan kemampuan industri pertahanan dan meningkatkan kemandirian dan sistem pertahanan strategis.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

Jumat, 28 Januari 2011

Menhan : Idealnya Indonesia Perlu 180 Pesawat Tempur



JAKARTA - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan keputusan untuk menerima hibah pesawat tempur F16 dari Amerika belum final namun demikian pemerintah masih melakukan pertimbangan yang tepat terutama pengalokasian anggaran antara beli dan hibah.

“Kita memang memerlukan pesawat ini, karena kesiapan pesawat yang ada sangat minim. Apalagi seluruh wilayah nusantara memang kesulitan,” katanya di Jakarta, Kamis (27/1).

Menurut Purnomo, kesiapan pengamanan udara seluruh nusantara, di bawah 30 pesawat tempur perharinya. Perhitungan ideal untuk Indonesia diperlukan 180 pesawat tempur per hari atau 12 skuadron. “Singapura dengan wilayah yang tidak begitu besar memiliki F-16 tiga skuadron. Australia punya 80 pesawat F-18,” katanya.

Purnomo mengatakan bahwa pengalaman perang Trikora, yang dapat menggetarkan itu karena kekuatan laut dan udara kuat. “Kita berencana membeli 6 pesawat F-16 (@60 juta dollar). Jika kita alokasikan untuk meretrofit 24 pesawat hibah, maka akan masih menguntungkan,” katanya.

Menhan lebih lanjut menjelaskan, alasan Amerika menawarkan hibah F16 kepada Indonesia karena pesawat tersebut termasuk dalam pesawat dikonservir dalam mengurangi anggaran pertahanan Amerika Serikat dan bersamaan dengan kedatangan pesawat F-22 (KFX).

“Pesawat F16 yang ditawarkan AS masih bisa terbang waktu dibawa ke Arizona. Jam terbangnya masih sekitar 4 ribu sampai 5 ribu jam terbang. Masih sekitar 20 sampai 25 tahun bisa digunakan,” tuturnya.

Sementara itu, Kasau Marsekal TNI Iman Sufaat menjelaskan awalnya dari surat TNI AU 2009. Dijawab pada 2010 bersamaan dengan kunjungan Kasau ke Kasau Amerika mengungkapkan Thailand pernah mendapatkan 30 unit F16. Hibah ini gratis. Namun Block 15 dan block 25 perlu diupgrade lagi karena avioniknya sudah tua.

“Untuk upgrade satu pesawat 10 juta dollar. Barunya 60 juta dollar. Operasionalnya sudah terbukti di Timur Tengah. Keunggulannya teruji. Maintenance gampang daripada Sukhoi. Kita juga sudah biasa merawat F-16,” kata Kasau.

Imam mengatakan, anggaran 6 pesawat block 52 akan lebih menguntungkan dengan mengambil 24 pesawat F-16. Jika di upgrade ke block 32 akan lebih baik dari block 52. “Yang Program F-16 tidak mengambil anggaran Sukhoi,” ujarnya.

Dia menambahkan pesawat tempur F5 juga akan tetap diganti. Sukhoi pun yang enam belum ada alokasinya. “F-16 yang kita punya pun akan diupgrade ke block 32. Untuk biaya pemeliharaan. Satu jam terbang hanya 70 juta. Sedangkan Sukhoi 500 juta dan peralatannya cukup rumit,” ungkapnya.

Menurut dia Retrofit satu tahun 8 pesawat. Akan sangat menguntungkan dan mempercepat pemenuhan MEF. Untuk Sukhoi ada anggaran 84 juta dollar.

Sumber : BIPNEWSROOM

Minggu, 23 Januari 2011

Kepastian Hibah F-16 Belum Dapat Jawaban AS

YOGYAKARTA - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, kepastian hibah pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat kepada Indonesia masih menunggu jawaban negara adikuasa itu.

"Kami berharap segera ada jawaban mengenai hal itu," katanya di sela rapat pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Senin (24/1).

Ia mengatakan, pihaknya telah mengajukan permintaan kepada Amerika Serikat (AS) terkait dengan hibah 24 pesawat tempur F-16 pada 2009, tetapi hingga kini belum ada jawaban dari negara adidaya itu.

"Belum adanya jawaban dari AS kemungkinan karena banyak negara yang juga mengajukan permintaan hibah pesawat tempur F-16. Mereka juga ingin mendapatkan hibah pesawat tersebut," katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, pihaknya melakukan pendekatan khusus kepada pihak yang berwenang di AS agar permintaan Indonesia mengenai hibah pesawat tempur F-16 disetujui dan direalisasikan secepatnya.

Ia mengatakan, TNI AU juga berencana membeli pengganti pesawat OV-10 Bronco, helikopter, dan pesawat angkut, karena ada dana tambahan percepatan pengadaan alat alutsista sebesar Rp4 triliun.

"Dana tambahan tersebut selain digunakan untuk pengadaan alutsista juga dipakai untuk perawatan dan pembelian suku cadang alutsista. Hal itu sesuai dengan program perencanaan strategis pembangunan TNI AU 2010-2014," katanya.

TNI AU Siap Lakukan Penyelidikan

Terkait dengan munculnya lingkaran besar yang muncul di areal pesawahan Dusun Rejosari, Sleman, pada Minggu (23/1) TNI AU menyatakan siap jika diminta meneliti dan menyelidikinya.

"Kami akan menunggu perkembangan lebih lanjut. Jika diminta untuk terjun meneliti fenomena itu, kami siap melaksanakannya," kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di sela rapat pimpinan TNI AU di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Senin.



Menurutnya, jika melihat bentuk lingkaran besar yang muncul, itu kemungkinan besar tercipta oleh teknologi canggih.

"Fenomena tersebut memang bisa dimungkinkan oleh bekas jejak pendaratan UFO, karena banyak orang yang meyakini makhluk luar angkasa itu ada. Namun, kekuatan dan kemampuan kita mungkin belum mampu menjangkau teknologi makhluk asing tersebut," katanya.

Ia mengisahkan, saat dia bertugas di Madiun, Jawa Timur, pernah mendapat laporan ada makhluk asing berupa cahaya biru dengan kekuatan tinggi, tetapi tiba-tiba menghilang.

"Waktu itu masih pagi, tetapi ada kilatan cahaya aneh yang kemungkinan juga akibat teknologi tinggi, dan banyak orang yang meyakini fenomena itu adalah UFO," katanya.

Lingkaran besar di pesawahan Dusun Rejosari itu diketahui warga pada Minggu (23/1) usai hujan dan angin kencang di kawasan tersebut.

Beberapa warga meyakini lingkaran besar itu bekas pendaratan pesawat UFO dari planet lain, sementara lokasi penampakan diduga UFO itu terus dipadati warga yang ingin melihat fenomena langsung fenomena itu.

Sumber : ANTARA

Senin, 10 Januari 2011

Pesawat Siluman China, Jian-20 Terbang!

BEIJING - Video Pesawat tempur siluman China, Jian J-20 saat melakukan uji terbang di Chengdu selama 15 menit, diambil pada 9 Januari 2011 lalu. Credit for pengrong1000



Kamis, 06 Januari 2011

Pesawat Siluman China Pernah ke Guam, AS

BEIJING - Pesawat tempur siluman China telah terbukti tidak tertangkap radar. Menurut laporan dalam sebuah uji cobanya, pesawat J-20 yang membawa misil pernah sampai ke wilayah Guam tanpa diketahui Amerika Serikat.

Foto-foto pesawat J-20 sudah banyak mengisi halaman-halaman di internet. Situs Aviation Week bahkan menyebut pesawat ini akan resmi beroperasi pada 2017. Namun, kabar ini dibantah oleh Menteri Pertahanan Robert Gates. Dia mengklaim China baru bisa mengoperasikan jet tempur siluman pada 2020.

Beberapa ahli pesawat mengatakan jet tempur siluman China memiliki bodi lebih besar dari jet siluman yang sudah ada. "J-20 dikemudikan satu orang, dua mesin, lebih berat dan besar dari Sukhoi T-50 dan F-22," kata seorang ahli di situs Aviation Week.

Sumber : METROTVNEWS.COM




Selasa, 04 Januari 2011

KSAU Terima Kunjungan Mantan Komandan US PACAF

Bahas Pra-Kedatangan Mesin Pesawat F-16

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP., menerima kunjungan General (Ret) William J. Begert mantan Komandan US PACAF di Mabesau Cilangkap, Selasa (4/1).

Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk memonitor kesiapan engine pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU pasca embargo beberapa waktu lalu.

Juru bicara TNI AU, Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro, usai menghadiri pertemuan itu menyampaikan, perawatan dan pemeliharaan mesin F-16 TNI AU oleh AS sudah berjalan normal pasca-kebijakan embargo AS.

"Sudah tiga tahun ini mereka membantu dan memantau perawatan dan pemeliharaan mesih dan suku cadang F-16 kita," ungkap Bambang.

Perawatan dan pemeliharaan dilakukan oleh perusahaan Pratt & Whitney, di mana William Begert menjabat sebagai wakil pimpinan pengembangan bisnis dan layanan purna jual perusahaan tersebut.

Bambang mengemukakan, mereka terdiri atas beberapa tim yang rutin datang dua kali setahun melakukan pengecekan terhadap pesawat-pesawat F-16 yang bermarkas di Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur.

"Secara umum, perawatan dan pemeliharaan mesin yang dilakukan, disesuaikan dengan kondisi yang ada berlanjut seperti sebelum embargo dilakukan dan kemudian dicabut pada November 2005," katanya.

TNI Angkatan Udara kini memiliki 10 unit pesawat F-16 Fighting Falcon yang bermarkas di Skuadron Udara 3 Pangkalan Udara Iswahjudi.

Sumber : DISPENAU, ANTARA

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes