Tampilkan postingan dengan label Pesawat Patroli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Patroli. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2011

Empat Super Tucano Tiba Maret 2012


Super Tucano milik AU Ekuador (foto: Airliners.net

YOGYAKARTA - Kepala Dispen TNI AU, Marsma Bambang Samoedra mengatakan, pesawat EMB-314 Super Tucano dari Brazil akan datangkan awal tahun 2012 nanti.

Tahap pertama akan datang empat unit dari satu skadron yang direncanakan tiba, yakni pada Maret 2012. "Sisanya bertahap pada tahun itu juga," kata Bambang di Museum Dirgantara Mandala TNI AU Sekolah Penerbang Adi Sutjipto Yogyakarta, Kamis (30/6). Penandatanganan memorandum of understanding (MoU) pembelian, kata Bambang, telah dilakukan sejak November 2010 lalu dengan produsen Tucano, Embraer Brazil.

Satu skadron Super Tucano (16 pesawat) akan menggantikan pesawat OV-10F Bronco di Skadron 21 Malang yang sudah habis masa terbangnya. Bambang menilai, Super Tucano dipilih karena pesawat ini memiliki kualitas paling baik di antara pesawat sejenis lainnya.

Sebelum memilih Super Tucano, TNI AU juga sudah mempertimbangkan membeli pesawat serang kecil K9 buatan China dan KO1B buatan Korea. "Tapi, pilihan akhirnya jatuh pada Super Tucano," kata Bambang. Super Tucano adalah jenis pesawat serang ringan dengan fungsi patroli pemantauan dan sebagai pesawat latih. Pesawat baling-baling ini dilengkapi teknologi avionik modern dan sistem persenjataan terkini. Pesawat ini juga biasa digunakan dalam operasi penumpasan pemberontakan.

Setelah mendatangkan Super Tucano, TNI AU juga sedang merencanakan penambahan enam unit pesawat tempur Sukhoi dari Rusia dan pesawat tempur F-16 bekas dari AS. Usulan pembelian Sukhoi sudah diajukan ke Kementerian Pertahanan. Selain pesawat tempur, TNI AU juga berencana menambah pesawat angkut dan heli dalam waktu dekat.

Sumber : JURNAS

Sabtu, 30 April 2011

Mabes TNI AU Tandatangani Letter of Credit Pembelian 16 Super Tucano

MALANG - Sebanyak 16 pesawat tempur jenis Super Tucano EMB-314 buatan Brasil rencananya tiba pada 2012 untuk melengkapi alutista TNI-AU. Hal itu dikatakan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Syufaat, saat kunjungan kerja ke Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdurachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (29/4).

Kepastian datangnya pesawat diketahui setelah pihak Markas Besar TNI AU melakukan tanda tangan Letter of Credit untuk pembelian total 16 unit pesawat. "Penanda tanganan LoC itu, termasuk masa pelatihan bagi mekanik dan penerbang kita," katanya.

Ia menjelaskan, kedatangan pesawat Super Tucano akan dilakukan secara bertahap dimulai awal 2012. "Nilai kontrak pembeliannya sekitar 260 juta dolar AS dan saat ini tugas kita adalah mempersiapkan sarana dan prasarana, termasuk fasilitas bangunan seperti shelter, hanggar dan ruangan kantor," katanya.


KSAU, Marsekal Imam Syufaat, saat kunjungan kerja ke Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdurachman Saleh

Pesawat itu memiliki kemampuan yang paling unggul dibandingkan dengan pesawat sejenis lainnya. "Amerika saja memilih Super Tucano untuk memperkuat kekuatan udaranya, namun saat ini masih terkendala kebijakan politik negara tersebut," katanya.

Pemesanan pesawat ini dilakukan untuk mengganti pesawat jenis OV-10F Bronco yang pernah dimiliki Indonesia sebelum dinyatakan grounded pada tahun 2007.

"Rencananya, pesawat Super Tucano akan digunakan misi operasi taktis dalam membantu pasukan di darat, sebab pesawat ini memiliki keunggulan close air support udara ke darat dari jarak dekat," katanya.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Senin, 07 Maret 2011

Danlanud Abdulrachman Saleh Membuka Latihan Survival Dasar

MALANG - Komandan Lanud Abdulrachman Saleh Marsma TNI Agus Dwi Putranto Senin (7/3) membuka Latihan Survival Dasar “Bima Sakti XXXI” yang bertempat di Taxy Way Lanud Abdulrachman Saleh disaksikan seluruh pejabat dan anggota Lanud Abd Saleh.

Latihan survival dasar ini resmi dimulai pada 7 hingga 10 Maret 2011 dan merupakan Salah satu program kerja Lanud Abdulrachman Saleh yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Latihan ini dilaksanakan di Lanud Abdulrachman Saleh dan di daerah Ngantang dan waduk Selorejo Malang yang bertujuan untuk mengantisipasi keadaan yang sewaktu-waktu dapat terjadi terhadap awak pesawat dalam melaksanakan tugas.

Dalam sambutannya Danlanud mengatakan latihan ini sangat penting, karena selain melatih fisik, mental dan semangat mempertahankan hidup juga dapat meningkatkan kemampuan dan penguasaan dalam melakukan survival didarat dan di air.

Super Tucano Tiba September

Pada kesempatan yang sama Danlanud juga menjelaskan, bahwa Mabes TNI AU dan pemerintah telah memutuskan memilih dan membeli pesawat EMB-314 Super Tucano yang bakal menggantikan peran pesawat OV-10F Bronco. "Sebagai prajurit kami telah menyiapkan diri untuk memanfaatkan dan memelihara sebaik mungkin. Sudah kami siapkan pilot dan teknisi yang akan mengoperatori dan melayani perawatannya di Skadron 21," katanya.

Selain kesiapan SDM, infrastruktur Lanud Abdulrachman Saleh juga telah dipersiapkan menerima kedatangan 16 unit pesawat Super Tucano dari pabriknya di Brasil pada September 2011 nanti.

Menurutnya, secara bertahap teknisi dan calon pilot sudah dijadwalkan mendapat pendidikan. Namun beliau tidak merinci hal tersebut. "Super Tucano merupakan jenis pesawat serang dengan kecepatan lebih rendah dibanding pesawat tempur Sukhoi, hal ini memudahkan pilot mengamati sasaran darat, itu sebabnya pesawat ini cocok difungsikan sebagai pesawat serang darat (COIN)," katanya.

"Karakteristiknya mirip dengan peran OV-10, hanya saja Tucano jauh lebih modern, termasuk sistem navigasi, persenjataan dan mesinnya," sambung Agus. Tucano mampu membawa bom MK82, dan semua jenis senjata untuk tujuan penyerangan air to ground.

Sumber : PENTAK LANUD ABD.SALEH

Senin, 28 Februari 2011

Sambut Super Tucano, Skuadud 21 bangun Hanggar Baru

MALANG - Terkait kedatangan pesawat tempur EMB-314 Super Tucano dari Brasil yang tiba secara bertahap pada tahun 2011 ini, Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman akan membangun hanggar dan shelter baru untuk menunjang fasilitas operasional dan perawatannya. Rencananya, pesawat akan tiba empat unit dulu dari total 16 unit yang dipesan pada tahun ini," katanya.

Pembangunan hanggar di Lanud Abdurahman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur tersebut akan mulai dibangun pada triwulan II tahun 2011 atau sekitar Mei, Juni.

Komandan Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh Letkol Pnb Ferlianto, minggu lalu mengatakan, kecanggihan hanggar ini meliputi adanya tempat data link yang tersambung dengan komputerisasi, ruang simulator untuk percobaan pesawat, ditambah dengan teknologi Ground Support Equipment (GSE).

Kontrak pembelian pesawat tempur telah ditandatangani Desember 2010 lalu. Dalam rentang waktu 2010-2014, pihak Lanud Abdurahman Saleh telah menyiapkan pengadaannya.


EMB-314 Super Tucano

"Pada Januari lalu, Wakil KSAU melakukan kunjungan ke sini, karena pada triwulan I sudah dilakukan pengukuran maupun survei lapangan terhadap lokasi pembangunan hanggar yang akan digunakan pengembangan fasilitas Skadron Udara 21," ujarnya.

Pesawat tersebut dibeli sebagai pengganti pesawat OV-10F Bronco yang sudah di grounded pada 2007. Super Tucano mampu bermanuver dengan kecepatan tinggi dan rendah, serta melaksanakan kapabel beroperasi pada malam hari.

Untuk level Asia, Indonesia adalah yang pertama memiliki pesawat jenis ini. Selain Indonesia, pemakai lainnya tercatat antara lain Argentina, Prancis, Kuwait, dan Paraguay.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Jumat, 31 Desember 2010

Tak Ada Kejelasan Road Map Industri Dirgantara

JAKARTA - Pengembangan industri dirgantara belum menjadi prioritas pemerintah. Hingga kini, pemerintah tidak mempunyai peta jalan (Road Map) pengembangan industri dirgantara. Akibatnya, perkembangan industri bernilai strategis bagi bangsa itu sangat bergantung kepada pasar.

”Industri pesawat tidak bisa dibiarkan tumbuh sesuai mekanisme pasar yang sangat bergantung kepada supply-demand (ketersediaan dan permintaan),” kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Azis Iskandar seusai menyerahkan hasil uji aerodinamika pesawat N219 dari BPPT kepada PT Dirgantara Indonesia (DI).

Pembuatan satu paket pesawat N219 yang cocok digunakan untuk wilayah pedalaman Papua dan pulau kecil karena bisa mendarat di landasan berumput sepanjang 600 meter ini hanya Rp 1 triliun untuk 25 pesawat. Nilai itu, menurut Marzan, sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp 1.200 triliun, subsidi bahan bakar minyak lebih dari Rp 83 triliun, subsidi buku sekitar Rp 15 triliun, atau nilai investasi Jembatan Selat Sunda sekitar Rp 150 triliun.

”Ini bukan hanya soal besaran dana (Rp 1 triliun), tetapi pesawat ini harus dibuat untuk regenerasi engineer (insinyur) pembuat pesawat Indonesia,” katanya.

Mulai pensiun

Direktur Utama PT DI Budi Santoso menambahkan, pesawat N219 ini merupakan jembatan bagi ahli rekayasa pesawat Indonesia. Para ahli rekayasa dan teknisi hasil didikan pelopor industri pesawat terbang Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, pada 1980-1990, akan mulai memasuki masa pensiun.

Generasi pertama pembuat pesawat Indonesia itu pernah mengembangkan pesawat canggih di kelasnya, seperti CN235 dan N250. Agar ilmu yang dimiliki para ahli senior itu dapat diteruskan kepada ahli rekayasa dan teknisi muda, perlu media yang memungkinkan transfer ilmu dan teknologi itu berlangsung.

”Jika regenerasi ini tidak terjadi, kemampuan yang sudah dimiliki akan hilang. Artinya, jika setelah itu Indonesia ingin membangun kembali industri dirgantaranya, Indonesia harus memulai dari nol lagi,” ungkapnya.

Tidak terjadinya transfer teknologi itu dinilai Marzan sebagai kehilangan besar bagi Indonesia. Untuk membangun kembali kemampuan membuat pesawat butuh waktu lama dan biaya yang jauh lebih besar.

Ketiadaan peta jalan (road map) industri dirgantara juga membuat kebutuhan ahli pesawat Indonesia tidak jelas. Semula ahli di PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (nama lama PT DI) banyak disuplai oleh alumni Jurusan Teknik Penerbangan (sekarang Program Studi Aeronautika dan Astronautika) Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, para ahli dan teknisi itu juga diisi oleh lulusan Universitas Nurtanio Bandung dan Universitas Suryadarma, Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Setiap tahun, jumlah lulusan dari ITB diperkirakan sekitar 60 orang. Sejak industri dirgantara Indonesia surut akibat krisis ekonomi 1998, banyak alumnus ITB yang memilih bekerja pada maskapai penerbangan. Tanpa ada peta jalan yang jelas, lulusan teknik penerbangan tersebut akan sulit berkembang atau kemampuannya tidak termanfaatkan.

Sumber : KOMPAS

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes