Tampilkan postingan dengan label POLRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POLRI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Oktober 2011

SOP Penanggulangan Teror TNI-Polisi Disempurnakan

JAKARTA - Penyempurnaan standar prosedur operasi (SOP) penanggulangan teror antara satuan-satuan elit TNI dan Kepolisian Indonesia terus ditingkatkan. Sudah lama disadari bahwa kepaduan di antara kedua kekuatan ini dalam pencegahan dan penanggulangan teror di Tanah Air harus bisa ditingkatkan.

Salah satu arena "pengujian" penyempurnaan standar prosedur operasi ini adalah Latihan Bersama TNI-Kepolisian Indonesia bertajuk Waspada Nusa III 2011. Latihan puncak di lingkungan TNI dan Kepolisian Indonesia ini akan segera dilaksanakan dengan mengambil lokasi simulasi beragam.

Dalam latihan bersama itu, dilibatkan Detasemen Jalamangkara Korps Marinir TNI-AL, Detasemen B-90 Bravo Korps Pasukan Khas TNI-AU, Komando Pasukan Khusus TNI-AD, Gegana Kepolisian Indonesia, dan Detasemen Khusus 88 Kepolisian Indonesia.

Kesiapan latihan bersama TNI-Kepolisian Indonesia ini menjadi perhatian dari Kepala Staf Umum TNI, Letnan Jenderal TNI Suryo Prabowo. Bersama para komandan satuan-satuan elit TNI dan mitra polisinya, mereka memeriksa langsung kesiapan peralatan dan prosedur serta skenario latihan penanggulangan teror di Markas Komando Komando Pasukan Khusus TNI-AD di Cijantung, Rabu (12/10) kemarin.



Sinergitas berupa pemaduan keunggulan masing-masing satuan elit TNI dan Kepolisian Indonesia menjadi tema penting yang dibahas mereka. Dalam menanggulangi serta mencegah jaringan terorisme, terdapat dua dimensi, yaitu dimensi keamanan dan keselamatan negara serta dimensi penegakan hukum sipil. Yang terakhir ini menjadi ranah polisi sipil.

Model latihan yang diterapkan kali ini cukup berbeda ketimbang yang selama ini dilaksanakan karena juga melibatkan instansi di luar TNI dan Kepolisian Indonesia, yaitu BNPT, pemadam kebakaran, Direktorat Jenderal Bea Cukai, PT Telkom, hingga anggota-anggota satuan pengamanan di lokasi-lokasi yang dijadikan arena berlatih.

Walau tidak diungkap skenario kejadian yang akan dipergunakan, namun laiknya latihan anti teror, urutan kejadian dimulai dari informasi awal dari pelaku teror kepada pihak yang menjadi sasaran. Pihak terakhir ini menghubungi instansi yang berwenang yang berujung pada keputusan dari pemegang otoritas pertahanan dan keamanan negara menggunakan satuan-satuan elit TNI dan Kepolisian Indonesia secara bersamaan untuk menggulung mereka.

Dalam waktu kurang dari satu bulan lagi, Indonesia akan menjadi tuan rumah KTT ASEAN di Nusa Dua, Bali. Paling tidak 16 kepala pemerintahan dan kepala negara akan menghadiri pertemuan puncak yang akan menjadi landasan penting bagi pembentukan Komunitas ASEAN, yang diharapkan bisa sejajar dengan Komunitas Eropa sebagai kaukus kawasan, ekonomi, dan politik.

Selain 10 kepala negara dan kepala pemerintahan anggota ASEAN, tiga negara mitra telah memastikan kehadiran kepala pemerintahannya, yaitu India, Korea Selatan, Jepang, ditambah China. Salah satu tamu negara yang dipastikan juga hadir sekaligus menyita persiapan cukup panjang dari sisi pengamanan, adalah Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

Sumber : ANTARA.CO.ID

Rabu, 07 September 2011

Pengadaan Alutsista Dahulukan Industri Dalam Negeri



JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan pengadaan peralatan untuk TNI maupun Polri harus mendahulukan industri dalam negeri.

Dalam pengantarnya sebelum memulai rapat kabinet terbatas bidang Polhukam membahas pengadaan alutsista di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/9), Presiden mengatakan alutsista boleh dibeli dari pihak asing apabila belum bisa dibuat industri dalam negeri.

"Wajib hukumnya, baik jajaran Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian untuk membeli alutsista itu, peralatan dan perlengkapan itu, manakala itu sudah bisa dijual oleh industri dalam negeri kita," ujarnya.

Presiden mengatakan "jangan karena rekanan atau pertimbangan lain maka akhirnya alutsista tidak dibeli dari industri dalam negeri yang telah bisa menghasilkannya."

"Kalau memang ada yang belum sepenuhnya bisa dibikin industri dalam negeri kita, PAL, Pindad, DI, LEN, dan sebagainya, usahakan suatu kerjasama misalnya produksi bersama, investasi bersama, dengan industri serupa dari negara-negara sahabat," tuturnya.

Dia mencontohkan peralatan yang belum bisa dibuat di dalam negeri antara lain pesawat tempur dan kapal selam.

Presiden juga mengatakan pengadaan alutsista yang pasti membutuhkan biaya besar harus diutamakan berasal dari pendanaan dalam negeri guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pinjaman luar negeri.

Sumber : ANTARA

Senin, 01 Agustus 2011

Seminar Penanggulangan Teroris & Pameran Senjata Pasukan Khusus Anti Teror

JAKARTA - Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI mengelar seminar penanggulangan terorisme mulai hari ini, Selasa (2/8) hingga Rabu (3/8). Seminar ini menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Wakil Asisten Teritorial Kepala Staf TNI AD Mayor Jenderal Agus Surya Bakti, pengamat terorisme Al Chaidar, Wakil Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Inspektur Jenderal Bekto Soeprapto, pengamat terorisme dari Australia Beliver Singh, serta AS. Hikam dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Pada hari pertama seminar, pembahasan akan difokuskan pada penanggulangan terorisme dengan menggunakan pendekatan secara lunak (soft approach). Seperti penanggulangan terorisme melalui bidang ekonomi, penguatan pendidikan dasar, serta deradikalisasi.

"Seminar ini untuk mendapatkan pembahasan mendalam soal terorisme," ujar Gubernur Lemhannas Budi Susilo Supandji di Gedung Lemhannas.

Seminar juga akan memfokuskan penanggulangan terorisme dengan metode pendekatan keras atau hard approach. Ada tiga cara yang bisa digunakan melalui pendekatan keras ini. Yakni melalui intelijen, pendekatan hukum, dan militer. "Setelah dibahas, naskah seminar akan dikirimkan pada Presiden sebagai masukan kebijakan," ujarnya.

Tak hanya pemaparan dari para pembicara, seminar tersebut juga sekaligus mempertontonkan sejumlah persenjataan untuk penanggulangan terorisme dari Detasemen Khusus Anti Teror Bravo 90 (Den Bravo) Paskhas TNI Angkatan Udara, Detasemen Jalamangkara (Denjaka) Marinir TNI AL, serta Satuan Penanggulangan Teror-81(Sat-81) Kopassus TNI AD. Detasemen Khusus Antiteror 88 Polri juga menampilkan contoh-contoh bom yang digunakan para pelaku teror, seperti dalam kasus Bom Bali, bom buku Utan Kayu, bom Cirebon, dan bom Serpong.

Kamis, 28 Juli 2011

Pameran Kepolisian Jawa Timur 2011

SURABAYA - Seorang perempuan mencoba perlengkapan tempur dan senjata api M16 Modifikasi yang dimiliki Satuan Brimob Polda Jatim, saat East Java Police Expo 2011, di Balai Pemuda Surabaya, Rabu (27/7). Pameran yang digelar oleh Polda Jatim tersebut, bertujuan untuk lebih dekat kepada masyarakat. FOTO ANTARA/Eric Ireng/ed/ama/11


Selasa, 21 Juni 2011

Kunjungan Bersama Akmil & Akpol ke Mapolda Jatim

SURABAYA - Sejumlah Taruna Akademi Militer (Akmil) dan Akademi Polisi (Akpol) mengamati senjata mesin ringan saat kunjungan di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (20/6). Kunjungan dari 741 taruna dan taruni dari jajaran TNI-AL, TNI-AU, TNI-AD, dan Polri bertujuan untuk menjaga sinergi atau integrasi dalam pendidikan Akmil dan Akpol mempererat hubungan TNI dan Polri sejak masa pendidikan. FOTO ANTARA/M Risyal Hidayat/ed/NZ/11


Rabu, 08 Juni 2011

Kerja Sama Teknologi Ristek & Kepolisian Ditandatangani

JAKARTA - Kementerian Riset dan Teknologi menjalin kerja sama dengan Kepolisian. Kerja sama itu dibuat guna mendukung pengembangan ilmu pengetahuan di bidang penegakan hukum.

"Kerja sama akan melibatkan sejumlah instansi yang berkepentingan dengan program tersebut," ujar Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, usai menandatangani naskah kerja sama di ruang Rupatama Mabes Polri, Rabu (8/6).

Beberapa instansi tersebut di antaranya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Badan Tenaga Nuklir Nasional, dan Industri Pertahanan Dalam Negeri. "Termasuk sejumlah kampus, seperti ITB dan ITS," ujar Suharna.

Kepala Kepolisian RI, Jenderal Timur Pradopo menilai penting kerja sama tersebut. Menurut dia, dukungan iptek merupakan instrumen penyelidikan yang banyak membantu tugas kepolisian. Hal mana tampak dari penggunaan robot pendeteksi bom atau teknologi forensik guna identifikasi korban kejahatan. "Kerja sama ini sebenarnya sudah lama dibuat, khususnya yang menyangkut teknologi tinggi," ujarnya.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

Kamis, 07 April 2011

Latihan Sistem Pengamanan Markas Gegana Brimob

SEMARANG - Sejumlah anggota Gegana Brimob Polda Jateng mendapat pengarahan dari Kepala Detasemen Gegana Brimob Polda Jateng, Kompol Andi Rifai (kanan), usai melakukan latihan sistem pengamanan markas, di Mapolda Jateng, di Semarang, Jumat (8/4). Latihan yang dilakukan secara mendadak itu untuk mengetahui sekaligus mengasah kemampuan anggota dalam mempersiapkan senjata, perlengkapan dan kecepatan bergerak untuk menangani berbagai aksi teror. FOTO ANTARA/R. Rekotomo/Koz/pd/11.



Kamis, 24 Maret 2011

Simulasi Anti Teror Gegana Polri

SURABAYA - Sejumlah anggota Detasemen Gegana Satbrimobda Jatim, siaga sebelum melakukan penumpasan teroris dan penjinakan bom di salah satu gerbong KA Komuter jurusan Surabaya-Sidoarjo, di Stasiun KA Kota Gubeng Surabaya, Kamis (24/3). FOTO ANTARA/Eric Ireng/Koz/mes/11.




Selasa, 08 Maret 2011

Kerjasama RI-Filipina Perangi Teroris

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) dan Presiden Filipina Benigno Simeon Cojuangco Aquino III (kiri) menyaksikan Kapolri Jenderal Pol. Timur Pradopo (kedua kanan) dan Kepala Kepolisian Filipina Director General Raul M. Bacalzo saling bertukar naskah Nota Kesepahaman di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (8/3). Nota Kesepahaman tersebut soal perpanjangan kerjasama di bidang penanganan dan pemberantasan terorisme dan kejahatan lintas negara antara kedua negara. FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/pd/11.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes