Tampilkan postingan dengan label Berita Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Sains. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Desember 2009

Meramal Gempa, Bagaimana Bisa Akurat?


Netsains.com - Bagaimana mungkin ramalan gempa nextearthquake bisa memiliki kepastian di atas 90% ? Bagaimana cara meramalnya ? Nah, ini dia penjelasannya.

Di bawah ini akan dijelaskan bagaimana cara website Nextquake membuat prediksi yang memiliki kesuksesan diatas 90%.

Coba kita ulangi lagi bagaimana perkiraan gempa itu.

Paling tidak ada dua jenis yaitu short term prediction dan longterm prediction. Yang satu meramalkan dalam waktu dekat, yang lain meramalkan dalam jangan panjang.

Ketiga aspek gempa yang ingin diketahui pada shorterm prediction itu adalah sebagai berikut :

* Dimana tempatnya? Mencakup area yang cukup sempit.
Efek bencana sangat merusak sekitar radius 10-20 Km ( di Jogja, Padang). Ramalan yang diinginkan untuk resque (penyelamatan) tentusaja yang memiliki akurasi seperti ini.

* Seberapa besar kekuatannya? Dalam skala gempa tertentu.
Saat ini yang diketahui besarnya “potensi” yang tersimpan dalam satu segmen. Berapa yang “bakalan” dilepaskan masih belum (susah) diketahui. Bisa sekali besar, bisa kecil-kecil banyak, atau bahkan slow quake (silent quake) !

* Kapan terjadinya? Dalam rentang waktu yang memadai.
Periode waktu yang diinginkan tentusaja short term (jangka pendek).

Apakah yang di atas itu dipenuhi dalam predisksi yang dilakukan nextearthquake itu ?


Statistik Gempa di Indonesia.

Sebagai gambaran di bawah ini kita lihat gempa-gempa besar yang memiliki magnitude diatas M5. Data gempa ini diambil dari USGS untuk periode pengukuran sejak tahun 1973-2009 (36 tahun).

Di atas itu gempa-gempa di Indonesia yang mempunyai kekuatan di atas 5SR. Ingat yang diatas itu gempa dengan kekuatan di atas 5 SR !

* Sejak 1973-2009 (36 tahun) terdapat 15 000 gempa di Indonesia.
* Artinya dalam satu tahun akan terjadi 417 kali gempa.
* Sehingga dalam satu hari akan terjadi paling tidak satu kali gempa dengan kekuatan diatas 5 SR !

Dengan dasar di atas tentunya kita tahu bahwa secara statistik saja dapat diketahui bahwa dalam satu hari saja di Indonesia akan terjadi gempa dengan kekuatan paling tidak 5SR. Tentu saja gempa-gempa yang ukurannya lebih kecil dari 5SR akan lebih sering terjadi, namun kita tidak merasakan, karena pusat gempanya dalam atau pusat gempanya jauh dari lokasi kita berada.


Meramal dengan Jitu

Nah, sekarang coba tengok bagaimana bentuk ramalan dari web yang bikin heboh itu. Di bawah ini satu ramalan untuk gempa di Sumatra. Perhatikan dengan seksama besaran gempa yang diperkirakannya, dan perhatikan radius daerah yang diperkirakannya.

Tentu saja kita tahu dalam radius 500 Km maka secara statistik saja akan memiliki gempa yang jumlahnya ratusan selama periode 7 hari. Apalagi kekuatan yang diperkirakan memiliki rentang M3.9-M5.9 dan M4.2-M6.2. Selisih sekala 3 itu artinya 10pangkat3 kali. M6.2 = seribu kali M4.2 kekuatan gempa nya … jadi rentangnya dari ngga kerasa kalau pusatnya didalam hingga ambyarrr kalau gempa dangkal !!

Juga rentang waktu ini dikoreksi ketika gempa itu tidak terjadi, artinya kesalahannya dikoreksi ketika ramalannya meleset. Dan nantinya hanya dimasukkan yang ramalannya cocok.

Radius 500 Km itu artinya mencakup lebih dari setengah dari Pulau Sumatra, dan hampir seluruh Jawa. Artinya daerah yang diperkirakan sangat luaaas. Dan dalam artian mitigasi mungkin tidak akan berarti. Walaupun untuk kewaspadaan sangatlah diperlukan mental selalu bersiap menghadapi apapun yang terjadi.

Ya selalu tepat doonk !

Tentu saja, ramalan ini akan selalu tepat atau memiliki tingkat akurasi yang lebih dari 90%. Radiusnya lebar, besar magnitudenya bervariasi, serta jangka prediksi waktunya selalu dikoreksi. Di sinilah letak kepintaran si peramal. Melakukan koreksi terus menerus seolah-olah merupakan shorterm prediction.

Dengan penjelasan sederhana seperti ini tentunya kita tahu bahwa ramalan itu ada batasannya, ke-akurasi-annya tergantung dari rentang yang dibuat. Salam waspada, dan jangan tunggu ramalan !

foto:http://chipbruce.files.wordpress.com/2009/10/earthquake-img.jpg

Sumber: Netsains.com

Roby Muhamad: “Orang Hebat Bukan Segalanya!”




Netsains.Com
– Menolak pengelompokan sains eksak dan non eksak, Roby Muhamad pasti punya alasan. Ya, sebab alumni Fisika ITB ini memang sejak awal tak terpikir akan membelot jadi ilmuwan sosial. Sejak kecil sudah terpatri bahwa ilmuwan itu identik dengan ilmu alam. Faktanya, ayah dari Toby ini kini tengah menyelesaikan disertasi bidang sosiologi di Columbia University.

Berikut adalah hasil interviu jarak jauh Netsains.Com dengan peneliti bidang jejaring sosial yang juga rajin menulis di berbagai media ini.

“Penelitian utama saya adalah mengenai jejaring sosial. Spesifiknya saya meneliti mengenai bagaimana orang bisa menggunakan jejaring sosial untuk menemukan sesuatu; misal pekerjaan, investor, jodoh. Saya juga tertarik meneliti bagaimana sesuatu menyebar di jejaring sosial; terutama dalam proses politik seperti mobilisasi untuk gerakan sosial, demonstrasi, atau kampanye politik. Saya juga sedang belajar landasan moral kapitalisme modern,” papar penggemar Dostoevsky ini mengenai kesibukannya terkini.

Menjadi ilmuwan memang sesuai dengan cita-cita sejak kecil, sebab Roby dibesarkan di keluarga akademisi, sehingga menekuni sains memang menjadi hal natural baginya.

Bagi Robi, yang utama dibutuhkan dalam mewujudkan cita-cita adalah keberanian untuk mengikuti rasa ingin tahu. “Saya sebut keberanian karena sering kali apa yang kita tertarik itu bukan hal populer diantara teman-teman kita, dan melawan pendapat populer perlu keberanian. kKita harus berani mengambil pilihan sendiri meskipun kita dilihat berbeda oleh orang-orang di sekitar kita,” tambahnya.

Jika dikatakan minat sains anak Indonesia kurang, ayah dari Toby ini tidak setuju.
Sekian tahun tinggal di Amerika, Roby justru melihat bahwa minat remaja Indonesia terhadap sains lebih besar dibanding minat anak-anak Amerika terhadap sains. Tetapi masalahnya adalah mereka yang berminat thd sains ini sulit menemukan “role model” ilmuwan. Meskipun ilmuwan di Indonesia terus bertambah secara kuantitas dan kualitas, tapi masih relatif sedikit. Sehingga sulit bagi mereka untuk menyalurkan minatnya ini secara serius karena kesulitan mendapatkan pembimbing yang baik. Jadinya meskipun mereka berminat tinggi pada sains, jika mereka kurang mengerti bagaimana sebetulnya sains dihasilkan dan ilmuwan bekerja, sulit bagi mereka untuk memilih sains sebagai mata pencaharian.

Hebat Bukan Segalanya

Menurutnya, semua orang di Indonesia setuju bahwa sains dan pendidikan adalah penting. Yang perlu dilakukan adalah menunjukkan bahwa hasil penelitian sains itu berguna dalam arti seluas-luasnya bagi kehidupan kita.

Fenomena yang terjadi saat ini adalah, anak muda di manapun punya kecenderungan serupa, yaitu cenderung tidak tertarik pada sains. Yang menjadi saintis memang hanya sedikit saja. Tapi bedanya di negara yang lebih maju, mereka yang sedikit ini mampu mengembangkan minatnya secara maksimal.

Indonesia sendiri sebenarnya punya SDM sangat hebat, dan pastinya banyak potensi-potensi tersembunyi yang belum digali dari manusia Indonesia. Tapi negara kita tetap miskin terus, politik dan ekonominya amburadul. Roby beranggapan bahwa itu adalah bukti bahwa oranghebat bukan segalanya. “Yang lebih penting adalah menciptakan sistem di mana setiap orang dapat berkontribusi dalam penyelesaian masalah di sekitarnya. Sehebat apapun seseorang, ia tetap kerdil jika dibandingkan dengan masalah yang dihadapi Indonesia,” jelas suami dari Tika Sukarna ini.

Roby juga setuju bahwa ilmuwan harus lebih peduli dan mau terlibat proses politik dan mau secara sungguh-sungguh melakukan pendekatan ke publik.

Lantas, kenapa Roby tidak setuju dengan adanya paradigma pemisahan sains antara eksak dan non eksak? Ia berpikir pemisahan itu adalah suatu kekeliruan. Ia beranggapan bahwa ains adalah metode untuk memecahkan masalah. Masalah yang dipecahkan bisa mengenai masalah gerak planet, dinamika protein, masalah kemiskinan, hingga masalah konflik etnis. Jika kita melihatnya seperti itu, maka kita bisa lihat bahwa sains apapun perlu didukung untuk membantuk menyelesaikan segala masalah yang kita hadapi.

Ilmuwan Harus Komunikatif

Nah, bagaimana agar Indonesia bisa mengejar ketertinggalannya di bidang sains dan teknologi?

“Saya pikir sangat perlu untuk para saintis mau berkomunikasi lebih banyak dengan publik, mau berbagi pengetahuannya dengan publik sehingga publik bisa mengerti relevansi pengetahuan tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Jika publik bisa melihat dan merasakan langsung bahwa sains dan teknologi bisa membuat hidup lebih baik – bukan hanya sebagai ‘mainan’ segelintir saintis – maka baik sainsnya itu sendiri dan komunitas saintis juga akan semakin maju.,” ujar Roby.

Roby pastinya hanya satu di antara sekian banyak orang Indonesia yang menuntut ilmu ke luar negeri, atau bahkan bekerja dan menetap di negara lain. Selama ini banyak pandangan skeptis yang mengatakan bahwa orang Indonesia yang sudah menuntut ilmu ke negara lain, haruslah kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmunya. Jika tidak, maka ia dicap kurang cinta pada Indonesia, bahkan disebut ‘penghianat’. Menyikapi hal ini, lelaki pemilik situs Berjejaring.Com ini tudak setuju. Menurutnya, menghakimi orang dengan cap “pengkhianat” secara umum tentunya tidak baik. Kondisi setiap orang berbeda-beda sehingga pilihan pulang atau tidak adalah keputusan pribadi masing-masing yang harus dihormati.

“Meskipun demikian, kita harus ingat bahwa mesin utama kemajuan sains dan teknologi adalah kebutuhan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi secara komprehensif. Hal ini bisa dicapai jika solusi sains dan teknologi muncul secara organik dari kebutuhan lokal. Jadinya komunitas saintis dan sains yang dihasilkan memiliki akar yang kuat di lingkungan masing-masing. Jadi meskipun para saintis asal Indonesia yang menetap di luar negeri masih bisa membantu membangun komunitas ilmiah ini, tetap perlu ada ilmuwan-ilmuwan yang kembali ke Indonesia dan membangun komunitas ilmuwan local,” ujar Roby menutup obrolan.

Foto: dokumen pribadi Roby Muhamad

Sumber: Netsains.com

Ratusan Super-Bumi Ditemukan


PARA astronom menemukan ratusan planet menyerupai Jupiter di galaksi Bimasakti. Ini memberikan harapan bahwa kita akan menemukan planet-planet yang berbatu dan memiliki air seperti di Bumi.

Seorang astronom dari Harvard University Dimitar Sasselov menyatakan sejumlah planet berbatu tersebut memiliki massa yang lebih besar daripada Bumi. Karenanya, planet tersebut dinamakannya Super-Earths atau Super-Bumi yang mencerminkan massa mereka.

"Bahkan, planet-planet yang memiliki massa 2 hingga 10 kali massa Bumi tersebut dapat lebih unggul untuk menjamin kehidupan berkelanjutan," ujar Sasselov. Maklum, massa planet berhubungan dengan tektonik. Semakin besar sebuah planet, akan lebih banyak aktivitas tektoniknya, seperti gempa.

Sekadar informasi, para ahli meyakini gerakan tektonik berguna untuk melepaskan karbon yang ada di dalam batu. Betul, bila karbon terlalu banyak akan menyebabkan pemanasan global. Namun, bila karbon terlalu sedikit, maka planet menjadi dingin.

Penemuan Super-Bumi tersebut berhasil berkat berbagai misi astronomi, seperti yang dilakukan oleh teleskop luar angkasa Kepler pada tahun ini.

Sasselov memperkirakan akan kembali ditemukan ratusan planet yang menyerupai Bumi lainnya di galaksi Bimasakti. "Dalam 5-10 tahun ke depan, kita akan kembali menemukan 50-100 Super-Bumi," ujarnya.


Sumber: Media Indonesia

Kesepian Menular seperti Virus


KOMPAS.com — Kesepian ternyata mirip wabah flu, bisa menyebar dalam sekelompok orang di dekatnya. Begitulah menurut suatu penelitian terbaru. Kalau flu bisa tersebar lewat berjabat tangan, orang bisa "terjangkit" kesepian melalui interaksi yang negatif.

Menurut penelitian John Cacioppo, psikolog dari Universitas Chicago, seseorang yang kesepian biasanya tak mudah memercayai orang lain sehingga masalah kecil bisa menjadi besar. Lirikan atau kata-kata yang sedikit janggal, yang biasanya tak akan dipermasalahkan oleh seorang yang ceria, bagi orang yang kesepian bisa sangat menyinggung sehingga memicu suatu siklus interaksi negatif yang mengakibatkan hilangnya teman-teman.

Intinya, seseorang yang kesepian akan kehilangan hubungan dengan orang lain dan orang lain itu juga bisa terputus hubungannya dengan orang-orang lain lagi. Akhirnya, orang-orang yang hubungannya terputus itu berisiko menjadi golongan yang terasing dari kelompok sosial.

"Seseorang yang kesepian mengantisipasi reaksi negatif dari orang lain, dan akhirnya mereka memang mendapatkan reaksi negatif itu dalam lingkungan. Sebagian karena mereka mengantisipasinya dan sebagian karena mereka sendiri yang mengundang reaksi itu," kata Cacioppo.

Temuan ini, yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Social Psychology edisi Desember mengindikasikan bahwa kesepian bukanlah bagian dari sifat, seperti dalam ungkapan "orang itu sifatnya penyendiri". Namun, kesepian merupakan suatu keadaan seperti kelaparan.

"Pada dasarnya, kita adalah makhluk sosial. Maka dari itu, kita perlu orang lain untuk bekerja sama," ujar Cacioppo. Karena itu, kesepian mungkin bisa saja merupakan evolusi dari perasaan bahwa ada orang yang mengucilkan Anda.

Hitung teman-teman Anda

Penelitian ini dilakukan pada lebih dari 5.000 individu yang berpartisipasi dalam penelitian antara tahun 1991 dan 2001. Setiap dua hingga empat tahun, para subyek mengisi kuesioner yang mengukur depresi dan kesepian mereka, menyerahkan catatan medis mereka, dan mengikuti pemeriksaan fisik.

Kuesioner itu antara lain menanyakan para partisipan seberapa sering dalam seminggu terakhir mereka mengalami perasaan tertentu, termasuk rasa kesepian. Pilihan jawabannya: setiap hari atau beberapa kali dalam sehari; setiap satu atau dua hari; setiap tiga atau empat hari; dan setiap lima hingga tujuh hari. Para partisipan juga diminta menyebutkan semua sahabat dan kerabatnya, yang sebagian juga mengikuti penelitian ini.

Dari informasi ini, para peneliti mengamati suatu jaringan sosial yang memperlihatkan hubungan antar-individu dan rata-rata jumlah hari kesepian bagi seseorang dan orang-orang yang terhubung dengannya.

Tiga derajat


Bahkan, hasil penelitian juga menemukan bahwa kesepian bisa menular hingga tiga derajat pemisahan. Jadi, rasa kesepian seseorang bukan saja tergantung dari rasa kesepian teman, melainkan juga dari temannya teman, dan dari teman temannya teman.

Kemungkinan partisipan terserang kesepian mencapai 52 persen lebih tinggi bila teman yang memiliki hubungan langsung dengannya (derajat pertama dari pemisahan) sedang kesepian. Untuk derajat kedua, kenaikan mungkin hanya 25 persen, dan bagi derajat ketiga hanya 15 persen. Jumlah anggota keluarga tak memengaruhi tingkat kesepian.

Seiring waktu, pribadi yang kesepian akan menjadi lebih kesepian dan memancarkan kesepian itu pada orang lain sebelum akhirnya memutuskan hubungan. Para individu yang tanpa sahabat ini akhirnya terbuang di pinggiran jaringan sosial.

"Orang-orang yang hanya memiliki sedikit sahabat cenderung akan menjadi lebih kesepian seiring waktu, dan akhirnya kemungkinan mereka untuk mencoba membuat hubungan sosial baru yang juga mengecil," begitulah pernyataan Cacioppo.

Karena kesepian sering kali dihubungkan dengan berbagai penyakit mental dan fisik, termasuk depresi, temuan tersebut menyadarkan pentingnya perhatian lebih terhadap orang-orang yang kesepian. Masyarakat seharusnya lebih peduli terhadap orang-orang di pinggiran jaringan sosial itu agar hubungan jaringan sosial mereka bisa dipulihkan kemudian bisa dibentuk perlindungan terhadap kesepian agar jaringan sosial tidak koyak.


Sumber: Kompas.Com

Rabu, 02 Desember 2009

Secara Sains, Isu Kiamat 2012 Hanya Isapan Jempol...

Daratan terbelah dalam film 2012.


KOMPAS.com - Film 2012 yang ditayangkan di bioskop menyita perhatian publik di tanah air. Meskipun larangan menonton muncul dari Majelis Ulama Indonesia di berbagai daerah, antrean panjang calon penonton justru kian panjang.

Publik semakin penasaran, sementara di lain pihak MUI khawatir film ini bisa mengguncang keyakinan iman penonton. Titik kontroversi dari film Hollywood ini tidak lain adalah adegan kiamat yang menjadi pesan cerita film ini.

Padahal, jika dikaitkan dengan kajian sains, film ini tidak lain berangkat dari isapan jempol belaka. Ide kiamat di film ini berangkat dari ramalan Suku Maya bahwa pada 21 Desember 2012 akan terjadi kiamat di bumi.

Avivah Yamani dari Langit Selatan menepis ramalan ini. Ia mengatakan, prediksi kiamat bangsa Maya pada 21-12-2012 tidak lain karena di tanggal itu adalah akhir dari siklus kalender. Atau, dengan kata lain kehabisan angka. Sebab, penanggalan Maya berlandaskan sistem bi-desimal (bilangan 20).

Kejanggalan lain adalah mengenai bergesernya kerak dan lempeng bumi secara ekstrim akibat pengaruh badai Matahari seperti yang digambarkan di film itu. Di 2012 digambarkan bahwa lidah Matahari dapat menghasilkan neutrinos, yaitu semacam gelombang microwave yang dapat memanaskan suhu inti bumi.

Padahal, seperti yang diungkapkan Dhani Herdiwijaya, ahli Fisika Matahari dari Institut Teknologi Bandung, lidah Matahari adalah fenomena umum yang terjadi sepanjang siklus keaktifan Matahari selama 11 tahun. Aktifnya Matahari ini ditandai dengan kemunculan bintik hitam di permukaan.

Saat bintik hitam muncul, di perut Matahari terjadi rotasi aliran massa yang dapat mempengaruhi gaya medan magnetnya. Pada puncak aktivitasnya, medan magnet ini berpusar hingga menembus ke lapisan fotosfer.

Temperaturnya 4.000 4.500 derajat Kelvin, sangat kontras dengan suhu di sekelilingnya sebesar 5.800 derajat Kelvin. Aktivitas medan magnetik yang kuat di bintik matahari ini dapat memanaskan lapisan kromosfer Matahari dan menimbulkan flare (ledakan cahaya) dan Corona Mass Injection (CME).

Aktivitas Flare dan CME yang tinggi bisa menimbulkan badai antariksa. Partikel-partikel terlontar yang sampai ke bumi berdampak signifikan pada iklim di Bumi dan dapat juga menimbulkan badai magnetik yang bisa menganggu komunikasi radio.


Pendinginan global

Yang jadi persoalan, ucapnya, saat ini tengah terjadi kecenderungan penurunan aktivitas Matahari. Tingkat radiasi medan magnetik Matahari terus turun. Kini berada di titik minimal. Dalam beberapa tahun terakhir, bintik matahari juga sangat jarang terbentuk.

Untuk itu, ia merasa tidak yakin jika di 2012 bakal terjadi badai Matahari ekstrim seperti yang dispekulasikan masyarakat. Yang orang-orang tahu saat ini, Bumi tengah terjadi pemanasan global. "Padahal, sebetulnya, kita juga tengah menghadapi kemungkinan kondisi global cooling," ujar Dhani kemudian.

Jadi, jika pun terjadi kiamat, itu bisa jadi karena kita tidak dapat menggunakan peralatan telepon, televisi, dan jaringan komunikasi, secara sementara akibat pengaruh serangan gelombang elektromagnetik dari badai Matahari. Itu pun jika terjadi...


Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono

Sumber: Kompas.Com

Energi Bersih Selamatkan Jiwa


HONGKONG, KOMPAS.com – Perbaikan sistem insulasi dan ventilasi rumah serta menghindari pemakaian bahan bakar fosil bisa mengurangi polusi dalam rumah dan menyelamatkan ribuan nyawa, terutama di negara berpendapatan rendah seperti India, begitulah hasil suatu penelitian.

Dengan memakai model matematika dan studi kasus, para peneliti menyatakan bahwa strategi seperti itu bisa mencegah 5.500 kematian usia dini dan mengurangi emisi karbondioksida hingga 41 megaton, atau 41 juta ton, per tahun di negara seperti Inggris.

"Polusi bahan bakar dalam rumah tangga bisa dihentikan dengan mengganti bahan bakar fosil rumah tangga dengan listrik, dan penghematan energi bisa dilakukan dengan menurunkan suhu pemanas ruangan," kata para peneliti pada suatu karya tulis dalam terbitan berseri 'The Lancet Series on Health and Climate Change' mengenai kesehatan dan perubahan iklim.

Dipimpin Paul Wilkinson di Fakultas Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Tropis, para peneliti menyatakan bahwa biaya untuk perbaikan efisiensi energi tersebut memang cukup tinggi tapi akan tertutup oleh besarnya penghematan bahan bakarnya.

Para peneliti mengamati pemakaian kompor yang lebih bersih (menghindari bahan bakar minyak) di negara berpendapatan rendah seperti India akan berpengaruh pada kesehatan, dimana pembakaran biomassa menyebabkan penyakit paru-paru dan jantung.

Dengan anggapan bahwa 150 juta rumah memasang kompor beremisi rendah yang efisien, menurut para peneliti: "Pada tahun 2020, 87 persen dari rumah tangga di India akan mendapatkan udara dan pembakaran yang lebih bersih."

"Total jumlah kematian usia dini akibat penyakit saluran pernafasan yang bisa dihindari akan mencapai 240.000 untuk balita, dan kematian orang dewasa yang disebabkan penyakit jantung ishaemic dan penyakit paru obstruktif kronis bisa berkurang lebih dari 18 juta."

Pada suatu karya tulis lain dalam seri yang sama, para peneliti mengatakan bahwa mengurangi pembangkit listrik berbasis karbon bisa sangat membantu kesehatan seluruh dunia, terutama di negara-negara seperti India dan China.

Dipimpin Anil Markandya di Pusat Perubahan Iklim BC3 di Basque, Spanyol, para peneliti memperhitungkan keuntungan mengurangi 50 persen total emisi karbondioksida di tahun 2030.

"Contoh skenario terbaik adalah di India, yaitu bisa menghindari 93.000 kematian usia dini di tahun 2030 dibandingkan bila keadaannya dibiarkan."

"Di Uni-Eropa, 5.000 kematian bisa dihindari, dan di China angka itu bisa mencapai 57.000."


Sumber: Kompas.Com

Kecukupan Air Tinggal Separuh


JAKARTA, KOMPAS.com - Kecukupan air untuk berbagai keperluan penduduk di Pulau Jawa pada tahun 2025 diperkirakan hanya mencapai 320 meter kubik per kapita per tahun. Jumlah ini hanya separuh dari yang dibutuhkan sehingga akan terjadi tingkat kerawanan yang sangat parah.

Hal ini dikemukakan M Ikhwanuddin Mawardi dalam orasi pengukuhan sebagai profesor riset bidang hidrologi dan konservasi tanah pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Rabu (2/12) di Jakarta.

Selain itu, Netty Widyastuti juga dikukuhkan sebagai profesor riset BPPT untuk bidang bioteknologi umum dan Kardono sebagai profesor riset untuk bidang teknologi lingkungan.

”Penanganan krisis air perlu komprehensif,” kata Mawardi.

Dia mengemukakan, setidaknya ada delapan pokok pikiran sebagai langkah komprehensif untuk menangani persoalan krisis kebutuhan pokok masyarakat tersebut, di antaranya meliputi pelaksanaan dan pengawalan kebijakan nasional, seperti menetapkan tutupan vegetasi seluas 30 persen di setiap wilayah provinsi dan kabupaten.

Juga disarankan pengaturan jumlah dan distribusi penduduk di Jawa sebab pada tahun 2007 tingkat kepadatan penduduk di Jawa mencapai 864 orang per kilometer persegi atau 0,12 hektar per kapita, di bawah standar dunia yang disarankan 4,18 hektar per kapita.

”Sebanyak 81,1 juta penduduk pada tahun 2007 harus dikeluarkan dari Jawa kalau ingin memenuhi standar hidup nyaman,” kata Mawardi.

Tinggal 4 persen

Mawardi mengatakan, luas kawasan hutan atau tertutup vegetasi untuk setiap wilayah pemerintahan saat ini mencapai 18 persen, jauh dari ketentuan nasional 30 persen. Bahkan, Mawardi mengutip data Badan Planologi Departemen Kehutanan yang menyebutkan, berdasarkan hasil pengolahan citra satelit luas yang tertutup hutan di Jawa hanya tinggal 4 persen. Hal itu memengaruhi keberlanjutan sumber daya air.

”Menurunnya daya dukung sumber daya air harus diatasi dengan efisiensi penggunaan air,” kata Mawardi.

Beberapa contoh efisiensi penggunaan air adalah pola tanam pertanian tidak dengan pengairan sepanjang musim dan dengan daur ulang air irigasi pertanian. Penggunaan biotoilet atau toilet kering di tingkat rumah tangga bisa juga mengurangi jumlah penggunaan air.

Dalam pengukuhan sebagai profesor riset BPPT itu, Kardono menyampaikan orasi berjudul, ”Arah Pengembangan Teknologi Mitigasi Polusi Udara dan Gas Rumah Kaca di Indonesia”.

”Salah satu teknologinya, dengan menyimpan gas karbon dioksida bercampur air ke dalam tanah dengan tekanan tinggi, sekaligus menekan minyak agar keluar dari batuan. Upaya ini untuk memerangkap karbon dioksida,” kata Kardono.

Netty Widyastuti menyampaikan orasi berjudul ”Pengembangan Teknologi Bioproses Jamur Tiram (Pleirotus ostreatus) dan Jamur Shitake (Lentinus edodes) sebagai Sumber Gizi dan Bahan Pangan Fungsional.


Sumber: Kompas.Com

Bumi "Berumur Panjang" Jika Konsumsi Daging Dikurangi?


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Siapa menyangkal bahwa gas CO2 (karbondioksida) salah satu penyumbang besar pemanasan global? Siapa membantah bahwa konsentrasi gas CO2 terus bertambah? Tapi siapa yang tahu seberapa parah konsentrasi gas itu di atmosfer, dan sampai kapan bumi ini bertahan?

Coba simak laporan terbaru Lord Nicholas Stern (Ketua Institut penelitian Grantham Urusan perubahan iklim dan lingkungan di Inggris, juga profesor ekonomi, dan kepala ekonom di Bank Dunia). Lord Nicholas menyebut konsentrasi CO2 dan gas rumah kaca lain (atau diistilahkan CO2e) di atmosfer saat ini 435 part per million (ppm).

Sebanyak 77 persen gas rumah kaca di atmosfer, disumbang CO2. Metana 14 persen, dan N2O delapan persen. Kekuatan metana, sebagai informasi, 100 kali dampak CO2.

Padahal menurut laporan ilmiah dari National Oceanic and Atmosphere Administration (NOAA) di AS, November 2008 lalu, konsentrasi CO2e masih 385 ppm. Angka yang ini saja, menurut Science -jurnal imiah internasional- sebenarnya sudah angka tertinggi selama 650.000 tahun. Ppm ini, didefinisikan sebagai kepekatan gas yang memerangkap panasmatahari.

Mengutip pernyataan dari James Hansen, direktur NASA Godart Institute (divisi penerbangan luar angkasa), bila manusia berada di tingkat 450 ppm cukup lama, maka kemungkinan seluruh es di kutub akan mencair. Dan itu artinya air laut dunia naik 75 meter.

Para ilmuwan dunia memperkirakan rata-rata kenaikan level CO2e mestinya hanya 2 ppm per tahun. Itu artinya level CO2e pada November 2009 di atmosfer hanya 387 ppm.Tapi kenyataan, hanya setahun, level CO2e mencapai 50 ppm.

Kembali ke perkiraan James, pertanyaannya adalah: untuk sampai ke level 450 ppm, hanya perlu berapa tahun atau berapa bulan, atau berapa pekan, jika tak ada apapun usaha manusia mengurangi gas rumah kaca?

Dengan perkiraan ilmuwan NASA lainnya, Jay Zwally pada Desember 2007 lalu, es di kutub utara dapat habis di akhir musim panas 2012. Es itu berfungsi memantulkan 80 persen panas matahari. Tanpa adanya kutub, matahari akan masuk 90 persen ke bumi, jauh melebihi panas seharusnya yang mestinya hanya 20 persen.

Jay menegaskan bahaya serius kepunahan massal akibat pemanasan global yang tak terkendali. Jay mewakili NASA sudah "berteriak" dan itupun dua tahun lalu. Artinya, jika ditarik ke depan, melihat level CO2e yang meroket, bukankah masuk akal jika kecemasan Jay bisa terjadi lebih cepat.

Sekarang, coba kita cermati penyebab pemanasan global. Tahun 2006, FAO (badan di bawah PBB yang membidangi pangan dan pertanian) merilis laporan bahwa peternakan menyumbang 18 persen pemanasan global. (Sebagai perbandingan, gabungan semua moda transportasi di dunia hanya memberi kontribusi 13,5 persen).

Namun pada November 2009, dua ilmuwan bank dunia yakni Peter Goodland dan Jeff Anhang-dalam jurnal yang dikeluarkan World Watch Institute-merevisi angka 18 persen tadi, menjadi 51 persen. Dan itupun belum memasukkan perhitungan bahwa kekuatan metana 100 kali CO2.

"NASA, World Watch Institute, dan NOOA adalah institusi/lembaga profesional, independen, dan data datanya menjadi acuan banyak lembaga internasional. Mereka juga memakai data data dari lembaga terpercaya seperti FA0," ujar Agustinus Madyana Putra, pemerhati lingkungan yang juga dosen arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Lantas, apa solusi agar pemanasan global bisa diicegah? Dari data tadi, gampang ditebak, kita mesti mengurangi jauh konsumsi daging. Sehingga dampak peternakan berkurang, plus kita lebih sehat. Memang tentu saja, imbauan mengurangi daging tidak populer di Indonesia. Bahkan dianggap berlebihan. Tapi apakah kita ingin bumi ini rusak dan anak cucu kita terancam kehidupannya?

Pikirkan dampak peternakan dan daging, tak hanya semata menyorot dan berkomentar 'tanpa dasar' bahwa ini ulah kaum vegetarian dalam mendoktrin. Ini sudah tentang bahwa manusia harus melakukan sesuatu dengan tepat dan cepat agar anak cucu kita bisa mengenyam kehidupan indah di bumi. "Saya hanya mengatakan, kebiasaan makan daging berkorelasi erat dengan pemanasan global," kata Agus.

Agus berharap para ilmuwan, bahkan Presiden SBY mau menengok data data tersebut dan melakukan sesuatu, minimal imbauan mengurangi daging. Masihkah para ilmuwan Indonesia mengatakan bahwa peternakan negeri ini tak ada hubungannya dengan peternakan global, padahal semua manusia tinggal di bumi yang sama?


Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya

Sumber: Kompas.Com

Sabtu, 21 November 2009

Diluncurkan, Teleskop Ruang Angkasa Berinfra Merah


Sabtu, 21 November 2009

NASA berencana pada bulan depan akan meluncurkan teleskop ruang angkasa untuk memindai langit dengan cahaya infra merah sehingga bisa melihat benda langit yang terlalu redup, berdebu, atau jauh.

Itu disampaikan para manajer proyek senilai US$320 juta tersebut, di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (17/11). Wide-field Infrared Survey Explorer atau WISE diharapkan mampu mendeteksi ratusan ribu asteroid yang bersembunyi di kegelapan tata surya serta jutaan bintang dan galaksi yang lebih jauh.

Teleskop ruang angkasa akan dibawa ke orbit oleh roket Delta 2. Rencananya, launching WISE akan digelar di Vandenberg Air Force Base, California, Jumat (20/11), dan akan lepas landas pada 9 Desember.

Misi selama enam bulan tersebut untuk mengamati seluruh langit dengan radiasi infra merah. Cahaya ini tak terlihat oleh mata manusia. Karena dipancarkan dari bagian terdingin benda, sehingga terlewatkan oleh teleskop yang hanya peka oleh cahaya tampak.

"Kami berharap tentu melihat lebih banyak asteroid, bintang, dan galaksi lagi," kata Edward Wright dari University of California, Los Angeles, penyelidik utama misi.

"Tapi, sungguh saya akan terkejut jika saya tidak terkejut. Soalnya, kita akan menemukan hal-hal yang tidak seorangpun pernah membayangkannya," ujarnya.

Sumber: Media Indonesia

Sumur Zaman Mataram Kuno Ditemukan

Gerbang makam raja-raja Mataram di Kota Gede, Jogyakarta. Bagunan makam ini memperlihatkan perpaduan unsur Hindu dan Islam.


Jumat, 20 November 2009

SLEMAN, KOMPAS.com - Sebuah sumur yang diduga berasal dari zaman kerajaan Mataram Kuno, ditemukan warga di areal persawahan, Dusun Cibuk Kidul, Margoluwih, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta. Sumur itu diduga bagian dari pemukiman masyarakat kuno Mataram pada abad ke 7-8 Masehi.

Sumur itu terkubur sekitar satu meter di dalam tanah. Seorang warga bernama Parman, yang pertama kali menemukannya secara tidak sengaja saat menggali tanah liat untuk usaha batu batanya di lokasi tersebut, sekitar dua minggu lalu.

"Namun, dia tidak memberitahukan kepada siapapun soal penemuan itu, sampai kemarin," kata Ny Karsinah (58), pemilik lahan yang menyewakan tanahnya kepada Parman, ketika ditemui di lokasi, Jumat (20/11).

Sumur itu berdiameter sekitar 50 cm dengan kedalaman sekitar satu meter. Tak seperti sumur biasanya, pinggiran sumur itu berlapiskan gerabah, bahan yang biasa digunakan untuk membuat kendi. Di sekitar sumur juga ditemukan puluhan batu bata merah yang berukuran tiga kali lebih besar dari bata biasa dan dua arca kepala Nandi.

Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta Tri Hartono mengatakan dari dugaan sementara, kemungkinan besar sumur itu berasal dari masa klasik abad 7-8 Masehi, atau periode Kerajaan Mataram Kuno. Sumur itu diperkirakan bagian dari perkampungan masyarakat zaman tersebut.

Dugaan ini, lanjut Tri, diperkuat dengan banyaknya temuan arkeologis lain di sekitar Kecamatan Seyegan. "Namun, hal itu masih dugaan, hasil pastinya masih harus menunggu penelitian. Salah satunya yakni mencocokkan sumur itu dengan temuan-temuan arkeologis sebelumnya di sekitar lokasi," ujar Tri.

Sumber: Kompas.Com

Buaya Purba dengan Taring Babi Hutan, Gigi Tikus dan Moncong Lebar

Model Buaya Celeng (atas) dan fosilnya yang ditemukan di Sahara oleh tim Paul Sereno.

Jumat, 20 November 2009

WASHINGTON, KOMPAS.com – Sejenis buaya sepanjang 6 meter yang memiliki tiga pasang taring seperti taring babi hutan, pernah menjelajahi wilayah Afrika bagian utara jutaan tahun lalu. Pada masa yang sama, di tempat yang tak jauh, jenis buaya lain dengan moncong lebar dan datar hidup dengan berburu ikan. Masih di wilayah tersebut, jenis buaya lain sepanjang satu meter dengan gigi pengerat mencari ulat dan mengunyah tanaman.

Tiga spesies yang baru ditemukan fosilnya itu diperkenalkan oleh peneliti Paul Sereno dari Universitas Chicago dan Hans Larsson dari Universitas McGill di Montreal, Kamis (19/11). Mereka bicara dalam konferensi pers yang diselenggarakan National Geographic Society.

"Spesies-spesies ini membuka jendela mengenai dunia buaya di bagian utara benua itu," ujar Sereno tentang hewan-hewan yang hidup 100 juta tahun lalu itu.

Menurut para peneliti, buaya-buaya itu bisa bergerak lincah di daratan untuk mengejar mangsa dan menyelam di air. "Mereka memiliki kaki yang mampu digunakan berlari dan ekor yang bisa dipakai mengayuh di air. Kemampuan itulah yang membuat mereka bisa selamat di masa dinosaurus," papar Sereno.

Ketiga spesies yang ditemukan itu adalah:

Kaprosuchus saharicus, disebut juga "Buaya Celeng" ditemukan di Niger. Pemakan daging sepanjang 6 meter ini memiliki moncong yang berisi tiga pasang taring untuk memotong daging. Taring di rahang atas dan bawah itu mirip taring babi hutan, sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya pada buaya.

Araripesuchus rattoides, atau dijuluki "Buaya Tikus" ditemukan di Maroko. Hewan sepanjang satu meter ini makan ulat dan tanaman. Ia memiliki gigi seperti tikus di rahang bawahnya untuk menggali tanah.

Laganosuchus thaumastos, atau "Buaya Pancake" di Niger dan Maroko. Panjangnya sekitar 6 meter dan makanannya ikan. Hewan ini memiliki kepala datar seperti panekuk sepanjang satu meter dan gigi-gigi tegak di rahangnya. Diduga ia menangkap ikan dengan membuka rahangnya dan menanti ikan lewat.

Sebagai tambahan, para peneliti juga menemukan fosil dari dua spesies buaya yang telah dikenal sebelumnya, yakni:

Anatosuchus minor, alias "Buaya Bebek" yang ditemukan di Niger. Buaya sepanjang satu meter yang memiliki moncong lebar dan hidung mirip pinokio ini memangsa ikan, kodok, dan ulat. Ia memiliki sensor khusus di ujung moncongnya untuk mencari mangsa di perairan dangkal.

Araripesuchus wegeneri, atau "Buaya Anjing" ditemukan di Niger. Hewan sepanjang satu meter ini memakan tumbuhan dan memiliki hidung mengarah ke depan seperti hidung anjing.

Sereno fokus meneliti buaya purba di Gurun Sahara sejak ia menemukan fosil Sarcosuchus imperator, buaya sepanjang 12 meter yang diduga beratnya mencapai 8 ton dan kemudian dikenail sebagai "SuperCroc."

Sumber: Kompas.Com

Jemari dan Gigi Galileo Ditemukan Kembali

Jari Galileo Galilei yang disimpan di Istituto e Museo di Storia della Scienza di Firenze

Sabtu, 21 November 2009

ROMA, KOMPAS.com — Sebanyak dua ruas jari dan sebuah gigi, yang dahulu diambil dari jenazah Galileo Galilei di Basilika Florentina pada abad ke-18 dan telah dinyatakan hilang, kini ditemukan kembali dan akan segera dipamerkan. Demikian dikatakan seorang direktur museum Italia, Jumat (20/11).

Tiga jemari, satu ruang tulang belakang, dan sebuah gigi diambil dari jenazah sang astronom oleh sejumlah penggemarnya di tahun 1737, pada 95 tahun setelah kematiannya. Kala itu, jenazahnya sedang dipindahkan dari tempat penyimpanan ke makam monumen di seberang makam Michaelangelo di Basilika Santa Croce, Florence.

Satu ruas jari diketemukan tak lama setelah insiden itu dan kini menjadi bagian dari koleksi Museum Sejarah Ilmu Pengetahuan di Florence. Ruas tulang belakang yang juga ditemukan disimpan di Universitas Padua. Dulu, Galileo selama bertahun-tahun mengajar di tempat itu.

Namun, gigi dan dua jemari dari tangan kanan sang ilmuwan itu—ibu jari dan jari tengahnya—disimpan oleh seorang penggemarnya, seorang marquis Italia, dan kemudian disimpan dalam wadah yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam keluarga itu. Hal itu dikatakan Paolo Galluzzi, Direktur Musium Sejarah Ilmu Pengetahuan.

"Tapi seiring waktu, generasi mendatang keluarga itu melupakan isi sebenarnya dari wadah itu," menurut Galluzzi seraya menjelaskan bahwa kemudian mereka menjualnya. Tahun 1905, relikui-relikui itu telah raib tak berjejak, "sehingga para ahli berteori bahwa relikui-relikui itu telah hilang selamanya," begitulah pernyataan resmi museum itu.

Namun, wadah itu baru-baru ini muncul dalam suatu lelang dan dibeli oleh seorang kolektor pribadi yang tertarik pada isi dari wadah meski tak yakin bahwa itu sungguh memuat relikui Galileo.

Sang pembeli akhirnya menghubungi Galluzzi dan pejabat kultur Florence lainnya. Mereka mengacu pada dokumen sejarah secara detail, dan juga dokumen dari keluarga yang selama ini telah memiliki wadah itu. Kemudian disimpulkan bahwa jemari dan gigi itu memang milik Galileo. Demikian dikatakan Direktur Museum.

Semua relikui itu disimpan dalam vas gelas-tiup abad ke-18, yang juga disimpan dalam peti kayu bertatahkan patung sosok kepala Galileo.

Galileo yang meninggal pada tahun 1642 pernah dikecam oleh Vatikan karena menyatakan bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari. Ajaran gereja saat itu berpendapat bahwa Bumi adalah pusat dari jagad raya. Pada awal 1990-an, Paus Yohanes Paulus II merehabilitasi nama Galileo, dan mengakui kesalahan gereja.

Museum Sejarah Ilmu Pengetahuan Florence akan memamerkan jemari dan gigi tersebut pada musim semi mendatang.



Sumber:
http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/21/14071066/jemari.dan.gigi.galileo.ditemukan.kembali

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes